
Egbert menarik tangan Annette, pergi membawanya ke lantai atas. Ketika menaiki anak tangga, Annette sangat kewalahan mengejar kaki panjang Egbert yang bergerak begitu cepat. Pria egois itu tidak memikirkannya sama sekali yang sudah beberapa kali tersandung nyaris saja terjatuh.
"Egbert, kau ingin membawa ku kemana?"
Annette memiliki firasat buruk. Tapi mengingat saat ini ia adalah ibu dari putra vampir nya...
'Dia pasti tidak akan berbuat sesuatu yang buruk padaku bukan?'
Egbert tidak menjawab. Menyeret Annette pergi hingga ke hadapan sebuah pintu.
Jantung Annette berdetak cepat, "K-kau, ingin berbuat apa?"
Melihat tangan Egbert yang memegang gagang pintu dan menariknya kebawah, mulutnya yang bungkam rapat enggan mengucapkan sepatah katapun untuk menjawab.
Annette meremas jari-jemarinya gugup,
'Oh tidak, apa dia berpikir untuk mengurungku?'
Perasaan itu membuat Annette siap menarik tangannya dan berlari. Tapi Egbert dengan cepat mencekal lengannya, membuatnya hanya bisa diam di tempat.
"Masuk!" Egbert mendorong pintu terbuka.
Ruangan yang luas dengan estetika dingin menyambut retina Annette. Di dalam sana lumayan gelap, hanya ada secercah cahaya kuning dari lampu tidur yang menerangi.
Sepasang kaki Annette menancap keras di lantai, jelas ragu untuk pergi. Tapi di bawah tatapan tajam Egbert, ia menghela nafas berat dan masuk.
Segera setelah ia berada di dalam, Egbert menutup rapat pintu. Annette mendengar bunyi klik-klik—langsung tau kalau pria itu sudah mengunci rapat kamar ini. Alarm yang membuatnya tersadar, 'Sepertinya dia benar-benar mengurung ku di sini'
Sepasang bahu Annette terjatuh, kepalanya pun tertunduk pasrah.
Terdengar seseorang menekan saklar dan ruangan seketika menjadi benderang dengan cahaya putih dari lampu kristal yang bergelantung di langit-langit kamar.
Tidak!
Itu terlalu mewah untuk sebuah kamar yang hanya digunakan sebagai tempat untuk tidur.
Annette mengangkat kepalanya dan mengedarkan pandangan ke sekeliling . Ia melihat karpet merah gelap yang lembut tergelar di lantai. Itu membawa sedikit perasaan mistis yang berdarah.
Ranjang dengan tiang emas dan kelambu putih. Menciptakan suasana kamar seorang raja yang kesepian. Dinding-dinding yang berlapis kan bubuk emas, memberikan sentuhan kemewahan yang jumawa.
Empat lampu tidur yang bergelantung pada setiap sudut dinding, mungkin akan sedikit horor jika menyala bersama tirai putih jendela yang bergerak-gerak tertiup angin.
Annette memeluk tubuhnya takut, "Egbert"
"Em"
"A-aku tau aku salah. T-tapi, bisakah kau tidak menghukum ku dengan mengurung ku di tempat ini?" Annette menggigit bibir bawahnya, setengah bergidik dengan kamar yang lebih mirip seperti tempat lokasi shooting film horor.
"Lalu jika tidak menghukum mu, apa kau mengharapkan ku untuk memaafkan mu, begitu?" Egbert menaikkan salah satu alisnya, acuh.
Annette menarik kedua sudut bibirnya, deretan gigi putihnya berjejer dengan seulas senyum, "Tidak bisakah kau?" Tanyanya. Suaranya terdengar menciut.
"Tidak!"
"Egbert" Gerutu Annette marah.
Pria busuk itu, apa yang bisa diharapkan? Ia sudah tersiksa dengan segala penderitaan lima tahun belakangan ini, tapi tidak ada sedikit pun kelembutan dari matanya yang sedingin es kutub selatan.
"..."
"Lima tahun yang lalu, menurut mu jika bukan karena dirimu, apa aku akan melarikan diri huh?"
"Apa maksud mu?" Mata Egbert menyipit dalam.
