
Setelah mengantarkan Aldrich ke sekolah. Kembali ke rumah, Annette terus menjalani aktivitasnya sebagaimana ibu rumah tangga pada umumnya. Ia pergi mencuci piring, mengelap meja dapur dan menyapu dalam dan luar rumah. Lalu ia pergi mencuci baju dan menjemurnya. Hal tersebut Annette lakukan setiap hari, karena ia tidak mau pekerjaan rumahnya menumpuk.
Tepat pukul dua belas, Annette bergegas mandi dan bersiap-siap untuk menjemput Aldrich. Tak lupa ia mengenakan rambut wig hitam pendek untuk menyamarkan statusnya sebagai Annette— gadis manusia yang melarikan diri dengan membawa benih vampir bersamanya.
Sesampai di taman kanak-kanak, Annette melihat para orang tua sudah berkerumunan datang menjemput anak mereka. Setelah melongok ke kiri dan kanan, Annette mendapati Aldrich yang sedang duduk di ayunan sambil melamun. Awalnya ia ingin melambai kan tangan sambil berteriak memanggil naman putranya.
Tapi ketika Annette menyadari kemana arah Aldrich memandang, dirinya seketika terkedu di tempat. Objek yang sedang dipandang putranya itu tak lain adalah sepasang suami-istri yang datang menjemput putri kecil mereka.
Tampak sang ayah menggendong putrinya ke atas pundak dan sang ibu yang tersenyum manis memperhatikan kebersamaan keduanya.
Meskipun wajah Aldrich tampak acuh dan tak berekspresi dengan panorama tersebut, tapi Annette dapat merasakan kehampaan putranya itu. Yang mana jauh di hati kecilnya yang lugu, ia pasti mendambakan kehadiran sosok seorang ayah.
Annette dengan langkah pelan pergi menghampiri putranya, "Apa yang kau lihat?"
"Mama" Seru Aldrich. Yang seketika berpaling kearahnya dengan sejejak senyum lebar di bibir kecilnya.
"Apa mama terlambat?" Tanya Annette. Ia tersenyum manis mendapati putra kecilnya turun dari ayunan dan bergelayut manja ke sisinya.
"Tidak" Geleng Aldrich. Kepalanya bersandar manja ke perut sang ibu.
"Kamu sedang lihat apa tadi?" Tanya Annette, sekilas ia menoleh dan mendapati pasangan suami-istri tadi sudah lenyap dari sana.
"Ah, itu teman ku" Ucap Aldrich yang langsung di sambut sepasang alis Annette yang bertaut, "Teman mu?"
"Em" Angguk Aldrich, "Namanya Maribel"
"Aah.." Annette manggut-manggut, "Apa yang kamu lihat darinya sampai seserius itu?"
Apa itu gambaran keluarga lengkap yang harmonis?
"Wajahnya"
"Wajahnya?" Jawaban itu sangat tidak terduga.
"Eum" Angguk Aldrich. Kian membuat kening Annette berkerut dalam tak mengerti. Mendapati itu, Aldrich pun menjelaskan lebih jauh, "Di antara semua murid perempuan di sekolah, menurut ku dia yang paling cantik"
Pernyataan tersebut terang saja membuat sepasang mata Annette terbuntang lebar.
"Setelah melihat kedua orang tuanya secara langsung, aku mengerti kenapa. Itu tak lain karena perpaduan gen ibu dan ayahnya sehingga dia terlahir cantik begitu"
"Pftt.." Annette terang saja tergelak mendengar ucapan putranya itu. Padahal baru saja ia merasa sedih, berpikir Aldrich mendambakan sebuah keluarga yang lengkap. Tapi siapa yang mengira...
"Kenapa mama tertawa?" Tanya Aldrich dengan raut wajah bingung.
Annette berhenti tergelak dan menggelengkan kepalanya pelan, "Bukan apa-apa" Ujarnya dengan seulas senyum tak berdaya.
Putranya itu...
Sungguh tak terprediksi.
"Yasudah, ayo ma kita pulang!"
"Um, Ayo!"
......................
Malam harinya Annette merasa sangat gugup. Karena itu adalah malam pertamanya bekerja sebagai pelayan darah Egbert. Berdiri di depan cermin, Annette memastikan penampilannya apakah sudah terlihat rapi atau tidak.
Ia juga membenarkan tata letak rambut wig hitam pendek di kepalanya. Setelah ia rasa cukup yakin Egbert tidak akan mengenalinya, baru ia mengambil tas tangan putihnya dan keluar.
Seperti biasa, Aldrich kecil sudah berdiri di luar kamarnya dan menghadangnya untuk pengecekan.
