
"Menantikan darah lezat ku lagi katanya?" Annette membuka pintu loker dengan mulut yang menggerutu kesal, "Hah, dia benar-benar menganggap aku ini bank darah nya" Setelah mengambil barang-barang nya, ia dengan membanting keras pintu loker.
Kemudian ia pergi ke ruang ganti untuk berganti pakaian. Ia cukup kesulitan melakukannya, mengingat ada luka yang masih basah di tangan kirinya. Itu membuatnya sesekali mengiris dan se-pelan mungkin menanggalkan seragam pelayannya. Jika biasanya ia hanya butuh waktu lima menit untuk berganti pakaian, tapi itu membutuhkan waktu sekitar delapan menit.
Setelah berpakaian rapi dengan setelan blus polos nya, Annette pun beranjak keluar.
Di pertengahan lorong ketika ia hendak memasuki lift, langkahnya sesaat terpaku dengan seorang wanita anggun yang muncul di penghujung jalan. Gaun hitam konservatif yang meluncur indah hingga ke tungkai kakinya yang menawan, Annette yang sebagai seorang wanita pun tak dapat mengalihkan pandangannya dari keindahan objek satu itu.
Kulit putihnya yang mulus, tampak berseri di bawah pantulan cahaya lampu. Menjadikan wujud nya bagai seonggok mutiara yang sedang berjalan. Semakin dekat wanita itu melangkah ke depan, wajah cantiknya kian jelas. Membuat Annette terkesima dengan aura kuat wanita itu.
'Dia seorang aktris kah?'
'Aah, cantik sekali!'
Tak..
Tak..
Tak..
Bunyi hentakan langkah kaki dari sepasang higheels yang terus beradu di lantai lorong. Itu menggema dalam lorong yang hening. Hingga kedua kaki jenjang nan cantik itu berhenti berjalan dan berdiri tepat di hadapan Annette.
"Permisi" Emma melebarkan kedua sudut bibirnya, mengulas senyum sopan pada gadis manusia yang berdiri di depannya dengan ekspresi wajah ter-pelongo, "Aku tidak melihat seorang pelayan pun di sini, apa kau tau mereka ada di mana?"
Annette terus menyadarkan dirinya yang entah berapa lama termangu diam karena terjerat wajah cantik nan menawan itu, "Ah, maaf, anda tadi bertanya apa ya?"
Emma membungkus senyum rapat di bibir dan berucap, "Aku sedang mencari seorang pelayan, di mana aku dapat menemukannya?"
"Ah, kebetulan saya adalah pelayan di sini. Kalau boleh saya tau, apa yang anda butuhkan? Barangkali bisa saya bantu" Tutur Annette, dengan senyum murah hatinya.
Emma beberapa saat terdiam. Aroma yang sangat menggiurkan insting vampir nya begitu saja menguar ke udara dan datang mengetuk indra penciumannya. Ia bertanya-tanya di mana datangnya itu, hingga tatapannya jatuh pada tangan gadis manusia di depannya itu yang di balut dalam kain kasa tapi masih ada noda darah yang menembus ke permukaan putihnya.
'Ah, ternyata dari sana aroma lezat ini berasal'
'Aroma darah manusia memang sangat menggoda'
Kalau bukan karena ia memiliki kontrol dan kendali yang kuat dalam dirinya. Mungkin sekarang ini matanya akan menyala merah dengan sepasang taring yang mencuat siap menyantap hidangan lezat di hadapannya itu.
Annette mengerutkan keningnya bingung melihat wanita cantik di depannya itu malah tenggelam dalam lautan pikirannya.
"Maaf.." Annette melambai kan tangan nya ke arah wajah cantik itu dan Emma pun terperanjat dari lamunan.
"Aah, bisa kau antar kan aku ke ruang bos kalian?" Ucap Emma kemudian yang langsung menyatakan niat tujuannya.
"Apa yang anda maksud adalah tuan Egbert?" Tanya Annette untuk lebih memastikan.
