
"Kita sudah sampai?" Annette bertanya pada Egbert dan kemudian melongok kan kepalanya keluar jendela. Dia dapat melihat sebuah pemandangan gedung-gedung besar dengan masing-masing warna merah, biru dan hijau dari kejauhan.
Tempat itu sepertinya sangat luas. Ada tembok besar yang menutupinya dengan pagar hitam besi polos menjulang tinggi ke atas. Seseorang pasti akan berpikir dua kali untuk memanjat.
Menoleh kan pandangannya ke sekeliling, mata Annette di sambut dengan pemandangan hijau pegunungan dan pepohonan besar yang rindang. Angin bertiup dan helaian rambut hitam wig di kepalanya, bergerak tersapu.
Annette menarik nafas, merasakan udara segar yang begitu menyejukkan, "Untuk apa kau membawa ku kemari?"
Annette kembali duduk lurus menghadap Egbert yang sedari tadi belum menjawab pertanyaannya.
"Kau tunggu lah sebentar disini. Aku akan pergi mengambil sesuatu" Selesai mengatakan itu, Egbert melompat turun dari kereta kuda.
Annette mengedipkan matanya bingung, "Memangnya dia mau pergi mengambil apa?"
Sebelum pergi, Egbert tak lupa berpesan pada Helio untuk berjaga-jaga dan tetap waspada. Meskipun mereka saat itu sedang menyamar, tapi mereka tidak boleh lengah. Helio yang duduk di bangku kusir, mengangguk mengerti, "Anda tidak perlu khawatir. Saya akan menjaga wanita anda dengan baik"
Ucapan itu membuat Egbert menjadi lebih tenang. Dia pun berlari cepat kearah gedung sekolah Magisir yang sudah terlihat jelas dari tempat kereta mereka terparkir.
Annette menunggu sekitar lima belas menit dalam kereta. Dia merasa sangat bosan, sehingga memberitahu Helio kalau dia ingin turun sebentar. Tapi Helio tidak mengizinkannya. Helio berpikir membiarkan Annette keluar dari kereta kuda itu sangatlah beresiko.
Annette dengan terpaksa menunggu di dalam, "Huft, kenapa dia lama sekali?"
Saat itulah dia merasakan seseorang melompat ke dalam kereta. Tepat ketika mulutnya akan berteriak keras karena terkejut. Tangannya langsung membekap mulutnya rapat dan matanya membelalak tak percaya.
Egbert tidak muncul seorang diri, melainkan membawa seorang bocah bersamanya. Bocah itu menanggalkan tudung kepala yang menutup wajahnya dan tersenyum lebar menyambut wanita yang sudah sangat lama ia rindukan.
"Maa.."
"Al-aldrich.. putraku" Air mata bahagia menggenangi pelupuk mata Annette. Segera Annette menarik Aldrich ke dalam dekapannya dan matanya terpejam menangis terisak-isak.
Melihat pemandangan itu, Egbert tampak tak berdaya. Hanya memberi mereka waktu.
Setelah tenggelam dalam pelukan dan tangis selama beberapa menit, Annette membawa Aldrich duduk di pangkuannya. Dari menit ke menit, Annette menanyakan banyak hal ke putranya. Dari soal lingkungan, pembelajaran, pertemanan, hingga kesehatannya.
Aldrich menjawab setiap persoalan yang diajukan dan hampir sedikitpun tidak mengeluh atau mengadukan sesuatu seperti alerginya. Dia tidak ingin membuat wanita itu cemas.
"Jadi menurut mu, lebih menyenangkan mana sekolah mu yang sekarang atau TK di negri manusia?" Tanya Annette kemudian.
"Tentu saja sekolah disini" Seru Aldrich lugas, "Aku tidak suka TK di negri manusia. Pembelajaran nya sangat membosankan. Aku juga malas bertemu bocah-bocah yang berbicara cadel dan hanya tau menangis seperti bayi"
"Pftt.." Annette tidak dapat menahan tawanya.
Egbert memutar matanya bosan, "Apa kau tak sadar kalau kau sendiri adalah bocah hum?"
Aldrich mendengus, "Aku tau. Tapi aku tidak seperti mereka. Aku berbicara jelas dan tidak cengeng seperti mereka"
Egbert tersenyum menyeringai, "Tapi tetap saja kau itu masih bocah ingusan. Jadi santai lah sedikit, tidak baik anak-anak dewasa terlalu cepat"
"Hum!" Aldrich melipat kedua tangannya di dada sambil membuang muka kearah lain. Jelas dia kesal dengan apa yang dikatakan Egbert.
Annette tak berdaya, matanya hanya tersenyum lembut melihat perselisihan kecil antara ayah dan anak itu.
Menepuk lembut pundak Aldrich, Annette berucap, "Apa yang dikatakan papa mu benar. Tidak baik anak-anak dewasa terlalu cepat. Kau harus tumbuh dan menyelesaikan tahap perkembangan mu dengan benar. Dengan begitu kau akan menjadi orang dewasa yang puas pada masa kecilmu"
Aldrich mengangguk tersenyum, "Baik, aku akan mendengar kan mu maa"
Egbert mendengus dingin, "Kau hanya tau untuk mendengarkan mamamu. Apa perkataan papa mu bukan sesuatu yang dapat kau dengar kan juga huh?"
