Vampire'S Secret Baby

Vampire'S Secret Baby
|138|. Nyata Atau Mimpi Indah Semata?



"Yang Mulia.."


"Yang Mulia putra mahkota"


"Yang muliaa"


Pekik madam Belinda yang sudah naik ke dalam kereta untuk membangunkan Egbert. Dia mendapatkan kabar kalau Egbert tertidur pulas di dalam kereta dan tak ada dari pengawal yang berani membangunkannya. Tapi ketika dia mendekat ke kereta kuda, saat itu dia mendengar suara tangis Egbert yang melolong-lolong memanggil Annette.


Belinda yang panik, tentu saja langsung naik ke dalam kereta untuk mengecek. Dia terkejut melihat pelipis Egbert yang sudah dipenuhi keringat dingin dan bibirnya yang bergetar terus menyebut nama istrinya— Annette.


"Annette.."


"Annette.."


Madam Belinda dengan sangat terpaksa menepuk wajah Egbert untuk membuatnya terjaga, "Yang muliaa.."


"Haahh..haah.." Egbert terperanjat dari tidurnya. Matanya terbuka lebar dan nafasnya terengah-engah. Bola matanya bergetar melihat madam Belinda berada tepat di depannya, memandanginya dalam pandangan cemas.


"Maafkan wanita tua ini yang mulia karena sudah berlaku lancang" Madam Belinda mengeluarkan sapu tangan dari saku bajunya dan menghapus titik-titik keringat di pelipis Egbert, "Apa anda bermimpi buruk yang mulia?"


Bulu mata Egbert bergetar. Dia dapat merasakan kedua pipinya yang sembab dan sisa air mata yang masih tergenang di pelupuk matanya, "J-jadi aku baru saja bermimpi?"


Madam Belinda mengangguk pelan, "Seburuk apa mimpi itu sampai anda menangis sedemikian rupa?" Madam Belinda bertanya dengan tatapan prihatin.


"Annette.." Egbert tersadar sesuatu saat ketakutan menelusup kedalam relung hatinya.


"Maaf madam, sepertinya aku harus kembali" Egbert secepatnya melompat keluar dari kereta kuda.


Membuat madam Belinda berteriak terkejut, "Yang mulia.."


Madam Belinda perlahan pun turun dari kereta kuda dan dibantu oleh salah seorang penjaga. Saat kakinya menginjak tanah, dia tidak lagi melihat Egbert. Mata tuanya tersenyum kecil mengingat baru saja Egbert menyebut nama Annette, apa mungkin dia terburu-buru pergi untuk menemui istri manusianya?


"Sepertinya anak itu mulai menyadari perasaannya.."


Egbert menggunakan kekuatan berlari cepat nya dari istana bulan merah hingga mencapai gerbang perbatasan. Setelah melewati gerbang tersebut, dia masuk kedalam hutan dan melewatinya secepat mungkin hingga melompat dari atas bebatuan besar dan menginjak patahan ranting. Dia terlihat terburu-buru hingga tak sadar ketika melewati desa manusia dengan kekuatannya itu, orang-orang sekilas yang menangkap pemandangan tersebut mengedipkan matanya terkejut.


Hanya setelah mengucek-ngucek matanya mencoba untuk memastikan, pemandangan tersebut sudah lenyap.


Egbert berlari cepat tanpa henti hingga mencapai kepadatan kota. Dia melibas jalan yang padat membuat mobil dan motor mendadak menekan rem karena terkejut. Tidak berhenti sedikitpun, Egbert langsung menuju ke pedalaman yang agak berdekatan dengan hutan, dimana kastil nya berada.


Sesampai di depan pagar kastil nya, dia hampir pingsan karena kehabisan tenaga. Sekujur tubuhnya sudah bersimbah keringat dan seperti itu dia jatuh bertekuk lutut di tanah. Saat itu penjaga kastil datang terburu-buru membuka pintu pagar, "Tuan Egbert"


Penjaga itu langsung membantu Egbert berdiri.


"Anda baik-baik saja tuan?"


"Aku baik-baik saja"


Selesai mengucapkan hal itu, Egbert langsung berjalan cepat menuju pintu depan kastil dengan sisa kekuatannya. Sesudahnya, dia tak dapat memaksakan diri lagi. Mengingat energinya benar-benar sudah terkuras habis. Dia membuka pintu kastil dan berjalan dengan langkah biasa kedalam.


"Tuan Egbert anda kembali?" Sapa kepala pelayan Mary yang selalu siap sedia memperhatikan siapa yang datang ke kastil. Dia tidak menduga itu adalah Egbert.


"Di mana Annette?"


"Ah, nyonya sedang berada di dapur. Katanya dia merasa bosan tidak tau harus berbuat apa, karena itu dia pergi memasak di sana"


Egbert mengangguk mengerti dan melangkah pergi menuju dapur. Di sana aroma masakan manusia menyeruak masuk ke dalam indra penciumannya. Dia menduga itu adalah sup sapi dengan kandungan rempah-rempah yang melimpah. Aromanya cukup kuat dan memikat. Mungkin jika dia manusia, dia akan merasa lapar sekarang.


Melangkah lebih jauh kedalam dapur, Egbert dapat melihat sosok tubuh wanita yang berdiri di depan kompor sedang mengaduk-aduk kuah sup yang sedang dimasaknya. Tubuh kurusnya terbungkus dalam gaun rumahan yang bewarna putih susu. Itu longgar dan tipis, menonjolkan tulang bahunya yang menawan setiap kali tangannya bergerak maju dan mengaduk.


Mikha dan Zeta yang sedang menemani Annette masak, keduanya terkejut dengan kemunculan Egbert di dapur. Tepat ketika mulut mereka akan bersuara, Egbert dengan cepat mengirimkan sinyal.


