Vampire'S Secret Baby

Vampire'S Secret Baby
|43|. Aroma Darah Yang Tak Asing



Pagi harinya Egbert sudah duduk di ruang makan istananya. Para pelayan nya telah berjejer rapi di kedua sisi meja untuk melayaninya sarapan. Sebuah gelas di letakkan di atas meja tepat di depannya dan salah seorang pelayan maju menuangkan darah segar kedalamnya.


Belinda yang berdiri tepat di samping Egbert duduk, menjelaskan jenis darah yang baru saja di tuangkan.


"Yang baru saja dituang kan adalah darah kelinci Flemish Giant. Jenis kelinci pedaging yang baru-baru ini dibudidayakan di desa subur. Akhir-akhir ini banyak dari kalangan bangsawan yang tertarik mencoba darahnya yang katanya cukup nikmat jika dicampur dengan wine" Terang Belinda.


Atas permintaan Egbert, semalam ia sudah sibuk mendata tempat-tempat yang membudidayakan kelinci di negerinya. Ia pun berusaha keras dengan Helio bagaimana membuat berbagai jenis kelinci yang mereka pesan itu harus datang sebelum matahari terbit di ufuk timur.


Egbert mengangkat gelas dan memperhatikan cairan merah kental didalamnya yang tampak jauh lebih pekat. Tepat ketika ia menyesapnya sedikit kedalam mulut, sepasang alisnya terus bertaut tak suka, "Buruk sekali"


Egbert langsung meletakkan gelas itu keatas meja, enggan menghabiskannya.


"Rasanya terlalu pekat dan pahit, jika di campur dengan wine itu hanya akan memperburuk rasanya. Aku tidak mengerti kenapa mereka dapat mengatakan ini enak" Sepertinya lidah bangsawan di negerinya tidak lah sekelas dengan lidahnya yang lebih mengutamakan kualitas dan cita rasa yang berkelas.


"Ganti!"


"Baik yang mulia" Angguk Belinda. Ia pun langsung mengirim kan sinyal kepada pelayan kedua untuk maju menuangkan darah kelinci berikutnya.


"Yang berikutnya adalah darah kelinci Chinchilla mini. Sama seperti tadi, ini juga jenis pedaging. Jika yang sebelumnya di gemari para bangsawan, yang satu ini sangat laris di kalangan rakyat biasa karena harganya yang terjangkau" Papar Belinda. Sebenarnya ia tidak tertarik membeli jenis tersebut, karena ia berpikir rasanya kurang pantas memberikan sesuatu yang murah untuk seorang putra mahkota.


"Ini jelas bukan kualitas premium, kenapa madam masih memberikannya padaku?" Beruntunglah itu Belinda, salah seorang yang sangat di hormati nya. Mungkin jika orang lain yang melakukan hal tersebut, tanpa basa-basi lebih jauh ia akan menyingkirkan gelas yang berisi darah rendahan itu dari pandangannya.


"Saya juga awalnya berpikir begitu. Tapi tidak ada salahnya jika anda mencobanya yang mulia. Mengingat sejak semalam, tidak ada satupun darah kelinci yang dapat memuaskan lidah anda"


"Eum" Egbert mengangguk mengerti. Ia pun meraih gelas tersebut dan meminumnya. Rasanya tidak begitu pekat, namun antara manis dan asam, itu jatuhnya lebih ke hambar.


"Ganti!" Egbert meletakkan gelas itu ke meja dan Belinda langsung mengirimkan sinyal untuk pelayan berikutnya maju mengambil gelas dan menggantinya dengan yang baru.


"Yang berikutnya adalah darah kelinci Jersey wooly. Berbeda dengan yang sebelumnya, jenis ini bukan pedaging. Melainkan kelinci hias yang dijadikan salah satu peliharaan terbaik di negri manusia. Hampir di semua restoran bintang lima negri Merland menjadi kan darahnya sebagai kualitas premium tingkat A"


Jika itu tidak dapat memuaskan lidah Egbert, maka Belinda sungguh tidak tau harus mencari darah kelinci apa lagi yang dapat memenuhi standar kelezatan Egbert.


Egbert mengangkat gelas tersebut dan mencicipinya. Rasa asam dan manis nya yang pas nyaris sedikit mirip dengan darah kelinci hutan yang ada di peternakan istana, "Apa tidak ada yang lebih baik dari ini?"


