
Percakapan panjang pun berakhir. Lampu telah di matikan. Meninggalkan secercah sinar rembulan yang menelusup melalui celah-celah penginapan. Tempat tidur itu cukup keras, Egbert tidak bisa merasa nyaman. Annette yang sudah terbiasa dengan kehidupan susah, mengganggap itu suatu hal yang sudah biasa.
Annette merasa itu adalah hari yang panjang. Segalanya berpacu begitu cepat dan mendadak. Mengerikannya, dia hampir mati terkena hujanan panah sore ini. Menggigit bibir bawahnya, Annette menatap langit-langit kamar. Matanya sedikitpun tidak mengantuk, memutuskan untuk berbicara. Dia tau Egbert yang berbaring di samping nya, masih belum tidur di sampingnya.
"Kau merasa tidak nyaman?"
Sudah berapa kali Egbert bolak-balik, menyamping ke kanan dan ke kiri, lalu berbalik dan terlentang. Entah berapa kali sudah Egbert mengulanginya.
"Ya. Kasur ini sangat keras" Egbert memukul ringan kasur yang berbahan dasar kapas itu.
Annette menyungging senyum kecil di bibir, matanya masih menatap langit-langit, "Seorang pangeran sepertimu, pasti saja tidak nyaman dengan kasur kapas seperti ini"
Egbert berbaring menyamping menghadap Annette, menopang kepalanya dengan tangan dan seperti itu dia memandang wajah Annette yang samar-samar masih terlihat jelas karena pencahayaan sinar rembulan dari luar.
Annette menyadari seseorang sedang menatap kearahnya. Dia pun ikut mengubah postur tidurnya, berbaring menghadap Egbert. Dalam sedikit sinar keperakan yang menyentuh ruang kecil itu, Annette dapat melihat mata dingin Egbert yang menatapnya tanpa emosi khusus.
Annette mengulurkan tangannya, mendarat di atas belahan wajah Egbert. Ia dapat merasakan betapa keras tulang pipinya, saat tangannya bergerak lembut mengelusnya, "Egbert.."
"Em" Dehaman itu terdengar lebih berat dari biasanya.
Annette bungkam beberapa saat, membiarkan tatapannya jatuh begitu jauh menjelajahi sepasang mata dingin Egbert dalam keheningan. Saat itu.. tangannya masih mengelus halus belahan wajahnya yang keras dan dingin.
Egbert dapat merasakan lembutnya tangan Annette yang terus menggosok belahan wajahnya. Sedikit kapalan di bagian atas telapak tangannya, seperti menggelitik pipinya halus setiap kali wanita itu terus menggosok. Egbert meneguk liur dan jakun nya yang bergerak naik turun. Jelas tindakan sederhana wanita itu, sedikit telah membangkitkan hasrat terdalamnya.
Mata Egbert pun seketika berkilat merah.
Sepasang mata Annette berkedip terkejut. Dia tidak tau kenapa mata hitamnya yang dingin tiba-tiba menyala merah, "Egbert.." Suara Annette terdengar sedikit bergetar.
Entah itu karena gugup atau takut.
Tapi yang pasti, di telinga Egbert itu begitu halus dan penuh godaan. Egbert bangun dari baringan, bergerak ke atas Annette dan menekannya. Nafasnya terdengar berat.
Jantung Annette berpacu, "A-ada apa? Apa kau tiba-tiba merasa haus?"
Sudah lama sekali Egbert tidak menggigitnya. Annette tidak dapat menahan diri untuk tidak takut membayangkan taring tajamnya akan menggigit lehernya keras.
Egbert bungkam. Matanya menatap ke sepasang bola mata Annette yang bergetar dalam keresahan. Dia dapat merasakan betapa keras jantung wanita itu bergetar hebat untuknya. Nafas lembut nya yang membelai wajahnya seperti bulu, begitu saja menggoda Egbert yang perlahan menurunkan kepalanya kebawah dan menekan bibir lembutnya.
Bola mata Annette membesar dalam kejutan. Saat ciuman itu bergerak semakin dalam, Annette perlahan memejamkan matanya. Mengikuti naluri nya, begitu saja ia membuka mulutnya dan membiarkan Egbert menjelajahinya lebih jauh. Esensi dingin dan manis, bercampur baur. Tapi tak ada sentuhan emosi yang mengalir. Merasakan itu, Annette sedikit merasa pahit dalam hatinya.
