
Nathan melangkah memasuki apartemen nya dengan langkah yang lunglai. Dia tidak bersemangat. Kepergian Eil membuat hatinya hancur berkeping-keping. Kenapa dia harus meninggalkan Nathan. Bukankah Eil sudah berjanji untuk kembali kepadanya. Lalu kenapa dia mengingkari janji itu.
Perang....
Nathan melempar semua barang yang ada di depan matanya. Apartemen nya kini berubah menjadi seperti kapal pecah yang tidak berpenghuni. Kerapihan dan kebersihan yang selalu dia jung-jung tinggi kini hanya tinggal sebuah ilusi. Dia sudah tidak memperdulikan hal itu lagi. Semua kepedihan uang dia rasakan membuat otaknya tidak bekerja seperti biasa.
Bagaimana mungkin dia bersikap normal sementara wanita yang dia cintai pergi meninggalkannya. Haruskah Nathan membiarkan Eil pergi? haruskah dia menerima semua itu? apa dia memang tidak pantas untuk Eil.
"Aku mencintaimu Eileria Song!" teriak Nathan. Dia tersungkur di atas lantai yang dingin. Pelukan dari lantai itu tak lantas membuatnya kedinginan, bukan tubuhnya yang dingin, melainkan hatinya. Hatinya membeku, sampai-sampai dia takut kalau satu hentakan saja menggoncang hatinya, hatinya akan retak dan hancur.
****
"Apa kau baik-baik saja Nathan? aku harap kau tidak terluka. Aku harus melakukan ini supaya Bara percaya padaku dan semuanya akan cepat berakhir. Aku janji, aku janji kalau semuanya akan berjalan sesuai rencana. Aku akan pergi dari kehidupan lama ku setelah masalah Belle dan Bara selesai. Semoga kau bisa menunggu ku Nathan. Aku mencintaimu suamiku."
Bara memperhatikan Eil dari belakang dia tersenyum melihat Eil yang sudah kembali ke rumahnya. Bukankah itu yang dia harapkan. Dia ingin memiliki Eil seutuhnya. Hanya dia, dan tidak boleh orang lain. Hanya dia yang boleh memiliki Eil.
"Apa yang sedang kau pikirkan Eil?" tanya Bara memeluk Eil dari belakang.
Eil dengan susah payah menahan emosinya. Dia sangat ingin menghajar Bara, tapi dia tidak mungkin melakukan itu. Kalau sampai dia gagal membujuk Bara dan membuatnya takluk, dia tidak akan memiliki kesempatan lagi untuk mendekati Bara dan mengungkap semua kejahatan yang sedang dia lakukan.
"Bagaimana bisa kau datang bersama Nathan Bara? apa yang terjadi?" tanya Eileria.
Flashback on
Nathan turun dari mobilnya begitu dia melihat Eil di hadang oleh segerombolan orang yang dia yakini ingin menyakiti istri kecilnya itu. Dia hendak pergi menolong Eil namun, tangan seseorang menahan lengannya dan menariknya ke tepian jalan.
"Kau siapa?" tanya Nathan dengan air muka yang dingin.
Bara tersenyum menyeringai. Dia melepas cekalan tangannya lalu menatap Nathan tajam. Saking tajamnya, siapapun yang melihat tatapan itu pasti akan menciut. Tapi tidak dengan Nathan, untuk laki-laki yang ingin menolong wanita yang dia cintai, halangan seperti apapun tidak akan membuatnya gusar. Meskipun yang ada di hadapannya adalah macan atau singa, Nathan tidak akan goyah. Dia akan terus maju sampai dia bisa memastikan kalau Eil nya memang baik-baik saja.
"Jauhi Eil Nathan. Aku yakin kau sudah tahu latar belakang Eil yang sesungguhnya. Kau itu tidak pantas untuk Eil. Dia wanita yang bebas dan kuat. Kau sama sekali tidak bisa di sandingkan dengan nya."
"Cih, kau siapa? apa hak mu melakukan ini? aku mencintainya, dan dia juga mencintaiku. Kau tidak bisa memisahkan kami begitu saja. Kau tidak berhak."
