
"Aku tidak peduli kau suami mama ku atau bukan" Ucap Aldrich. Dalam hati ia ingin sekali mengutuk kebodohan ibunya, yang bisa-bisanya memilih pria sial*n seperti Egbert sebagai suami.
"Sejauh ini mama ku sangat mendengar kan ucapan ku. Sekarang juga aku menyuruhnya untuk menceraikan m, ia pasti akan melakukannya" Tutur Aldrich, mengulas senyum bangga di bibir kecilnya dan melanjutkan, "Setelahnya kau bukan suaminya lagi. Jadi, bermimpi saja jika kau ingin menahan mama ku di kastil busuk mu ini"
Egbert tertawa dingin setelah mendengar penuturan bocah satu itu. Itu berlangsung cukup lama sehingga perutnya terasa sakit.
'Kastil busuk?'
'Bocah ini sungguh berani mengatai kediaman mewah ku busuk?'
Egbert bertanya-tanya. Seperti apa Annette membesarkan Aldric sehingga menjadi anak yang sangat pemberani dan bernyali tinggi seperti ini.
Menghadapi Egbert yang tertawa, Aldrich melotot tajam pria itu dan merasa muak dalam hatinya, 'Tertawa apa?'
'Apa ucapan ku terdengar seperti lelucon di telinganya?'
'Pria sial*n!' Aldrich mengepalkan tangannya menahan geram yang mencabar.
"Bocah, kau jangan terlalu bangga" Ucap Egbert yang sudah berhenti tertawa. Untuk pertama kalinya ia merasa tawa dingin nya berlangsung lumayan lebih lama.
"..."
"Mama mu mungkin tunduk dalam kuasa mu. Tapi jelas ada perbedaan kekuatan yang besar antara anak dan suami"
Aldrich menggertak kan giginya, "Apa maksud mu?"
"Maksud ku, kau barangkali memiliki kekuatan untuk membuat mama mu tunduk pada pilihanmu. Tapi aku sebagai suami, juga memiliki kekuatan untuk membuat mama mu patuh dalam kuasa ku. Jadi.." Egbert menyipit kan matanya, sedikit tersenyum seperti iblis, "Jangan bermimpi membuat mama mu bercerai dengan aku"
"Kau—"
Annette baru saja kembali dengan sweater rajut halus bewarna merah muda lembut membungkus tubuh kurusnya. Membawa penampilannya lebih muda dan sangat gadis.
"Sayang, mari sini duduk dengan ku"
Egbert tiba-tiba datang menarik pinggang kecil Annette dan membawanya duduk di atas pangkuan. Mulutnya yang baru saja memanggil Annette 'sayang' dengan intonasi suara yang begitu manis, membuat Annette mengedipkan matanya heran, "Apa yang salah dengan mu?"
"Apa maksud pertanyaan mu?" Setelah membuat Annette duduk di pangkuan, Egbert melingkari kedua tangannya di perut Annette yang datar tak berlemak, "Aku hanya menyuruh mu duduk disini. Apa yang salah dengan itu?"
Annette lagi-lagi mengedipkan matanya. Tentu saja itu aneh mendengar pria itu memanggilnya sayang. Tapi melihat ada Aldrich didepannya, ia merasa begitu malas memperdebatkan soal itu.
"Sangat tidak nyaman duduk seperti ini, aku akan pergi duduk di samping Aldrich"
Annette perlahan bangun dari pangkuan Egbert, tapi pria itu langsung menahannya dan membuatnya duduk kembali.
"Patuh lah. Duduk saja di sini"
"Tapi—"
"Tidak ada tapi, duduk!" Egbert mengencangkan tangannya yang melilit perut Annette. Seakan jika Annette tidak menuruti kemauannya, lilitan itu akan semakin erat dan ketat, hingga membuat wanita itu akan sakit hingga merasa sesak.
Annette yang tidak ingin penampilan dirinya yang tertindas itu di sadari oleh Aldrich. Terpaksa mengulas senyum berucap, "Baiklah" Annette menepuk pelan tangan Egbert, menyuruh pria itu untuk sedikit melonggar kan lilitan tangannya di perutnya.
Saat itu Egbert melonggar kan tangannya di perut Annette dan kemudian meletakkan dagunya dengan manja di atas pundak kecil wanita itu, "Istriku memang sangat penurut" Ucapnya, matanya tersenyum licik kearah Aldrich seakan berbicara...
'Lihat!'
'Aku bisa membuat mama mu begitu patuh terhadap ku'