Egbert melepaskan tautan bibirnya dan menatap kebawah dengan tatapan gelapnya yang membakar. Dia dapat melihat bibir bengkak Annette yang memerah basah dan keseluruhan wajahnya yang bersemu merah menggemaskan bagai buah persik.
Gerakan dada wanita itu yang naik-turun entah karena gugup atau gelora yang berpacu kala berciuman tadi, dia dapat merasakannya dengan jelas. Itu mendorong Egbert untuk kembali menciumnya dalam dan dalam.
"Egbert..haa.." Annette menekan dada keras Egbert dengan nafas terengah-engah.
Egbert menjatuhkan kepalanya ke atas tulang selangka Annette dan menidurkan kepalanya dengan manja di sana. Aroma lembut vanila dari kulitnya, menguasai penciuman Egbert setiap kali menarik nafas.
Tangan Annette pun jatuh ke bawah meremas kain seprai, merasakan beban tubuh Egbert yang menimpanya, itu cukup berat nyaris membuatnya sesak. Mulutnya terbuka beberapa saat, ingin mengeluh. Tapi lidahnya begitu kelu mengatakannya. Saat Annette merasa tak ingin membiarkan tubuh pria itu menjauh darinya.
Tangan Annette pun bergerak ke atas, mengusap lembut kepala Egbert, "Egbert.."
Entah berapa kali sudah Annette memanggil namanya malam itu.
"Em"
Egbert lagi-lagi menyambut dengan dehaman yang sama.
Annette menurunkan tatapannya ke bawah, berusaha melihat wajah tampan Egbert yang tenggelam di sekitaran tulang selangka nya, "Apa kau mencintaiku?"
Seluruh otot tubuh Egbert seketika berada dalam ketegangan. Annette dapat merasakannya dengan jelas.
"Lima tahun lalu..a-aku.. pernah mencintaimu dan sekarang aku sadar..aku masih mencintaimu"
Egbert memejamkan matanya dan mengulum rapat bibirnya kedalam. Mendapati tekanan emosional yang bergolak dalam dirinya mulai menekan dalam kekacauan.
"A-aku ingin tahu..apa kau juga mencintai ku?"
Egbert bangkit dari tubuh Annette dan bergegas duduk di pinggir. Gerakannya yang mendadak itu membuat Annette bangun dan duduk, "Egbert, ada apa?"
Karena gelapnya ruang, Annette hanya dapat melihat jejak wajah Egbert yang seperti gusar dan resah. Tapi matanya tak sampai menemukan titik-titik keringat dingin yang membasahi pelipisnya.
Setiap kali Annette menanyakan perasaan pria itu terhadapnya, Egbert selalu merespon hal yang sama. Dan Annette, kesekian kalinya menelan rasa pahit yang sama pula, "Jika kau memang tidak mencintaiku, maka katakan saja begitu. Jangan menggantung perasaan ku seperti ini.."
Suara Annette yang penuh keluhan dan sarat akan kesedihan itu dapat Egbert dengar dengan jelas.
"Aku tidak tau" Akhirnya Egbert bersuara.
Bulu mata Annette berkibar dan menatap lurus kearah Egbert, "Bagaimana bisa kau tidak tau? Kau hanya perlu merasakannya dan jawab apa itu iya atau tidak.."
"Bisakah kau berhenti menanyakan hal ini? Apa itu sepenting itu bagimu sampai kau menanyakan ku hal ini berkali-kali?" Suara Egbert terdengar marah dan tak sabar.
Annette menggigit bibir bawahnya, merasa masam, "Tentu saja itu penting untukku. Menurut mu apa ada di dunia ini seorang istri yang dapat menerima fakta suaminya tidak mencintai dirinya?"
"..."
"Jika pun ada mereka berbohong. Mereka telah berdusta pada perasaan mereka sendiri yang sebenarnya. Mau itu wanita manusia atau vampir sekalipun— aku yakin...jauh dari hati mereka yang paling dalam.. mereka tak dapat menerimanya.."
Annette menekan dadanya yang berdenyut sakit. Matanya berkedip saat merasakan itu mulai terasa memanas dan air mata perlahan mulai menggenangi pelupuknya, "Jadi ku mohon..tolong jawab aku..apa kau mencintaiku, hum?"