Vampire'S Secret Baby

Vampire'S Secret Baby
|141|. Karena Itu, Kau Harus Patuh Istriku



"Sial" Emma benar-benar tidak dapat menemukan kartu akses nya untuk kembali ke Merland. Jika terus begitu, dia akan menghabiskan seumur hidupnya di negri manusia.


Belum lagi memperoleh makanan di sama lumayan sulit. Tidak ada toko-toko yang menjual botol darah hewani dan tak ada restoran yang menyediakan makanan khusus vampir seperti di Merland.


Dia tidak mungkin mengambil sembarang manusia acak untuk menghisap darahnya. Kejadian beberapa tahun lalu saja yang sempat menggemparkan kota J karena ditemukan nya sebuah mayat manusia mati dengan gigitan di leher, berita tersebut sampai ke Merland. Departemen keamanan kekaisaran pun bergerak cepat mengusut kasus tersebut dan menemukan siapa pelakunya.


Pelaku yang melakukannya berhasil dilacak dan berakhir di penjara seumur hidup.


"Tapi kalau dipikir-pikir, bukannya aku sudah pernah menghisap darah wanita itu?" Emma memeluk dirinya resah. Dia menyesal telah melakukannya.


"Kalau aku tahu dia istrinya Egbert, mana mungkin aku berani melakukannya"


Emma menghela nafas berat. Perasaannya kian gusar, "Aku sungguh mengira dia boneka kesayangannya Duke Rajeev. Tapi bagaimana bisa dia ternyata..."


Emma menggigit bibir bawahnya dengan perasaan rumit, "Bagaimana jika aku kembali ke Merland, Egbert akan melaporkan kejahatan ku itu?"


Emma benar-benar berada di posisi yang sulit. Jika ada kartu akses di tangannya sekarang pun, mungkin dia juga tidak berani begitu saja kembali ke Merland.


"Aku tidak punya pilihan lain, sepertinya aku harus memohon pada Egbert"


Emma yang tidak punya uang sepeser pun di tangannya itu, berlari dari hotel yang terletak di kota hingga ke kediaman Egbert yang berdekatan dengan hutan menggunakan tenaga khusus vampirnya. Kekuatannya sedikit menjadi lebih baik daripada sebelumnya, mungkinkah ini karena terakhir kali dia meminum darah wanita manusia itu?


Setibanya di kastil Egbert. Baru saja beberapa langkah dia menyentuh pagar, seseorang datang secepat kilat membawanya lari dari tempat itu.


"Javier"


Emma di dorong ke badan pohon besar yang berada sedikit jauh dari kastil Egbert. Emma terkejut melihat tangan kanan Duke Rajeev ada di sana.


"Aku datang untuk membawa mu kembali ke Merland"


Emma tidak tau apakah harus bahagia atau tidak. Tapi berpikir Duke Rajeev salah seorang berpengaruh di Merland, mungkin dia dapat memperoleh perlindungan dari pria itu.


"Baguslah kau kemari"


Javier menyunggingkan senyum di sudut bibir, "Kenapa? Kau tidak dapat kembali ke Merland jika tak ku jemput?"


Emma mengulum rapat bibirnya kedalam, mengangguk kan kepalanya, "Ya. Karena seseorang sudah mengambil kartu akses mu"


"Kecerobohan mu sepertinya tidak dapat dipulihkan"


Emma tetap tersenyum dengan penghinaan itu, "Begitulah" Dia berkedik bahu.


Dengan begitu Emma membatalkan niatnya ke kastil Egbert dan mengikuti Javier kembali ke Merland. Setiba di duchy, Javier langsung membawanya ke kediaman Duke Rajeev.


Di sana pria itu sedang duduk santai di taman. Menikmati pemandangan danau buatan bersama secangkir teh darah singa. Melihat kedatangannya, dia tersenyum lebar dan matanya menatapnya menggoda.


"Kau terlihat agak kurus.." Rajeev menarik pinggang ramping Emma jatuh ke atas pangkuannya, "Dia tidak memberimu makan?"


Emma tersenyum tertekan, "En, dia mengusirku"


Javier mengusap belahan pipi Emma dengan punggung telunjuknya, "Tentu saja dia melakukannya. Dia kan sudah memiliki istri"


Bola mata Emma membesar dalam kejutan, "Kau mengetahuinya?"


Javier tersenyum di matanya yang berkilat dingin, "Dia telah memperkenalkan nya ke seluruh Merland, bagaimana aku tidak tahu?"


Emma tersentak kaget dengan berita tersebut. Memegang pundak Rajeev, dia memberinya tatapan yang serius, "Aku sungguh tidak menyangka dia akan mengambil langkah berani seperti itu"


Rajeev menautkan sepasang alisnya, "Maksud mu?"


"Istri Egbert..dia adalah manusia"


Rajeev menajamkan tatapannya kearah Emma, "Apa kau sedang beromong kosong?"


Emma menggigit bibir bawahnya dan berucap, "Apa aku terlihat seperti itu?"


"Sayang, ku harap kau tidak memberikan informasi yang salah" Bisiknya di ambang telinga Emma.


Mengepalkan tangannya, Emma membenci tiap kali Duke Rajeev menekannya seperti itu. Tapi dia tidak dapat mengatakan keluhan nya, hanya tersenyum manis dan balas mengecup bibir Rajeev, "Kau dapat yakin, informasi ku ini tidak akan salah"


......................


