Vampire'S Secret Baby

Vampire'S Secret Baby
|132|. Dia Adalah Putri Mahkota Negri Ini



Egbert sedikitpun tidak memedulikan keributan tersebut. Dia pergi memanggil salah seorang pengawal bayangan dan bertanya dimana keberadaan istrinya. Pengawal bayangan itu mengatakan Annette telah pergi sejak tiga puluh menit lalu bersama madam Belinda.


"Salah seorang dari kalian mengikutinya?"


"Rekan kami melakukannya"


Egbert dapat lega mendengar itu, "Terus perketat pengawasan. Biarpun pria tua itu tidak akan sembarang mencari keributan, tapi kita tidak dapat lengah"


"Bawahan ini mengerti yang mulia"


Annette tidak dapat menikmati banyak dari hidangan tersebut. Dia hanya makan sedikit dan selebihnya ia minum segelas air putih dan pergi meninggalkan ruang makan. Ruang pesta terlalu membuatnya sesak, itu kenapa dia memilih pergi keluar dari istana. Berjalan-jalan di sekitar halamannya yang luas sambil memandang langit malam dan angin nya yang berhembus sejuk.


Kejadian hujanan panah hari itu tentu membuatnya agak takut jika pergi keluar seperti ini. Tapi mengingat ada pengawal yang berjalan beberapa langkah dibelakangnya, Annette berpikir untuk tidak perlu begitu khawatir.


Di pertengahan jalan sambil menikmati bunga-bunga yang baru mekar itu, Annette mendengar suara isak tangis seorang wanita. Annette langsung menghentikan langkahnya, "Kau mendengarnya?"


Annette yang sedang memegang kelopak bunga sedap malam itu menoleh kearah pengawal yang ada di belakangnya.


"Bawahan ini mendengarnya"


Annette ingin bertanya apakah itu suara seseorang atau hantu. Tapi dia takut pertanyaannya itu hanya akan membuatnya terlihat seperti lelucon. Hingga dia memutuskan mencari-cari kemana asalnya suara tangis itu. Matanya pun menatap terkejut ke arah air mancur. Di sana telah duduk seorang wanita yang terus menangis hingga membuat bahu kurusnya bergetar menyedihkan.


Annette mengangkat kakinya hendak kesana tapi...


"Maaf, anda tidak bisa pergi lebih jauh dari ini. Yang mulia berpesan pada saya untuk tidak membiarkan anda keluar dari istana terlalu lama.."


"Aku hanya pergi memeriksanya sebentar. Kau dapat terus mengawal ku seperti ini.." Setelah mengatakan itu Annette langsung pergi mendatangi gadis muda yang sedang menangis itu.


Clare sama sekali tidak menyadari kedatangan Annette. Dia hanya menunduk dan menangis terisak-isak.


Annette menoleh kearah pengawal di belakangnya, "Kau punya sapu tangan?"


"Di sini" Pengawal itu dengan sopan mengeluarkan sapu tangan dari sakunya, "Tapi ini adalah sapu tangan khusus yang diberikan yang mulia kepada saya untuk saya simpan, buat berjaga-jaga saat anda membutuhkannya"


"Aku membutuhkannya, cepat berikan saja padaku"


Pengawal itu tampak tak berdaya, hanya langsung memberikannya pada Annette.


Mengambil sapu tangan bewarna coklat itu, Annette langsung menghadap gadis yang sedang menangis itu dan mengulurkan tangannya ke depan, "Maaf, mengganggu..."


Mata Clare yang sudah basah dan sembab itu terkejut melihat sebuah sapu tangan di tujukan untuknya. Dia mengangkat kepalanya, hanya untuk lebih terkejut lagi, "A-anda..."


Annette tersenyum simpul, "Anda tidak dapat bertemu orang-orang dengan mata basah seperti itu. Saya harap anda tidak keberatan dengan sapu tangan yang saya berikan"


Clare mengedipkan matanya gugup. Pelan, ia mengulurkan tangannya dan menerima saputangan tersebut, "Terimakasih"


Egbert sudah mencari Annette ke dapur dan ruang makan. Tapi pelayan di sana mengatakan kalau Annette baru saja pergi keluar untuk mencari udara segar. Dengan begitu dia keluar hingga dari kejauhan dia melihat gaun merah Annette yang sangat mencolok. Secepat kilat dia pergi menghampirinya.


