The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Menghabisi Eileria



"Kak! aku buatkan sarapan untuk Kakak." Amber menyodorkan sepiring nasi goreng di ke hadapan Jerome.


Jerome hanya melirik piring itu sekilas. Dia meneguk air yang ada di gelasnya kemudian berjalan keluar melewati pintu apartemen. Dia masih sakit hati dengan apa yang semalam Amber katakan padanya. Jadi dia masih tidak ingin berbicara pada Amber. Biarlah Amber menyadari kesalahannya terlebih dahulu.


Helaan nafas Amber terdengar sangat berat. Dia tahu dia salah, tidak seharusnya dia mengatakan hal-hal menyakitkan seperti apa yang dia katakan tadi malam. Salahkan mulutnya yang tidak bisa di rem. Mungkin dia harus mengganti kanvas rem dalam mulutnya itu.


"Aku tahu aku salah Kak. Kau berhak marah. Tapi melihat mu diam seperti ini aku menjadi tidak bersemangat. Hari ini aku tidak ada jadwal kuliah, lalu aku harus apa di rumah?"


Amber duduk di kursi yang ada di dekat pantry. Dia menarik piring berisi nasi goreng yang tadi dia buat untuk Jerome lalu mulai memakannya.


Kali ini Amber tidak menangis. Meski dia sangat egois, tapi ucapannya semalam memang tidak bisa di benarkan. Amber bingung harus melakukan apa supaya Jerome tidak marah lagi padanya.


"Jangan marah lama-lama Kak. Aku kesepian kalau kau mendiamiku seperti ini," gumam Amber di sela-sela kegiatan mengunyah nya.


Sementara di tempat lain. Eil sedang sibuk bermain dengan harimau kesayangannya.


"Bao! kenapa Nathan belum memberikan mu seekor betina sih? apa dia sangat sibuk? aku sangat kasihan kepadamu Bao. Aku saja yang dulu menjomblo sekarang sudah ada pasangan. Masa kamu masih menjomblo aja. Malu sama umur."


Gerrrrrrrr....


Eil terkekeh saat harimau itu meggeram sambil menggosokkan kepalanya di kaki Eil.


Dia kembali mengajak Bao berlari mengitari taman yang ada di samping mansion-nya sekalian berolahraga.


"Baby!" panggil Nathan.


Eil menoleh...


"Yes Byy!" jawab Eil. Dia tersenyum lalu berjalan mendekati Nathan.


"Aku akan berangkat sekarang. Kau baik-baik lah di rumah. Kalau ada apa-apa kabari kau segera, dan ya, kalau mau keluar hati-hati. Jangan sampai kamu kenapa-napa. Orang-orang di luaran itu sudah banyak yang tidak waras."


Nathan menarik pinggang Eil ke dalam dekapannya. Dia memainkan rambut yang menghalangi wajah cantik Eil dan menyelipkannya ke belakang telinga.


"Kau juga hati-hati Nathan," ucap Eil sambil mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami. Eil berjinjit lalu mengecup bibir Nathan sekilas.


Nathan tersenyum. Dia menarik tengkuk Eil lalu menghujami bibir Eil dengan sebuah ci uman vakum yang sangat Eil sukai.


"Nathan kau akan terlambat," gumam Eil di sela-sela ci u man panas mereka.


Nathan terkekeh. Dia melepas tautannya lalu menatap Eil dalam. Eil yang di tatap seperti itu menjadi sangat malu. Pipinya mendadak panas, dia yakin, dia sedang menggunakan blash on alami saat ini.


"Aku akan pergi sekarang Baby," ucap Nathan lembut. Sebenarnya dia masih ingin bermanja-manja dengan istri kecilnya. Tapi Nathan laki-laki. Dia harus bekerja supaya dia bisa menafkahi Eil dan memberikan apa yang di butuhkan istrinya itu.


Cup.. Nathan mengecup kening Eil sekilas.


"Hmmm.. Hati-hati!" ingat Eil. Dia melambaikan tangannya kepada Nathan yang sudah mulai pergi menjauh darinya.


Plakkk....


Eil menepuk jidatnya tiba-tiba.


