Vampire'S Secret Baby

Vampire'S Secret Baby
|31|. Mengikat Lambung Mu Dengan Darahku



Egbert tidak menanggapi apa-apa terhadap apa yang Annette ucapkan. Ia tidak suka terlibat dalam kondisi sentimental manusia yang sangat membosankan. Hanya tersenyum sekenanya dan Egbert kembali memijit kedua kaki Annette. Hingga malam itu, lagi-lagi keduanya tidur bersama sampai matahari terbit di ufuk timur.


Esok adalah hari selasa, tapi Annette hanya berdiam seharian di kastil. Annette memilih menghabiskan sore yang menenangkan di taman belakang kastil. Merenungi tempat di mana upacara pernikahannya berlangsung dan makan malam romantis yang terjadi semalam.


Itu cukup membuat Annette merasa terhibur dan tersenyum-senyum sendiri. Namun tiba-tiba saja ia merasa kepalanya memberat dan segalanya nyaris menghitam tepat ketika ia hampir limbung ke depan...


"Nyoyaa" Mikha dan Zeta sudah lebih dulu menarik pundaknya dan menahannya dari terjatuh. Keduanya terkejut melihat betapa pucatnya bibir Annette.


"Nyonya, anda baik-baik saja?" Tanya keduanya cemas.


Annette bersandar lemah ke dada Zeta dan memegang lengan gadis itu seraya berkata, "Aku pusing sekali"


"Kami akan membawa anda ke kam—"


Baru saja Zeta berbicara tapi..


"Nyonyaa" Pekik keduanya mendapati Annette yang sudah jatuh pingsan.


"Cepat beritahu tuan kalau nyonya pingsan di taman" Tukas Zeta.


"Baik" Mikha pun segera berlari mendatangi ruang kerja Egbert untuk memberitahu pria itu kalau Annette pingsan di taman.


Egbert segera menghentikan pekerjaannya dan mengikuti Mikha ke taman. Di sana ia melihat Annette yang terduduk tak sadarkan diri di bangku taman bersama Zeta. Segera Egbert meraih tubuh gadis yang tengah berbadan dua itu dan membawanya ke kamar gadis itu.


"Cepat panggil dokter Robbin" Titah Egbert. Wajahnya jelas terlihat panik. Namun itu bukan mencemaskan Annette, melainkan bayi yang ada dalam perut Annette.


"Baik tuan" Zeta segera pergi memanggil Robbin. Tidak butuh waktu lama hingga Robbin tiba di kamar Annette dan pergi memeriksa keadaan gadis itu.


"Kalian berdua tunggu di luar" Perintah Egbert pada Zeta dan Mikha. Terang saja kedua pelayan itu merasa kecewa. Padahal mereka sangat mencemaskan keadaan Annette sampai ingin melihat seluruh proses pemeriksaan nyonya mereka itu hanya untuk memastikan bahwa tidak ada sesuatu yang buruk terjadi.


"Masih tidak pergi?" Tanya Egbert dingin, melihat kedua pelayan itu masih berdiri di tempat.


"B-baik tuan" Mikha dan Zeta pun mau tak mau akhirnya pergi meninggalkan kamar Annette dan menunggu di luar dengan harap-harap cemas.


Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, tampak pria tua itu menghela nafas berat, "Kondisinya sudah cukup buruk. Darah dalam tubuhnya berkurang sangat drastis hingga kita membutuhkan pendonor" Ucapnya, "Jika tidak, maka istri anda dan bayi dalam kandungannya, kemungkinan tidak akan tertolong"


"Apa obat penambah darah tidak dapat mengatasi ini?" Tanya Egbert.


"Di situasi yang seberat ini, itu tidak lagi dapat di gunakan" Karena Annette benar-benar kehilangan banyak darah. Itu lebih banyak dari yang terakhir kali yang masih dapat di tangani dengan obat penambah darah.


"Kalau begitu lakukan sesuatu!" Suara Egbert semakin kentara dengan kepanikan tak tergambar, "Apapun itu lakukan saja, aku pasti akan menyiapkan semuanya" Tutur Egbert dengan suara bergetar.


Ia tidak ingin apa yang telah di rencanakan nya menjadi kacau berantakan. Ia sungguh tidak mau strategi yang sudah di susun nya gagal hingga ia harus mengulanginya kembali dari nol.


Menikah..


Membuat seorang gadis manusia mengandung,


Dan menanti hingga hari kelahirannya tiba...


