
Annette mengulum senyum di bibir dan berucap lembut, "Ya, baru saja"
Aldrich mengangkat kepalanya dan matanya yang masih menyipit ngantuk itu menatap pada wajah sang ibu, "Mama terlihat lelah sekali seperti baru habis berlari. Apa ada penjahat yang mengejar mu?"
Annette lagi-lagi tersenyum dan mengangguk, "Em"
Aldrich memukul ringan pundak ibunya, "Harusnya kau membiarkan aku ikut dengan mu, agar aku bisa melindungi mu" Ucapnya.
Annette tertawa kecil dan terus mencuil gemas hidung mancung Aldrich, "Bagaimana bisa mama membiarkan mu melindungi mama dengan tubuh mungil seperti ini"
"Huh!" Aldrich tampak mengerucut kan bibirnya tak senang.
"Anak baik, tunggu kau besar dan lindungi mama dengan kekuatan mu, oke?" Bujuk Annette, menepuk-nepuk lembut punggung putranya.
"Em" Angguk Aldrich kecil dan memeluk manja Annette.
Rasanya sangat nyaman setiap kali putra kecilnya itu datang memeluk erat tubuhnya. Segera energi negatif karena berbagai kesialan yang ia dapatkan malam ini lenyap begitu saja, tergantikan dengan energi positif dari Aldrich.
Membuat Annette dapat bernafas lega dengan leluasa dan merasa bahagia hingga di setiap sel darah yang beredar dalam tubuhnya.
"Ma, aku haus" Tukas Aldrich. Mau itu haus atau lapar, ia selalu membutuhkan darah ibunya sebagai pereda keduanya.
"Oke, kalau begitu mama mandi dulu baru memberi mu minum, um?" Ucap Annette yang langsung di anggukan oleh putranya.
"Um"
Annette pun segera pergi mandi dan setelahnya berganti baju menjadi piyama sederhana. Ia pun pergi ke kamar putranya dan mendapatinya yang tengah berbaring di atas kasur lesehan dengan selimut tebal.
Karena ia tidak punya cukup uang di tangan, ia hanya dapat membiarkan putra nya tidur tanpa ranjang nyaman.
Pemandangan itu selalu membuatnya sakit. Tapi ia tidak berdaya bersamaan.
Annette pergi duduk tepat di samping Aldrich, mengambil jarum dan menusuk telunjuknya beberapa kali, "Sayang, ayo minum.." Annette dengan lembut menepuk pundak Aldrich.
Membuat mata anak itu terbuka dan dengan setengah mengantuk ia menghisap jari telunjuknya. Annette yang sangat kelelahan malam itupun, langsung tertidur tepat di samping Aldrich.
Setelah rasa dahaga nya hilang. Aldrich berhenti menghisap jari telunjuk ibunya. Ia pun membuka matanya lebar-lebar dan melihat raut wajah cantik ibunya yang tertidur dengan deru nafas lelah.
Aldrich bangun dan mengecup lembut kening sang ibu, "Maa.. tunggu aku besar"
Tangan kecil itu mengusap pelan surai rambut kepala Annette, "Aku pasti akan melindungi mu"
......................
Malam itu setelah pulang dari bar, Egbert tidak kembali ke kastil. Ia seorang diri berlari cepat ke hutan perbatasan dan menuju ke negeri Merland.
"Sudah menyalin berapa banyak?"
Sean terkejut dengan kemunculan suara yang tak asing itu. Menghentikan pergerakan kuas bulu ayam di tangannya, ia mengangkat kepalanya dan mendapati Egbert sudah ada di hadapan, "Lima buku" Jawab Sean malas.
Tangannya sudah sangat pegal dan sakit. Tapi siang dan malam ia berusaha keras untuk terus menyalin demi bisa kembali secepat mungkin ke negri manusia.
"Oh, lumayan cepat juga"
"Bagaimana tidak cepat? Aku nyaris mematahkan jari-jari tangan ku saking lelahnya"
"Ah, baguslah karena mereka masih baik-baik saja" Jawab Egbert menatap ke tangan yang memegang kuas itu masih cukup berdaya untuk terus menulis.
"Hah!" Sean mendengus kesal mendengar balasan yang sama sekali tidak ada nada simpatik di dalamnya.
"Buat apa kau datang kemari?" Sean mencelupkan bulu ayam itu ke tinta dan kembali menyalin bait-bait kalimat yang ada di buku.
Egbert menarik kursi dan duduk tepat di hadapan Sean. Lampu di pustaka sudah di matikan.
Hanya secercah sinar rembulan yang menembus jendela dan datang memenuhi ruang besar perpustakaan yang hening. Tak cukup dengan itu, Sean mendatangkan sebuah lentera di atas meja untuk menerangi buku dan setiap goresannya di atas kertas.
Alhasil sinar keemasan lentera bercampur dengan sinar keperakan rembulan.
"Aku sudah menemukannya"
"Menemukan apa?" Sahut Sean. Tanpa berpaling dari kertas dan buku.
"Darah yang selama ini aku idam kan, kini sudah berada dalam genggaman ku" Ucap Egbert.
Langsung membuat Sean berhenti menulis dan mengangkat pandangannya kearah Egbert, "Maksud mu, kau telah menemukan Annette?" Tanyanya penuh dengan ekspresi terkejut.
"Tidak"
"Lalu?"
"Dia adalah gadis pelayan bar yang bekerja di bar ku"
"Aah.." Sean manggut-manggut mengerti.
"Aku pikir kau sudah menemukannya. Karena bagaimanapun, menurut spekulasi kedua dalam buku yang ku baca. Itu tidak ada darah manusia yang beraroma dan memiliki varian rasa yang sama" Ucap Sean, "Sekalipun ada pendapat pertama tentang pengelompokan jenis, tapi kau tidak menemukannya dari Mary dan pelayan-pelayan mu di kastil" Lanjutnya lagi.
"Sepertinya spekulasi yang tersebut di buku yang kau baca itu itu tidak benar" Ucap Egbert. bagaimanapun itu hanya spekulasi penulis tanpa dukungan data empiris.
"Em, itu wajar. Mengingat itu hanya sebatas opini semata"