The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Kencan



Di bab ini bonus visual ya...🤗


Eil menatap pantulan dirinya di depan cermin. Hari ini sia sudah berdandan sangat cantik karena dia ingin mengajak Nathan pergi jalan-jalan. Semua kekacauan yang sedang terjadi membuat Eil merasa sangat jengah dan sesak. Dia ingin melakukan hal-hal menyenangkan bersama Nathan sebelum dia mulai sibuk mengurusi pekerjaannya di dalam organisasi.


Nathan masih membersihkan dirinya di kamar mandi. Eil yang sudah mantap melihat penampilannya memutuskan untuk turun ke lantai bawah dan menyiapkan sarapan untuknya dan Nathan, paling tidak dia akan membuatkan Nathan teh karena sarapan pagi nya memang sudah di siapkan oleh Aami.


Dua puluh menit menunggu, Nathan masih belum turun. Apa laki-laki itu sedang bingung memilih pakaian atau bagaimana, biasanya dia tidak mandi selama ini, atau jangan-jangan dia kembali tidur? tapi itu tidak mungkin. Eil bangkit dari kursinya laku berjalan ke arah rak buku kecil untuk mencari sesuatu yang bisa dia baca.



Namun saat dia hendak mengambil bukunya, sebuah tangan besar menarik bahunya lalu mengangkatnya dan mendudukkannya di meja pantry.



"Nathan!" panggil Eil. Dia tahu, hanya suaminya yang akan melakukan hal-hal gila seperti ini. "Apa yang kau lakukan?" tanya Eil.


Nathan tidak menjawab pertanyaannya istrinya. Dia malah menjauhkan dirinya dan mengamati Eil dari jauh. "Kau berdandan seperti anak SMA Baby? apa kau ingin membuat para berondong mengejar mu?"


Eil terkekeh. Ucapan Nathan ini sangat lucu. Baiklah, jika Nathan menganggapnya seperti itu, Eil akan melakukan apa yang telah di deskripsikan Nathan tentang penampilannya.


"Apa Kakak tidak menyukai penampilanku?" tanya Eil sambil berpose seperti anak remaja yang sedang jatuh cinta namun malu-malu saat dia berhadapan dengan laki-laki yang di cintainya.


Nathan di buat gemas dengan kelakuan Eil. Dia berjalan ke arah istrinya lalu menarik Eil supaya gadis SMA itu bisa melihat wajah Eil lebih dekat.


Eil menunduk sambil mengalungkan tangannya di leher Nathan. Dia tersenyum lalu mengedipkan sebelah matanya membuat Nathan semakin menggeram dalam hati.


"Kau menggodaku Baby?" bisik Nathan di telinga Eil. Wanita cantik itu hanya terkekeh.


Cup.. Eil mengecup bibi Nathan sekilas. "Sarapan dulu Byy."


"Kau menyuruhku sarapan tapi malah memelukku seperti ini?"


"Hmm... Aku mau turun. Kau gendong aku ya!" mohon Eil pada suaminya.


"Dengan senang hati."


Seperkian detik berikutnya Eil sudah melayang di udara. Ya, Nathan mengangkat bo kong Eil lalu memindahkannya ke kursi meja makan. Pagi hari itu mereka lewati dengan suasana hangat yang sarat akan cinta dan juga kasih sayang. Nathan dengan segala perhatiannya sedangkan Eil yang humoris dan agak sedikit jahil membuat pagi itu menjadi sangat berwarna.


Satu jam kemudian, mereka sudah sampai di sungai seine yang ada di kota paris. Sungai panjang yang membelah kota Paris menjadi dua bagian itu menjadi sebuah tempat wisata yang sangat di sukai masyarakat di sana. Selain pemandangan yang sangat indah, kebersihan lingkungannya juga terjaga dengan sangat baik. Bahkan kalau kita hanya joging atau bersepeda di pinggiran sungai, kita akan merasa senang dan juga bahagia, ya ibaratnya kita sudah menikmati hidup dengan cukup baik.



"Wah, ini sangat indah Nathan!" ungkap Eil. Cuaca siang itu juga sangat cerah membuat pemandangan di sungai seine sangat memukau mata. Bahkan Menara Eiffel yang menjulang tinggi itu menambah kesan aesthetic bagi siapa saja yang melakukan selfi atau berswa foto bersama pasangan atau keluarga.