Egbert meletakkan jari telunjuknya di bibir, menyuruh mereka untuk tidak bersuara. Kemudian dia menggeleng kan kepalanya ke samping, menyuruh dua orang itu pergi.


Mikha dan Zeta pun mengangguk mengerti. Mereka diam-diam pergi meninggalkan dapur.


"Zeta, bisa tolong ambilkan lada. Sepertinya ini masih kurang ped—" Ucapan Annette terhenti saat mendapati sesuatu melingkari perutnya dan tubuh besar yang datang menekan punggung kecilnya. Mengurungnya dalam pelukan.


"Kenapa kau tiba-tiba kemba—emp"


Egbert telah membungkam mulut kecil Annette, menciumnya dalam dan dalam. Sesaat Annette kehilangan akal sehatnya, biar begitu matanya refleks terpejam— hanyut dalam ciuman itu.


Annette merasa kulit kepalanya seperti mati rasa kala mendapati ciuman itu bergerak menjadi lebih jauh, terburu-buru dan haus. Seakan dirinya akan tersedot habis oleh seseorang yang sedang menciumnya.


Egbert menekan bagian belakang kepala Annette lembut dan memperdalam ciumannya. Bulu mata Annette bergetar, merasakan ciuman itu kian cepat dan cepat. Cukup membuatnya kewalahan mengikutinya.


Saat Annette berpikir untuk menjauh, tangan Egbert yang lain datang menekan punggungnya. Egbert kian membungkuk kan kepalanya ke bawah tanpa melepas tautan bibirnya, membuat Annette tak berdaya terus menepikan langkahnya menjauh dari depan kompor atau kalau tidak mungkin saja tubuhnya yang terus membungkuk itu akan bertabrakan dengan panci sup.


Egbert larut dalam ciumannya, tanpa sadar telah melangkah maju dan membuat tubuh Annette terdorong. Begitu saja mereka berjalan dan berputar mengitari dapur dengan Egbert yang terus memagut bibir kecil Annette.


Hingga punggung Annette menabrak meja dapur. Serentak bunyi gedebuk itu mengejutkan para pelayan yang tengah bekerja, buru-buru pergi melihat apa yang terjadi.


Adegan panas itu yang menyambut retina mereka, sontak membuat mereka memanas dan menjadi sesak nafas sendiri. Bukannya kembali bekerja, mereka memilih diam dan menonton lebih jauh.


"Emph—bert" Annette mencoba berbicara dalam ciuman panjang yang belum juga berhenti itu.


Tapi Egbert menelan bibir kecilnya dan merengkuh tubuh kurusnya seakan tidak akan pernah ingin melepaskannya. Annette memukul-mukul dada Egbert, mengisyaratkannya untuk berhenti sebentar.


Namun Egbert seperti menggila. Dia terus menjeratnya seakan biar badai dan hujan sekalipun, dia tetap tidak akan pernah melepaskannya. Hingga perlahan ciuman itu bergerak menjadi lambat dan lambat. Membuat Annette terkedu, saat merasakan sesuatu yang melankolis tersalur dalam ciuman itu.


Annette dapat merasakan tubuh kekar Egbert yang menguncinya erat itu bergetar dan sesuatu yang panas menetes jatuh membasahi pipinya. Membuat Annette terkesiap dan membuka matanya. Dia mendapati wajah tampan Egbert yang begitu dekat dengan wajahnya itu, bibir dinginnya yang masih menekan bibirnya dan matanya yang terpejam...


Itu mengucurkan air mata.


Egbert menarik bibirnya, akhirnya berhenti mencium. Keningnya menekan kening Annette dan hidung mereka saling bersentuhan.


Annette bertanya dengan bola mata bergetar, "K-kau menangis?" Itu adalah kali pertama Annette melihat Egbert meneteskan air mata.


Egbert memajukan wajahnya ke depan dan mengecup bibir Annette, "Kau yang membuat aku menangis"


"A-aku?" Annette mengedipkan matanya tak paham, "K-kenapa bisa aku membu—"


Kepala Egbert meluncur jatuh ke dalam ceruk leher Annette. Tangannya memeluk erat tubuhnya. Annette membeku di posisinya.


"Annette.." Egbert berbicara dalam suaranya yang teredam.


"Y-ya?" Annette dapat merasakan kesedihan pria itu yang dia tidak tau apa penyebabnya.


"Kau tidak boleh jauh-jauh dariku.."


Bulu mata Annette bergetar. Perasaannya menjadi campur aduk, "Kau tidak perlu khawatir. Aku tidak akan melarikan diri dari mu lagi"


Annette mengangkat tangannya dan menepuk-nepuk lembut punggung Egbert, "Aku janji, tidak peduli kau mencintaiku atau tidak, aku akan tetap bersamamu seperti ini"


Jiwa raga Egbert bergetar ketika mendengar itu. Dia dapat merasakan ketulusan hati Annette untuknya. Ketulusan yang tidak pernah dia dapatkan saat bersama dengan Emma.


"Annette.."


Setiap kali Egbert berbicara. Nafas hangatnya berhembus di kulit leher Annette. Membuat Annette begitu saja merasa nyaman, "Ya.."


"Aku mencintaimu"


Saat itu Annette merasa seperti waktu berhenti berjalan dan seakan dia sudah lama terjebak dalam alam mimpi yang panjang.


"A-aku mencintaimu Annette.." Suara Egbert menjadi parau.


"Hiks- aku mencintaimu.."


"Sangat-sangat mencintaimu"


Egbert menangis keras hingga membuat leher dan tulang selangka Annette basah. Biar begitu Annette masih membatu di posisinya, masih berpikir keras...


Antara itu nyata atau mimpi indahnya semata?