"Kau jelas-jelas tidak peduli dengan hidup dan mati ku, jadi buat apa aku bertahan hanya untuk melahirkan benih mu?"
"..."
Ucapan itu membawa nya dalam memori lima tahun silam. Ketika tubuh lemahnya berbaring di atas ranjang antara hidup dan mati. Telinganya mendengar sesuatu yang langsung mengiris hatinya hingga menjadi potongan tak berbentuk.
"..." Egbert hanya diam dengan bibir terkatup rapat. Menanti Annette yang melupakan emosi kesedihan dan keterpurukannya.
"Kau jelas-jelas berucap— Saya tidak peduli dengan kehidupan gadis itu karena yang saya butuhkan hanya bayi dalam perutnya" Mengucapkan kalimat itu, Annette kembali merasakan rasa sakit yang sama dengan yang dialaminya lima tahun silam.
Masa terkelam dan terburuknya dalam hidup.
Masa yang telah mengacaukan segala kedamaian dan mendorongnya jatuh ke jurang kehancuran hingga tak berdasar.
"K-kau— tidak!" Annette menggeleng dengan senyum kecut, "Itu adalah aku" Annette menekan dadanya, merujuk dirinya yang terluka, "Aku yang begitu bodoh sehingga terbuai begitu mudah dalam tipu muslihat mu"
"Lalu..." Akhirnya Egbert bersuara.
"Apa yang terjadi setelah kau melarikan diri? Kau berpikir untuk mengugurkan anak ku, begitu?"
Annette meremas jari-jemarinya, mengangguk, "Em. Awalnya aku berpikir untuk menggugurkannya bersama ku"
Rahang Egbert mengeras, "Apa maksud mu?"
"Maksud ku, lima tahun lalu itu aku sempat berpikir untuk melompat dari atap rumah sakit dan mati"
"..." Mata Egbert membelalak, sekilas menyala merah dengan jejak kemarahan samar.
"Tapi seseorang datang menahan tindakan ku.." Mengatakan itu, tanpa sadar bibir Annette melengkung sedikit dengan senyuman. Mengenang seorang dokter muda tampan yang berhati malaikat— yang karenanya ia hari ini masih berdiri dan hidup bersama seorang putra yang tampan.
'Seperti apa kabarnya sekarang?'
'Aku masih menyesal karena lima tahun lalu aku pergi begitu saja tanpa mengucapkan terimakasih'
"Siapa seseorang itu? Apa dia juga vampir seperti ku?"
Pertanyaan yang meluncur dari mulut Egbert itu langsung membuat dahi Annette berkerut.
"Dan bayi yang kau katakan adalah putra ku, apa itu sebenarnya milim vampir yang menyelamatkan mu?"
"Kenapa kau berpikir begitu?"
"Ya kenapa lagi?" Egbert membalik kan pertanyaan dengan senyum mencemooh, "Aku tidak melihat sedikitpun kemiripan antara aku dan Aldrich, terlebih lagi rambut kuning jagung nya itu..."
"..." Mata Annette siap memanas, mengerutkan pangkal hidung asamnya dengan perasaan kecewa.
"Dari mana lagi itu berasal jika bukan dari ayahnya yang jelas-jelas itu bukan aku" Egbert menunjuk rambut kepalanya yang bewarna hitam pekat seperti tinta tumpah.
Annette mengambil beberapa langkah ke depan dan...
Plak!
Telapak tangannya terasa terbakar dan mati rasa dalam kesemutan. Jelas ia baru saja memberikan tenaga yang begitu kuat ketika menampar pipi Egbert yang bersuhu rendah.
Kedua tangan Egbert terkepal, "Kau berani menampar ku?"
"Kau pantas menerimanya!" Lancang Annette menjawab.
"..." Mata hitam Egbert yang berkilat merah, bergetar menahan amarah.
"Kau bajing*n—" Annette menekan jari telunjuknya ke dada Egbert dan bibirnya yang mulai terisak berucap, "Kau adalah bajing*n di antara bajing*n , yang paling tidak ingin ku temui!"
Tapi kenapa?
Tidak itu lima tahun yang lalu..
Dan tidak pun sekarang.
Kenapa takdir selalu membuatnya bertemu dengannya?