
Seorang wanita berdiri di depan cermin, memperhatikan pantulan wajah cantiknya yang tampak begitu menawan di bawah pantulan cahaya lampu kristal yang bergantung di langit-langit kamarnya. Rambut hitamnya yang se-pekat malam, terurai indah hingga ke pundak. Secalik polesan lisptik merah keunguan di bibir, tampak begitu adil dan padu dalam kulit putihnya yang pucat dan berurat.
Mengangkat sebotol parfum, tombol di tekan berkali-kali dan semerbak aroma mawar menguar ke udara. Itu di semprot dan butir-butiran airnya berjatuhan mengenai gaun hitam yang melekat di tubuhnya yang langsing.
Ceklek!
Pintu kamarnya dibuka dan wanita itu menoleh.
"Hum, harum sekali" Seorang pria dengan seragam formal bangsawan nya yang putih emas nan khas, melangkah masuk kedalam tanpa segan.
"Serasa aku seperti baru memasuki kebun mawar" Ucapnya, tampak sebelah matanya berkedip, tersenyum menggoda.
Segaris senyum lurus terbit di bibir wanita itu. Meletakkan botol parfumnya di atas meja rias, ia pun berbalik. Meletakkan salah satu tangannya di dada dan membungkuk sopan memberi salam, "Yang mulia, Duke Rajeev"
"Tak perlu begitu sopan denganku" Rajeev mengambil beberapa langkah ke depan. Berhenti tepat di hadapan wanita yang penuh dengan aroma mawar itu. Tangannya terjulur ke depan dan mendarat di wajah cantiknya yang tirus dan dingin, "Aku sudah mengurus semuanya"
Jempol pria itu yang besar dan panjang, mengusap-usap pipi wanita cantik itu, "Jadi Emma sayang, kau akan beraksi mulai dari malam ini" Ucapnya. Suaranya sensual dan seduktif.
Kedua sudut bibir Emma bertekuk dalam segaris senyum, "Apapun itu, selama itu adalah perintah dari anda, saya akan melakukannya"
"Aah, inilah kenapa aku menyukaimu Emma.." Senyum mengambang di wajah Rajeev yang berkontur tajam nan memikat, "Wanita ku yang sangat penurut" Kekeh nya. Memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapi.
Emma hanya memajukan sedikit bibirnya dengan senyuman yang terkulum rapat. Gerakannya itu tertangkap dalam retina Rajeev yang seketika membara dalam gelora dan terus datang memuaskan hasratnya.
Sepasang mata hitam Emma terbelalak lebar mendapati bibirnya yang padat sudah di kuasai oleh keangkuhan Rajeev yang menciumnya dalam dan panas.
Beberapa menit berlalu, pria angkuh itu sama sekali tidak memberinya ruang untuk bernafas. Tangannya pun jatuh menekan dadanya yang kokoh, tapi ia tidak punya keberanian untuk mendorongnya.
Rajeev seperti menyadari kegelisahan wanita itu, terus menarik jauh bibirnya, memberi ruang untuk Emma bernafas.
Bibir basah nan lembab Emma terbuka dan terengah-engah. Pemandangan itu cukup menggoda di mata Rajeev. Tepat ketika ia hendak menerkamnya lagi, tapi sebuah suara yang lembut nan candu berseru pelan, "Yang mulia"
"Ada apa?" Rajeev agaknya tak suka karena aksinya dihentikan begitu saja.
"Jika anda terus seperti ini, kapan saya akan pergi ke dunia manusia untuk bertemu dengannya malam ini?"
"Hah" Rajeev membuang nafas kasar dan menatap kecut Emma, "Agaknya, kau tidak sabar sekali ingin segera berjumpa dengannya"
Emma tetap dengan perawakannya yang tenang berujar, "Mohon jangan salah paham yang mulia, saya hanya tak ingin rencana anda malam ini terbiar sia-sia begitu saja"
"Aah, begitu kah?" Sepasang alis Rajeev terjalin erat dengan sorot mata tak yakin.
"Bukankah anda sudah mengatur semuanya dengan sangat baik?" Emma melayangkan tatapan penuh keyakinan dan kepercayaan melanjutkan, "Mulai dari waktu, tempat dan kondisi.."
"Yang mulia, saya tak ingin apa yang sudah anda persiapkan dengan baik itu akan menjadi berantakan" Ucapnya, sorot matanya yang lurus dan dalam berhasil mengunci tatapan Rajeev untuk terus terpaku padanya, "Karena akan sangat sulit, jika harus memulainya dari awal lagi"
"Baik" Rajeev menganggukkan kepalanya dengan seulas senyum tipis di bibir meneruskan, "Aku sangat mengapresiasi niat baik mu itu padaku" Ucapnya, se-ringan kapas namun itu tipis tajam seperti lembaran ujung kertas.
Mencodongkan tubuhnya ke depan, membungkuk dan mulutnya jatuh ke ambang telinga Emma, "Jangan mengecewakan aku Emma, atau aku tak akan segan..."
"Khuk.." Emma seketika terperanjat mendapati leher jenjangnya di cekal erat oleh tangan ramping Rajeev. Matanya yang sudah terkebil dan berair, memohon halus agar pria itu menghentikan leluconnya.
"khuk.." Emma berusaha keras menyingkirkan tangan pria itu dari mencekal lehernya, tapi usahanya terus saja gagal. Sepasang matanya pun kian berair dan megap-megap karena kesulitan meraup oksigen sekitar.
Rajeev sesaat cukup menikmati panorama itu. Tidak lama kemudian ia menarik tangannya, berhenti membuat wanita cantik itu kesakitan.
"Haah..haah" Emma bernafas tersengal-sengal setelah berjuang kesusahan meraup oksigen sekitar karena cekalan tangan Rajeev di leher. Ia menatap pria angkuh itu dengan tatapan trauma, yang menyimpan jejak kebencian yang sangat.
"Melihat mu seperti ini, kau tampak semakin cantik" Ucap Rajeev, dengan senyum tak berdosa.
Mata Emma membelalak kaget mendapati tangan pria itu yang lagi-lagi datang menjangkau lehernya.
"Tenang saja, aku tidak akan menyakiti mu"
Emma dapat bernafas lega mendapati pria itu yang hanya membelai lembut lehernya. Walau tetap saja ia merasa mawas, takut akan tangan itu akan mengusik tenggorokannya lagi.
"Selama kau patuh dan setia pada ku, kecantikan mu akan selalu aman dalam genggaman ku" Ucap Rajeev, yang kemudian tangannya mendarat di belahan pipi Emma dan melekap di sana, "Kau mengerti kan maksud ku?"
Senyum keji nya cukup membuat Emma muak. Tapi ia dengan keras menahannya, "Aku mengerti"
"Bagus" Rajeev tersenyum puas.
"Kalau begitu pergilah sekarang!"
Rajeev meletakkan sebuah kartu izin akses ke dunia manusia di atas meja rias dan kemudian berlalu pergi meninggalkan kamar Emma.
Mengepalkan kedua tangannya, Emma menahan segala amarahnya, "Tenang lah Emma.."
"Kau harus tenang"
Begitulah yang Emma lakukan. Setiap kali ia merasa kehilangan kendali dan merasa sangat marah...
Ia hanya memutuskan untuk menenangkan dirinya.
......................