"Aku lupa meminta Nathan untuk membelikan mu betina Bao." Eil meruntuki kebodohannya sendiri. Gara-gara Nathan mencum buinya tadi, dia jadi lupa untuk meminta Nathan supaya dia membelikan seekor betina untuk Bao.


Gerrrrrrrr.....


Bao menggeram menanggapi apa yang di ucapkan Eil pada nya.


****


"Apa Ayah yakin Ayah bisa menangani ini semua?" tanya Belle pada laki-laki paruh baya yang ada di hadapannya.


Laki-laki itu tersenyum menyeringai. Dia mengambil gelas koktail yang ada di hadapannya lalu meneguknya sampai habis.


"Apa kau meragukan Ayah Belle?" tanya Ayahnya dengan senyum yang sinis.


"Tidak, tentu saja tidak. Aku akan memberitahumu di mana Eil tinggal. Tapi kalau Ayah sampai gagal. Bukan cuma nyawa Ayah yang terancam. Tapi nyawaku juga."


"Ayah mengerti. Kamu tidak harus memberitahu Ayah seperti itu, Ayah sudah jauh berpengalaman daripada kamu."


Belle mengangguk paham. Dia mulai menceritakan segalanya pada Ayahnya. Darimana dia mengenal Eil, Eil orang seperti apa, siapa suaminya Eil, dan siapa orang yang melindunginya.


Ayah Belle tentu tidak bodoh. Bagi seorang yakuza, melakukan hal seperti membantai atau memenggal kepala orang bukanlah hal yang salah. Selain samurai, dia juga memiliki hal lain seperi senjata api dan belati. Jadi bisa di bilang, Ayah Belle ini multi tasking. Selain pandai ilmu bela diri, dia juga sangat pandai menggunakan senjata.


"Kita akan berangkat sekarang Ayah. Aku tahu dia tidak ada jadwal di rumah sakit hari ini, dia pasti ada di mansion-nya."


Ayah Belle mengangguk. Dia mulai menyiapkan bala tentaranya dan segera bersiap untuk pergi menemui Eil. Wanita itu bisa mengalahkan semua anggotanya karena dia memiliki pasukan bukan? kalau wanita itu sedang sendiri, Ayah Belle yakin, Eil tidak akan bisa berkutik.


"Kita pergi sekarang!" titah sang Yakuza pada semua orang-orang nya."


"Siap Bos!" jawab mereka serempak. Siang itu iring-iringan mobil mewah berjejer seperti kereta menuju kediaman Eil.


Dan setelah mereka sampai, mereka mulai menyisir seluruh bangunan milik Nathan.


Dor....


Srakkkk...


Beberapa pengawal yang di pekerjakan oleh Nathan mulai tumbang satu persatu. Sementara pengawal yang lain, mereka berlari dan bersembunyi di balik pepohonan dan ada juga yang berlari ke dalam hutan.


"Terus sisir area ini!" titah Ayah Belle.


Sementara Belle, dia menunggu dan duduk dengan manis sambil menikmati rokoknya di dalam mobil. Dia sama sekali tidak terganggu dengan banyak nya orang yang di tembak dan di tebas lehernya dengan sangat brutal. Bagai adegan slow motion, apa yang terjadi di depan Belle terlihat sangat indah, belum lagi alunan musik klasik yang sengaja Belle setel di dalam mobilnya menambah susana menjadi sangat menyenangkan.


"Matilah kau Eil. Aku yakin, kali ini kau tidak akan selamat. Kau akan mati di tangan Ayah ku. Tidak, biarkan Ayah dan anak buahnya mencicipi tubuhmu terlebih dahulu, baru setelah itu aku sendiri yang akan memenggal kepalamu."


Sementara Belle sibuk dengan halusinasinya, Ayah Belle dan yang lainnya mulai masuk ke dalam mansion. Seringai muncul di bibir Yakuza itu saat dia melihat wanita cantik bertubuh seksi sedang menunduk di bawahnya.


Srakkkk.....


Darah segar muncrat dari sobekan leher yang di tebas menggunakan pedang oleh Ayah Belle.


"Maafkan aku Belle, aku tidak bisa membiarkan tangan cantikmu itu melakukan hal-hal yang kotor seperi ini. Biar aku saja yang melakukan segalanya untuk mu."


...To Be Continued....