"Em" Angguk wanita anggun itu.
Membuat Annette merajut sepasang alisnya dan berpikir, 'Apa hubungan wanita itu dengan Egbert?'
'Melihat kulit putihnya yang pucat dingin seperti tanpa darah..'
'Apa dia vampir?'
"Jadi, bisakah kau mengantarkan aku ke sana sekarang?"
"Ah, baik" Angguk Annette. Walau sebenarnya ia agak malas jika harus kembali ke ruangan yang seperti neraka itu. Tapi karena tak tega menolak permintaan wanita cantik di depannya, alhasil ia hanya mengorbankan dirinya untuk lebih berlapang dada dan sabar.
Mereka pun masuk ke dalam lift dan Annette langsung memencet tombol lantai yang hendak ditujunya. Hingga pintu lift terbuka, mereka pun akhirnya sampai di lorong menuju ke ruangan pribadi Egbert.
Berdiri di depan pintu, Annette dengan sopan mengetuk.
Di dalam sana Egbert sedang duduk di meja kerjanya memperhatikan hasil laporan keuangan bar dari dua bulan ke belakang.
Mendengar suara ketukan di pintu, ia langsung menduga kalau itu adalah Luke. Karena tidak ada yang dapat mendatangi ruang kerjanya kecuali Luke dan gadis pelayan bar yang berganti status menjadi pelayan darahnya. Tapi ia yakin tak mungkin itu akan menjadi gadis pelayan pribadinya karena gadis itu sudah pulang.
"Masuk"
Mendapatkan satu kata itu dari dalam. Annette menarik dan menghela nafas pelan dan kemudian membuka pintu dan masuk.
"Tuan Egbert" Pamggil nya.
Membuat Egbert mengangkat pandangannya dari dokumen di tangannya, "Itu kamu" Ucapnya dengan dahi berkerut terkejut.
"Ada apa kau kembali?"
"Ah, itu saya mengantar kan seseorang kemari yang katanya ingin berjumpa dengan anda" Ucap Annette dengan senyum gugupnya.
"Siapa?"
"Itu—"
Belum selesai Annette menjawab, sebuah suara derap langkah kaki datang mendekati pintu dan dengan jumawa nya masuk kedalam.
"Lama tidak bertemu pangeran ku" Berdiri dengan berani dari garis sudut horizontal yang menghadap tepat ke Egbert, senyum mengambang di wajah wanita itu setelah suara merdunya memecah keheningan ruangan.
'Pangeran ku?' Annette mengerutkan keningnya mendengar sapaan wanita itu untuk Egbert.
"Apa kau merindukanku?" Kalimat lainnya meluncur dari mulutnya, nada suaranya yang tenang samar-samar menunjukkan jejak keintiman.
Annette yang berdiri di tengah garis horizontal itu, dapat merasakan suasana yang mendadak menjadi tegang. Memeluk tubuhnya, ia seperti merasakan temperatur suhu ruangan menurun drastis— itu dingin dan mencekam.
Annette menoleh kearah Egbert dan mendapati wajah tampan itu yang membeku bak es batu— yang siap pecah berkeping meluluh lantakkan kemarahan yang tertahan.
'Situasi menegangkan apa ini?'
'Ah, sebaiknya aku keluar saja' Putusnya dalam hati yang malas terlibat konflik dua orang tersebut.
Tapi tepat ketika ia hendak melangkah menuju pintu, suara dingin Egbert langsung mencegat nya, "Berhenti!"
Annette dengan sangat terpaksa menghentikan langkahnya.
"Bawa wanita itu pergi keluar!" Titah Egbert.
Membuat Annette membelalak kan matanya kaget, 'Loh, bukannya mereka saling mengenal?'
"Lain kali jangan membawa sembarang orang masuk ke ruangan ku" Ucap Egbert lagi seraya menatap tajam Annette.
Mendapati itu Annette terus gelagapan di tempat dan spontan mengangguk cepat, "B-baik"
"Apa kau harus seperti ini padaku?"