"Jika kau tidak keberatan, bolehkah aku du—"


"Kau disini"


Ucapan Annette langsung tertahan, mendapati lengannya di pegang oleh seseorang..


Annette terkejut, "Egbert, bagaimana bisa kau ada disini?"


Tidak..


Dari mana datangnya pria itu?


"Acara pentingnya sudah akan dimulai, ayo kembali kedalam"


Annette menoleh kearah air mancur dan tak lagi menemukan keberadaan gadis yang duduk dipinggiran sana sambil menangis tersedu-sedu, "Dia sudah pergi"


"Apa lagi yang kau tunggu? Ayo.."


Egbert menarik pergelangan tangan Annette dan secepat kilat membawanya pergi dari sana.


Di belakang pohon yang menjulang tinggi, Clare bersembunyi menatap pasangan yang baru saja pergi meninggalkan kawasan air mancur.


"Dia memanggil yang mulia begitu langsung dengan namanya?"


Mata Clare yang basah perlahan tersenyum.


"Yang mulia benar-benar sangat mencintai istrinya"


......................


Di lantai dua, Egbert berdiri sambil merangkul mesra pinggang Annette. Pasangan itu mengambil beberapa langkah mendekati pagar pembatas yang terbuat dari logam mulia dan hiasan kristal yang mengilap di bawah terpaan lampu kuning yang menyala di langit-langit.


"Malam ini saya akan umumkan kepada kalian semua..."


Kalimat itu langsung membuat detak jantung Annette menjadi cepat.


"Wanita yang telah berdansa dengan saya malam ini dan yang berdiri tepat di samping saya sekarang adalah istri sah saya"


Seruan ketidakpercayaan memenuhi aula pesta.


"Maaf karena saya baru saja mengumumkannya dan tentu saja itu karena beberapa alasan yang tak dapat saya beritahukan kepada kalian semua dengan begitu langsung mengingat ini adalah hal internal istana"


Jika sudah mengatakan hal internal istana, tidak ada satupun yang berani mempertanyakannya lagi. Karena di Merland, sekalipun bangsawan memiliki kuasa terhadap istana, tapi wewenang mereka sebatas pada hal-hal yang bersifat pemerintahan dan eksternal.


"Karena dia adalah istri sah saya, itu berarti dia adalah putri mahkota negri ini"


Berbagai keluhan dan penolakan terdengar dari para hadirin. Telapak tangan Annette yang dingin meremas gaun nya dengan perasaan tegang sampai ia merasa akan pingsan di tempat.


Egbert merasakan ketegangan wanita itu, dengan lembut mengambil tangannya dan mengecup punggung tangannya di hadapan semua hadirin. Itu adalah tindakan tegas atas sebuah penghormatan Egbert terhadap istrinya.


Sambil menatap mata Annette dengan tatapan yang dimiliki seorang kekasih kepada cintanya, Egbert berucap lantang, "Yang menentang kedudukan istri saya sebagai putra mahkota, itu berarti dia menentang saya. Mereka yang mengeluh, itu berarti mereka mengeluhkan saya"


Jantung Annette yang berdetak cepat, perlahan melambat. Serasa waktu di sekitarnya berangsur-angsur mulai berhenti.


Egbert kembali menghadap kan pandangannya ke arah para hadirin, "Jadi, apa masih ada di sini yang mengeluh dan menentang nya?"


Orang-orang kini semua memilih bungkam. Siapa yang masih berani melakukannya?


Melakukan kedua hal itu sama saja berarti mengeluh atau menentang yang mulia putra mahkota secara terang-terangan.


Egbert tersenyum puas.


"Dengan penyampaian berita besar ini, maka pesta malam ini berakhir. Kalian semua bisa menginap pada kamar-kamar yang sudah di siapkan istana buat kalian. Selamat beristirahat"


Mereka yang hadir telah melakukan perjalanan yang jauh. Ada yang telah melewati lima, tiga hari dan paling sedikit satu hari satu malam perjalanan. Itulah kenapa istana bulan merah yang besar telah menyiapkan tempat untuk mereka menginap.


Malam itu semakin membuat Annette terpukau, istana khusus untuk kediaman putra mahkota saja sudah sangat sebesar itu, bagaimana dengan istana kekaisaran?


......................