"Kita akan memesannya dulu oke?"


"Hmmmm"...Angguk Eil antusias.


Setengah jam kemudian, mereka sudah ada di atas kapal pesiar. Eil mencondongkan badannya ke arah air sungai. Dia tentu tidak takut akan jatuh karena dia berpegangan pada pembatas kapal pesiar itu.


Nathan tersenyum, saat dia melihat raut bahagia di wajah istri kecilnya. Kenapa dia baru mengenal sosok Eileria sekarang? kenapa tidak sejak dulu? Nathan menyesal karena pernah menolak perjodohan yang di lakukan Darius untuknya. Dia pikir memiliki pasangan hidup itu akan sangat melelahkan dan sangat merepotkan, namun entah mengapa saat ini dia merasakan hal yang berbeda. Dulu dia sangat menyukai kedamaian, tapi setelah ada Eil, dia seakan di tarik ke dunia istrinya yang Nathan tahu sangat bertolak belakang dengan dunianya sendiri.


"Kenapa malah melamun?" tanya Eil sambil berlari ke arah suaminya dan memeluk Nathan erat.


"Aku sedang memikirkan masa lalu," ucap Nathan. Eil langsung mendongak meskipun tangannya masih melingkar di pinggang Nathan.


"Kau sedang memikirkan Belle?" tuduh Eil. Matanya semakin menyipit menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut suaminya.


"Kau itu bicara apa?" tanya Nathan sambil mencubit hidung Eileria. "Bukan itu yang aku pikirkan, aku hanya sedang berpikir, kenapa aku tidak mengenalmu sejak dulu!"


Eil mengangguk. "Bukankah dulu kau sangat membenciku? aku bahkan tahu kalau kau sangat baik pada Bao. Tapi kau tidak pernah bersikap baik padaku barang sekali pun. Kalau kita tidak melakukan hubungan tanpa sengaja, apa kau akan mulai menyukaiku? bukankah dulu kau hanya ingin bertanggung jawab karena telah merenggut kegadisanku?"


Nathan mengangkat tangannya lalu menangkup wajah Eil sambil mengelus pipi Eil dengan ibu jarinya. Usapan lembut itu membuat Eil merasa sangat nyaman.


"Maafkan aku Baby! aku dulu memang tidak menyukaimu. Dan ya, aku akui memang pada awalnya aku hanya memiliki rasa bersalah dan hanya ingin mempertanggung jawabkan perbuatan ku. Tapi sekarang semuanya berbeda. Aku mencintaimu Eil. Sangat."


Cup.. Sebuah kecupan mendarat di bibir tipis Eileria, perlahan mereka memejamkan matanya. Bibir yang pada awalnya hanya saling menempel itu semakin lama semakin bergerak beraturan. Saling menyahut dan saling berbagi saliva. Mereka seakan lupa kalau mereka tidak berdua di atas kapal pesiar itu. Burung-burung yang terbang melintasi dua sejoli yang sedang memadu kasih itu semakin menambah suasana romantis. Bahkan ada beberapa orang yang mengabadikan momen langka yang mereka lihat di depan mata mereka sendiri.


"I love u Eil," ucap Nathan saat tautan mereka sudah terlepas.


"I love u more Nathan."


Setelah puas menikmati suasana di atas kapal pesiar, mereka berpindah ke sebuah taman yang masih ada di sekitar sungai seine. Nathan menuntun Eil untuk duduk di sebuah kursi panjang yang ada di taman itu.


"Aku akan membeli air dulu sebentar. Kau tunggu di sini ya!" ucap Nathan. Eil tersenyum lalu mengangguk mengiyakan apa yang di perintahkan Nathan padanya.


Sepuluh menit berlalu, Nathan sudah kembali dengan membawa botol air dan sebuah ice cream kesukaan istrinya.


Brukkkk.... Botol air dan ice cream yanga ada di tangan Nathan jatuh ke tanah saat laki-laki itu melihat seseorang berjalan ke arah istrinya sambil membawa senjata tajam.


"Eileria!" teriak Nathan berlari ke arah istrinya.


...To Be Continued....