Bara sudah siap ingin menghajar Nathan, namun sayup-sayup dia mendengar suara Eil yang hendak menantang orang-orang yang ingin menyerangnya.
"Urusan kita belum selesai Nathan. Aku akan kembali lagi nanti," ucap Bara dingin.
Flashback of
"Aku ingin istirahat Bara, aku boleh ke kamar ku sekarang kan?" tanya Eil ketika Bara audah selesai menjelaskan kejadian yang terjadi tadi.
"Pergilah! besok kita akan mulai mencari keberadaan Belle. Aku harap semuanya berjalan sesuai rencana kita."
Eil pergi dari hadapan Bara. Dia berjalan dengan tergesa. Perlakuan Bara padanya membuat dia ingin muntah darah. Sesampainya di kamar, dia langsung berlari ke kamar mandi. Tangannya dengan cepat membuka keran air di wastafel.
Eil membasuh wajahnya berkali-kali. Dia menggosoknya kening yang terdapat bekas kecupan Bara. Mungkin jika wanita lain yang mendapat perlakuan seperti ini mereka akan senang. Tapi ini Eil, dia tidak menyukai Bara. Dia sangat membencinya. apapun yang laki-laki itu lakukan padanya dia tidak akan pernah mau menerimanya.
"Bajingan kau Bara. Aku diam bukan karena aku tidak bisa melawan. Aku hanya ingin hubungan kita segera berakhir. Aku ingin segera pergi bersama Nathan dan hidup bahagia bersamanya."
Sebanyak apapun yang Bara berikan kepadanya, dia tetap mencintai Nathan. Baginya hanya Nathan lah laki-laki yang mampu membuatnya bertekuk lutut dan tidak berdaya.
"Apa yang sedang kau lakukan Nathan?" gumam Eil sambil menatap pantulan dirinya di cermin wastafel.
****
"Apa yang kau lakukan Nathan!" teriak Lukas merebut botol alkohol yang ada di tangan Nathan. Dia menatap heran laki-laki yang menjadi kakak kandungnya itu. Bukankah sewaktu dia melakukan pesta dengan nya di apartemen Sulli dia masih baik-baik saja, kenapa sekarang dia terlihat sangat kacau.
"Berikan itu padaku Lukas!" ucap Nathan lemah. Dia mulai sempoyongan dan kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Lima botol sudah tergeletak di atas meja, dan yang di rebut Lukas adalah botol ke enam yang dia minum.
"Aku tidak akan memberikan nya Nathan. Sadarlah! apa yang membuat mu seperti ini? apa kau sudah gila?"
Lukas membuang botol alkohol itu ke dalam tong sampah.
"Eil yang membuat mu seperti ini bukan? apa yang terjadi? apa dia meninggal kan mu?" tebak Lukas. Nathan belum pernah bersikap seperti ini. Jadi kalau dia sampai bertingkah gila seperti sekarang, penyebabnya bukan lain pasti Eileria.
"Kenapa kau diam Nathan? apa yang aku katakan itu benar? Eil meninggal kan mu?" teriak Lukas memperhatikan wajah Nathan lekat. Laki-laki itu semakin menunduk dalam. Lukas tidak salah, Nathan pasti begini karena Eil.
"Sadarlah Nathan! kalau kau benar-benar mencintainya, kejar dia, jangan biarkan dia pergi. Aku tahu dia sangat mencintaimu. Kalau dia sampai pergi meninggalkan mu, pasti ada alasannya. Jangan bertingkah seperti seorang pengecut seperti ini Nathan."
Nathan mendongak. "Dia pergi dengan laki-laki lain Lukas."
Bughhhhh...
Lukas meninju wajah Nathan. Matanya berkilat marah. "Apa kau bodoh? Eil itu bukan wanita gampangan. Dia pasti melakukan itu untuk membuat mu menyerah dan pergi meninggalkannya. Kenapa kau tidak peka? apa kau sangat bodoh sampai kai tidak bisa mengerti sifat istrimu sendiri."
Nathan diam. Dia mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Lukas, dia berpikir meskipun kepalanya sudah sangat pusing. Tapi apa yang di katakan Lukas memang ada benarnya. Eil pasti sengaja melakukan itu untuk membuatnya pergi menjauh.
...To Be Continued....