"Sekalipun ada cara, tapi mungkin hanya salah satu dari mereka yang dapat diselamatkan" Ucap Robbin dengan tatapan prihatin, "Untuk menyelamatkan gadis itu, kita harus segera mendatangkan pendonor darah yang cocok dengan golongan darahnya dan setelahnya kita harus segera menggugurkan anak dalam kandungannya"


Karena jika tidak segera di gugurkan, sewaktu-waktu darah Annette akan habis dan bukan tak mungkin gadis itu akan mati karena kehabisan darah.


"Tapi jika kita menyelamatkan anak dalam kandungannya, saya prediksi kan anak itu tidak lama lagi akan segera lahir. Hanya kita juga membutuhkan pendonor darah yang cocok untuk membuat gadis itu bertahan hingga hari kelahirannya tiba. Namun saat itu, kemungkinan besar gadis itu akan mati karena kehabisan darah"


Setelah memaparkan semua itu, Robbin pun bertanya pada Egbert, "Pilihan mana yang akan anda ambil? Gadis itu atau bayi dalam kandungannya?"


Cepat Egbert menjawab, "Bayi dalam kandungannya" Cukup lugas dan bahkan tidak ragu sama sekali, "Saya tidak peduli dengan kehidupan gadis itu karena yang saya butuhkan hanya bayi dalam perutnya"


Meskipun Robbin tidak begitu bersimpati pada manusia, tapi tetap saja ia merasa sedikit menyayangkan kehidupan Annette yang malang.


Egbert mengangguk mengerti dan segera mengumpulkan seluruh pelayan di kastil nya untuk mengecek satu persatu golongan darah mereka apa ada yang sesuai dengan Annette. Dari semua pelayan itu, hanya Zeta seorang yang memiliki golongan darah yang sama dengan Annette.


Zeta pun segera mengikuti serangkaian pemeriksaan dengan Robbin. Setelah di pastikan Zeta dapat melakukannya, ia pun pergi menyiapkan beberapa hal sebelum darahnya siap di ambil.


Di samping itu tanpa sepengetahuan Egbert, Annette yang terbaring seorang diri di atas ranjang, sepasang matanya yang terpejam mengalirkan air mata di kedua sudutnya.


'Ternyata dia hanya menginginkan anak ini'


Ya, Annette sepenuhnya sadar ketika Robbin melakukan pemeriksaan terhadap dirinya. Hanya ia begitu lemah untuk membuka matanya.


'Dia tidak peduli soal hidup ku'


'Segala perhatiannya sejauh ini hanya omong kosongnya saja'


'Jelas aku telah berharap pada sesuatu yang tidak perlu ku harapkan'


Annette mengepalkan tangannya, masih dengan mata terpejam dan hatinya yang terasa pedih bak tersayat-sayat, kini remuk redam menyimpan kebencian yang mendalam untuk Egbert.


Sehari berlalu dan Annette kembali merasa baikan setelah menerima donor darah dari Zeta. Ia hanya terbaring lemah di atas ranjang bersama cairan infus yang mengalir ke dalam tubuhnya. Annette sengaja bergerak banyak hingga membuat sedikit darah naik ke selang infus.


Malam itu pintu kamarnya di buka dan dari derap langkahnya ia langsung dapat menebak itu siapa.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Egbert ketika melihat Annette yang mencoba mencabut infus dari punggung tangan kirinya.


"Aku terlalu tidak hati-hati hingga darah ku naik ke selang infus" Ucap Annette dengan polosnya.


"Sangat di sayangkan jika darah ini terbuang percuma, apa kau ingin meminumnya?" Tanya Annette pada Egbert.


Aroma darah segar yang manis merasuki penciumannya. Egbert berjalan dan duduk tepat di samping Annette berbaring. Begitu saja ia menarik selang infus tersebut, menyingkirkan jarum nya dan menyedot darah Annette yang ada di sana.


Annette mengulum senyum tipis diam-diam, "Apakah darah ku terasa lezat?"


"Em"


"Lebih lezat mana darahku dengan darah kelinci yang biasa kau minum?" Tanya Annette lagi.


"Tentu saja darahmu" Jawab Egbert.


"Apa itu cukup membuatmu hingga menjadi candu?"


Egbert menautkan sepasang alisnya mendengar pertanyaan Annette yang kesekian kalinya, tapi ia tetap menjawab, "Ya"


Setelahnya Annette tidak bertanya apa-apa lagi melainkan membatin dalam hati...


'Baguslah'


'Biarkan aku mengikat lambung mu dengan darah ku'


'Dengan begitu, kau tak akan menikmati darah lainnya sepuas kau menikmati darahku'


'Dan jika perlu...'


'Akan ku buat kau tak dapat hidup tanpa darah ku'


Itu adalah langkah awal pembalasan Annette.


......................