Belinda beberapa saat ter-pelongo di tempat. Sungguh yang satu itu juga tidak dapat memuaskannya?


"Yang mulia, itu adalah yang terakhir" Dalam waktu semalam mereka hanya dapat menyiapkan tiga jenis tersebut. Berharap dari ketiga kelinci tersebut ada satu darahnya yang dapat memenuhi ekspektasi Egbert. Tapi tidak ada ketiganya yang lulus.


"Sepertinya aku sudah mulai bosan dengan darah kelinci" Ucap Egbert kemudian.


"Kalau begitu, saya akan mencoba mencari darah binatang lainnya untuk anda dengan kualitas premium tingkat A. Mulai dari darah rusa, rubah, dan bahkan harimau, saya akan mencoba mencari yang terbaik untuk anda yang mulia"


"Tidak sama sekali yang mulia" Jawab Belinda dengan etiket yang cukup santun, "Melayani anda adalah kebahagiaan tersendiri untuk saya"


Ketulusan itulah yang membuat Egbert sangat menghormati dan menyayangi wanita paruh baya itu. Terakhir Egbert hanya tersenyum dan pergi meninggalkan meja makan tanpa berkeinginan melanjutkan sarapannya pagi itu.


Kembali ke dunia manusia, ia segera menghubungi Sean untuk menjemputnya. Karena di hutan sama sekali tidak ada jaringan, Egbert pun berlari ke luar hutan hingga sampailah ia di desa manusia. Di sana sudah terdapat sinyal walau sedikit buruk, tapi setidaknya ia berhasil menghubungi Sean.


Saat itu Sean dalam kondisi mengajar di kelasnya. Tapi mendapati itu panggilan dari Egbert, mau tak mau ia harus permisi keluar untuk mengangkat telepon.


"Aku sedang mengajar sekar—"


"Jemput aku!"


Tap!


Sean bahkan tak punya waktu untuk kesal tapi panggilan sudah di akhiri sebelah pihak begitu saja.


"Hah, kebiasaanya buruk sekali!"


Egbert memasukkan ponselnya ke dalam saku mantel hitamnya. Mengangkat pandangannya, retinanya langsung menangkap sebuah rumah yang ukurannya lebih besar dan desainnya jauh lebih mewah dari rumah lainnya yang ada di desa itu.


Itu tak lain adalah rumah dinas tempat Parker dan Annette tinggal.


Parker sudah pergi ke rumah sakit dan Annette tinggal seorang diri di rumah itu. Ia duduk di sofa sambil memangku bayi mungilnya yang menangis. Annette tersenyum sambil mengusap lembut pipi bayinya, "Apa kau haus hum?"


Annette bersyukur dapat dengan mudah beradaptasi mengurus bayinya itu. Mungkin jika tidak ada bantuan dan dukungan dari Parker, bukan tak mungkin ia akan terjangkit sindrom baby blues.


"Cup.. cup.. sebentar yaa" Ucap Annette yang mencoba mendiamkan bayinya yang merengek.


Kemudian ia mengambil salah satu jarum perak yang ada di kotak. Parker yang menyiapkan jarum tersebut dan semuanya telah di sterilkan. Katanya akan jauh lebih aman ketimbang menggunakan pisau yang bisa saja meninggalkan bekas luka dan infeksi.


"Kak Parker memang perhatian sekali" Annette tersenyum manis sambil menusuk jari telunjuknya dengan jarum. Darah segar pun tampak memancar sedikit. Annette menggigit bibir bawahnya menahan nyeri ketika menekan jari telunjuknya agar darahnya keluar lebih banyak.


Saat itu Egbert yang berada hanya beberapa meter dari kediaman yang Annette tempati sekarang. Penciumannya yang tajam dapat merasakan jejak aroma darah yang sangat tak asing dan khas.


Itu manis seperti ceri segar yang meninggalkan rasa asam yang samar, rasa yang mengalahkan kualitas darah binatang premium manapun. Aromanya pun pekat seperti besi yang terkena tetesan hujan, esensinya tajam namun sangat memanjakan hidung.


"Kenapa aroma darah ini rasanya tidak asing sekali?"