Egbert terjaga dari tidurnya dan melihat hari sudah siang. Sepertinya karena dia terlalu menguras energinya kemarin, itulah kenapa dia yang kelelahan bisa bangun kesiangan.


Dia menoleh ke samping dan tidak menemukan Annette di sisinya. Terus Egbert menjadi panik. Secepatnya dia turun dari ranjang dan berlari pergi meninggalkan kamar. Egbert berlari dari ruang tamu hingga ke ruang makan.


Hingga kepala pelayan Mary menemukannya, "Tuan, anda sedang mencari nyonya?" Mary menatap Egbert dengan sedikit kejutan di wajahnya. Dia dapat melihat pelipis Egbert yang mengeluarkan keringat dan sikap cemas nya yang begitu mengudara.


"Ya. Di mana dia?"


Mary tersenyum sopan menjawab, "Nyonya sedang berjalan-jalan di taman belakang, sepertinya nyonya merasa bos—" Belum selesai Mary berbicara, Egbert sudah lebih dulu pergi meninggalkan tempat itu dan buru-buru ke taman belakang.


Mary menggelengkan kepalanya tersenyum tak berdaya, "Tuan sebegitu tidak tahannya jauh-jauh dari nyonya.."


Di taman belakang, Annette berjalan mendatangi bunga-bunga yang mekar dengan cantik. Sinar matahari bersimbah ke atas mereka, Annette mengangkat gembor yang di pegang nya dan menyiram mereka dengan sepenuh hati.


Dia merasa bosan berdiam di dalam, jadi dia berpikir untuk melakukan aktivitas di luar dan menyiram tanaman sepertinya membuat perasaannya menjadi lebih baik.


Egbert bernafas lega melihat Annette berdiri sehat dan menyirami bunga-bunga di taman dengan wajah berseri. Dia pergi mendatangi istrinya dan memberinya pelukan hangat dari belakang, "Kenapa kau pergi tanpa memberitahu ku"


Mendapati seseorang yang memeluknya tiba-tiba dari belakang dan mendengar keluhan nya yang sedikit kanak-kanakan, Annette mengerutkan matanya dengan senyum heran, "Aku hanya ke taman belakang kastil mu, bukannya pergi keluar. Apa perlu sampai memberitahu mu?"


Egbert menyandarkan dagunya dengan manja di atas pundak Annette, "En, kau harus memberitahu ku. Bahkan sekalipun kau pergi ke kamar mandi, kau tetap harus memberitahu ku"


Annette menjepit sepasang alisnya, merasa rumit, "Egbert, kenapa setelah menyatakan cinta padaku kau mendadak berubah menjadi aneh seperti ini. Apa memang begitu cara mu mencintai atau kau bersikap begitu karena takut aku melarikan diri?"


Egbert mengeratkan pelukannya, membuat Annette merasa sedikit sesak, "Aku begini karena aku mengkhawatirkan mu. Bukankah sudah ku katakan sebelumnya, bagaimana jika seseorang datang mengambil mu dariku"


Annette menghelanya nafas tak berdaya mendengar itu, "Egbert, kekhawatiran mu ini terlalu berlebihan. Sekarang ini aku di negri manusia, di kastil mu. Jadi siapa yang berani melakukannya?"


Egbert menggeleng tak setuju, "Kau tidak tau betapa berbahayanya musuh-musuh di sekitar ku. Itu kenapa aku tidak boleh lengah. Jadi ku mohon padamu, jangan jauh-jauh dariku. Jika kau ingin pergi ke kamar mandi sekalipun, kau harus beritahu aku. Biar aku temani dan dengan begitu aku merasa lebih tenang"


Saat ini tidak hanya pelukan Egbert yang membuatnya sesak, tapi pernyataannya tersebut juga membuat Annette semakin sesak, "Egbert, tetap saja menurutku ketakutan mu ini terlalu berlebihan. Lagipula—"


Egbert menunduk ke bawah, menarik dagu kecil Annette dan mengecup bibirnya, "Patuhi saja perkataan ku, em?"


Annette benar-benar tak berdaya di buatnya, "Baik lah"


Sekali lagi Egbert menarik dagu Annette dan menciumnya lama. Setiap kali Egbert melakukannya, Annette sadar jika dia seperti sedang memastikan sesuatu. Hanya sampai saat ini dia tidak dapat menebak apa itu.


Egbert mengusap bibir Annette yang lembab kemerahan dan puas dengan tekstur empuknya yang hangat, "Awas saja jika kau pergi tanpa sepengetahuan ku, mungkin aku akan memborgol mu di kamarku"


Annette menatap ngeri dan wajahnya memucat, "Eg-egbert, kau tega melakukan itu padaku?"


Egbert menatap Annette dalam, "Ini bukan soal tega atau tidak. Tapi ini tentang keamanan dan keselamatan mu. Jadi aku tidak bisa main-main.."


Annette mengedipkan matanya, walau dia mengerti Egbert begitu mengkhawatirkan dirinya tapi tetap saja membayangkan Egbert mengurungnya di kamar dan memborgolnya..


"Tetap saja kau tidak boleh sampai melakukan itu. Kau begitu membuat ku takut.." Annette menyatakan keluhannya.


Biar begitu Egbert tidak melunak. Dia hanya berkata dengan tegas, "Karena itu, kau harus patuh istriku"


Sekali lagi Egbert mencium Annette. Seakan Egbert tidak pernah bosan melakukannya. Meskipun seribu sekalipun dia melakukannya.


Dia tetap tidak akan pernah bosan.


......................