Aldrich memutar bola matanya cuek. Egbert mencoba bersabar menanggapi nya. Annette tersenyum lucu. Tidak tau kapan perselisihan dua orang itu akan berakhir.
Setelah berbincang-bincang begitu lama. Egbert harus membawa Aldrich kembali ke sekolah. Annette dengan berat hati melepaskannya setelah memeluknya cukup lama.
"Kau harus hidup dengan baik. Belajar lah sekenanya, jangan terlalu memaksakan diri, kau mengerti?" Annette mengelus lembut kepala putranya.
Aldrich mengangguk, "En, aku mengerti"
"Apa kalian sudah selesai bicaranya?" Teriak Egbert yang berada di luar. Sedari tadi dia menunggu Aldrich melompat turun, tapi sepertinya percakapan antara ibu dan anak itu masih belum berakhir.
"Maa.."
"Em?"
"Sepertinya pria sial*n itu terlihat cukup lelah akhir-akhir ini. Jadi aku membelikan ini untuknya" Aldrich menyerahkan kotak hitam dengan pita ungu di atas tutupnya kepada ibunya.
"Aku terlalu malas memberikannya sendiri. Jadi itu kenapa aku memberikannya padamu"
"Apa ini?" Annette merajut sepasang alisnya. Tidak menduga Aldrich akan begitu perhatian sampai membelikan sesuatu untuk ayahnya.
"Itu suplemen" Bohong Aldrich, "Tolong pastikan dia meminum nya"
Annette tersenyum di matanya, "Baiklah, mama mengerti. Mama pasti akan membuat papa mu tidak menyia-nyiakan pemberian mu ini"
Aldrich tersenyum puas. Itu bagus ibunya tidak curiga dengannya.
Sekali lagi ibu dan anak itu berpelukan. Kemudian Aldrich melompat ke bawah dan di tangkap oleh Egbert. Secepat kilat Egbert berlari membawa Aldrich kembali ke Magisir.
......................
Malam harinya, Egbert membawa Annette kembali ke negri manusia. Dia membawanya pergi ke kastil. Kepala pelayan Mary datang menyambut mereka dengan sopan seperti biasa. Segera dia menyuruh para pelayan untuk menyiapkan makanan barangkali saja Annette lapar.
Zeta dan Mikha berlari mendatangi Annette. Mereka hampir saja memeluk tubuh kurus nyonya mereka nyaris senangnya melihat Annette kembali.
"Nyonya, bagaimana berada di negri vampir? Apa mereka semua berkulit putih pucat seperti tuan?" Zeta dan Mikha mengapit lengan Annette membawanya duduk di sofa.
"Ya, mereka semua putih pucat seperti tuan kalian" Annette melabuhkan punggungnya ke sofa.
"Apa ada dari mereka yang tampan?" Seru Mikha semangat. Dia berdiri di samping kiri Annette.
"Kenapa kau bertanya begitu? Kau berniat berkencan dengan salah satu dari mereka?" Tanya Zeta.
"Kenapa tidak? Selama dia baik hati seperti tuan Sean, ku pikir itu bukan masalah.." Mikha berkedik bahu dan wajahnya dipenuhi senyuman, "Aku bahkan rela jika darah ku dihisapnya"
Zeta bergidik.
Annette tersenyum sambil menggigit bibir bawahnya. Pemikiran gadis itu sungguh sangat polos.
Annette menoleh kearah Egbert yang sepertinya akan siap untuk pergi. Annette dengan cepat berseru, "Kau akan kemana?"
"Aku akan kembali ke Merland sekarang"
Annette merasa tak rela. Dia bangun dari sofa dan berjalan mendatangi Egbert. Menarik lengan bajunya, Annette berbicara dengan wajah tertunduk malu, "Bisakah kau tinggal disini untuk semalam saja?"
Egbert tersenyum, membungkuk kan badannya sedikit dan mulutnya berbicara di telinga Annette, "Kenapa hum? kau merasa berat melepaskan suamimu pergi?"
Wajah Annette langsung bersemu merah, biar begitu dia tetap berucap, "Um, jadi tinggal lah disini untuk semalam"
Egbert mengecup kening Annette lembut, "Baiklah, aku akan tinggal.."
Sekali lagi wajah Annette memerah rekah.
Zeta dan Mikha yang menonton pemandangan itu, hampir menjerit histeris. Pasangan itu sangat manis. Sungguh membuat para lajang seperti mereka hanya bisa menangis mendambakan hal yang sama seperti mereka.
"Hu.huu..kapan aku bisa seperti mereka?" Zeta memasang tampang pura-pura menangisnya.
"Rasanya aku seperti ingin menikah sekarang juga, tapi tak tau harus mengajak siapa sebagai suami" Mikha pun tampak tak berdaya. Di kastil sama sekali tidak ada pelayan pria.
Sedangkan di luar hanyalah gambaran hutan dan jalanan bebatuan kosong. Tidak ada sesuatu seperti pemandangan pelayan jatuh cinta pada tetangga pria di luar.
Dalam keinginan dan ketidakberdayaan itu, kepala pelayan Mary datang memanggil dua orang itu untuk datang bekerja. Segera Zeta dan Mikha melupakan khayalan mereka tentang menikah dan secepatnya melakukan tugas dari kepala pelayan Mary.
......................