"Sudah lengkap semua kan?" Ucap Annette, bibirnya tertarik keatas tersenyum lebar.
"Eum" Angguk Aldrich, yang langsung menepi untuk membiarkan ibunya lewat.
"Mama pergi dulu ya!" Seru Annette setelah mengenakan sepasang pansus hitamnya.
"Um, hati-hati maa" Aldrich memperhatikan ibunya yang sudah menutup pintu dan menguncinya dari luar.
Sebenarnya ia selalu merasa cemas setiap kali ibunya pergi bekerja malam dan pulang larut. Tapi melarangnya pun ia tidak berdaya. Ia hanya bisa tumbuh besar secepatnya untuk melindungi ibunya. Seperti yang ibunya katakan.
"Aku pasti akan segera dewasa, tumbuh kuat dan melindungi mu"
"Saat itu tiba.."
"Mama tidak perlu repot-repot bekerja lagi"
Sekitar dua puluh menit perjalanan dengan angkutan umum, Annette sudah tiba di depan bar malam gemintang milik Egbert. Masuk kedalam, ia langsung mendatangi lobi dan menghampiri letak lokernya.
Annette pergi berganti pakaian di ruang ganti dan langsung menuju ke lantai di mana ruang Egbert berada. Dalam perjalanan, ia tanpa sengaja berpapasan dengan Luke.
"Annette"
"Iya pak" Angguk Annette sopan.
"Aku sudah mendengarnya dari bos Egbert. Katanya kau akan menjadi pelayan pribadinya mulai malam ini?"
"Eum" Angguk Annette dengan seulas senyum.
"Kalau begitu bergegas lah, dia sudah menunggu mu di atas" Ucapnya dengan seulas senyum ramah.
"Baik pak"
Setiba Annette di depan pintu ruang Egbert. Ia mengetuknya pelan.
"Masuk"
Sambutan dingin itu membuat Annette sesaat mengatur nafas, membuka pintu dan masuk.
"Malam, tuan Egbert!" Sapa Annette sopan.
"Pergilah ke kamar mandi dan rendam tubuh mu dengan air hangat di bathtub"
"R-rendam? A-air hangat?" Bagaimana Annette tidak gelagapan di tempat. Ia baru saja datang dan pria vampir itu langsung saja menyuruhnya pergi ke kamar mandi untuk berendam.
"Teteskan ini ke dalam air" Alih-alih menjawab, Egbert malah menyerahkan satu botol antiseptik kepada Annette.
"Ini—" Annette mengedipkan matanya bingung.
"Aku akan meminum darah mu secara langsung. Itu berarti lidah ku akan bersentuhan dengan kulit mu"
Deg!
Mendengar itu terang saja daun te.linga Annette memerah panas.
"Jadi aku ingin kau benar-benar bersih" Ucapnya lagi. Sorot matanya dingin dan acuh seperti biasa.
"Ah, saya mengerti" Angguk Annette. Meremas jari-jemarinya, ia menekan rasa gugupnya dan bertanya, "Kalau boleh saya tau, di mana letak kamar mandinya?"
"Di sana" Egbert mengangkat kepalanya kearah sebuah pintu, "Masuk saja. Nanti kau akan mendapati sebuah kamar dan di dalam sana ada kamar mandi yang dapat kau gunakan" Ucapnya.
"Oh" Annette manggut-manggut mengerti dan langsung pergi ke pintu yang di maksud Egbert.
Pintu dibuka dan Annette melihat sebuah pemandangan kamar yang nyaman, lengkap dengan ranjang besar yang empuk menyambut retinanya. Ia tidak menduga akan mendapati kamar seluas ini di ruang kerja Egbert.
Seperti yang Egbert katakan, di dalam sana ada pintu menuju kamar mandi yang dapat ia gunakan. Annette pun masuk kedalam dan mulai mengisi air hangat ke bathtub. Tak lupa ia meneteskan cairan antiseptik dan kemudian menanggalkan bajunya.
"Hah, tidak ku kira akan se-merepotkan ini" Annette menghela nafas panjang dan pergi mencelupkan kedua kakinya kedalam bathtub dan berendam.
Sekitar lima belas menit ia berendam, ia membilas tubuhnya hingga bersih, mengeringkan tubuhnya dengan handuk yang kebetulan ada di kamar mandi dan terus berpakaian.
"Sudah selesai?"
Sekeluarnya dari kamar mandi, ia langsung di sambut dengan sepasang mata yang menatap membara kearahnya. Itu lapar dan haus.
Glek!
Annette menelan saliva nya, gugup menjawab, "Sudah"