The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Menghajar Lukas



"Kau mau ke mana Jerome?" teriak Sulli marah.


"Aku ingin membunuh Lukas."


"Kau gila Jerome!" teriak Sulli di depan wajah laki-laki yang sedang mengeluarkan api dari telinga dan hidungnya.


"Kau ingin membunuh Ayah dari bayi yang di kandung Amber Jerome, kau mau bayi itu hidup tanpa seorang Ayah? Jangan gila, biarkan dia hidup dengan normal Jerome. Kau tidak boleh membiarkan bayi itu kehilangan ayahnya Jerome."


Jerome tidak bergeming. Dia menepis tangan Sulli sekuat tenaga, Sulli memang memiliki kemapuan ilmu bela diri yang memumpuni, itu sebabnya Jerome tidak bisa melepaskan tangan Sulli dengan mudah.


"Dasar brengsek. Mati saja kau Jerome!" teriak Sulli menyemburkan lahar panas dari dalam mulutnya.


Sulli berjalan mendekati ranjang Amber. Dia menatap Amber dengan tatapan yang sulit untuk di artikan. Di bilang simpati tidak, di bilang senang juga tidak. Hanya Sulli yang bisa membaca ekspresi wajahnya sendiri.


"Aku akan menyusul Jerome. Kau diam di sini dan jangan kemanapun. Kalau kau berani keluar dari ruangan ini, aku sendiri yang akan membunuh Jerome dengan tangan ku sendiri."


Sulli terpaksa mengancam Amber dengan kata-kata seperti ini. Orang yang sedang banyak pikiran seperti Amber tidak akan mempan kalau dia sendiri yang di ancam. Sulli harus mengancam orang yang di cintai Amber supaya Amber mau mendengarkan nya.


Wanita yang di sebut wanita jadi-jadian oleh Jerome keluar dari rang rawat Amber dan pergi menyusul Jerome. Dia sedikit tahu tentang hubungan Amber dan Lukas dari Eileria, setidaknya dia punya satu tempat tujuan untuk menyusul Jerome.


"Awas saja kalau kau melakukan hal yang nekat Jerome. Aku akan menghajar mu sampai habis."


Sulli keluar dari mobilnya. Dia berjalan dengan tergesa masuk ke dalam perusahaan milik keluarga Lukas. Lebih tepatnya milik Nathan karena dia lah pemilik saham paling besar sekaligus pendiri perusahaan itu.


"Ada yang bisa di bantu Nona?" tanya seorang resepsionis pada Sulli.


"Saya calon istri Lukas. Kau bisa menunjukkan di mana ruangannya?" tanya Sulli pada resepsionis itu. Dia sengaja menekankan kata calon istri supaya dia bisa masuk dengan mudah. Di perusahaan besar seperti ini, mana bisa dia masuk sembarangan ke ruang pimpinan tanpa membuat janji terlebih dahulu.


Resepsionis itu menunjukkan letak ruangan Lukas meski dia sedikit ragu dengan apa yang di katakan Sulli. Apa akhir-akhir ini bosnya suka gonta ganti pasangan? Perasaan minggu-minggu kemarin bukan orang ini yang datang ke perusahaan untuk menemui atasannya Lukas.


"Ini dia ruangannya Nona," ucap resepsionis itu menunjuk pintu ruangan Lukas.


Amber tidak menyahut. Dia langsung membuka pintu ruangan itu dengan kasar. Dia langsung melongo melihat keadaan di depannya yang adem ayem dan tak terjadi hal-hal yang di takutkan oleh Sulli. Di ruangan itu ada Lukas yang sedang berbicara dengan beberapa orang yang sama-sama berpakaian rapih. Mungkin mereka sedang meeting atau apalah, tapi yang jelas mereka terlihat sangat serius.


"Apa yang kamu lakukan di sini Sulli?" tanya Lukas menghampiri Sulli.


"Apa Jerome tidak ada di sini?"


Lukas mengerutkan keningnya bingung. Kenapa Sulli menanyakan keberadaan Jerome padanya, apalagi menanyakan Jerome di kantornya, dia dan Jerome tidak pernah akur. Jangankan untuk urusan bisnis, sekalinya dia mengantar Amber ke apartemen mereka saja Jerome sudah mengeluarkan hawa dingin yang luar biasa.


"Kenapa kau menanyakan Jerome padaku Sulli?" tanya Lukas yang memang belum mengetahui apapun.


"Ini gawat Lukas. Dia pasti pergi ke rumah ayah mu. Kau harus menyusul ku ke sana! Aku tidak punya banyak waktu. Ayahmu sedang dalam bahaya."


Mendengar kata ayahnya yang sedang dalam bahaya Lukas langsung masuk ke dalam dan meminta maaf kepada beberapa kliennya. Dia tidak bisa melanjutkan meeting nya karena dia harus segera pergi ke rumah.


"Ayah kenapa kau tidak mengangkat teleponnya? Angkat lah Ayah!"


Lukas masih terus berusaha menghubungi ayahnya. Namun sayang, sejak tadi Darius tidak mau mengangkat panggilan nya. Sebenarnya apa yang sedang terjadi, kenapa merasa sangat khawatir.


Sulli sudah ada di depan kediaman Lukas dan keluarga nya. Dia ingin masuk tapi Lukas sudah datang menyusulnya. Laki-laki itu memang agak sedikit gila kalau sudah menyangkut maslah keluarga. Mungkin dia mengendari mobil tanpa menginjak rem, karena itu dia bisa menyusul Sulli dengan cepat.


"Cepatlah Lukas!" titah Amber sambil melambaikan tangannya ke arah Lukas.


Mereka masuk ke dalam rumah. Langkah mereka semakin cepat karena mereka mendengar suara Alard yang sedang menangis.


"Jerome!" gumam Sulli.


Darius dan Jerome menoleh. Darius berdiri lalu berjalan mendekati Lukas dengan tergesa.


Plakkkkkkk...


Sebuah tamparan mendarat di wajah tampan Lukas. Dragon tersenyum tipis sebelum mengeluarkan kata-kata pedasnya.


"Dasar anak tidak berguna!"


Plakkkkkkk....


"Anak gak tahu malu!"


Plakkkkkkk...


Lukas meringis. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya. Lukas mengusap darah itu menggunakan ibu jarinya.


"Apa yang Ayah lakukan? Kenapa Ayah memukul ku?"


Teriak Lukas tidak terima mendapatkan tamparan dari Darius. Dia menatap ayahnya sengit. Darius pun melakukan hal yang sama. Dia ingin memukul Lukas lagi, namun Sulli menghentikannya.


"Paman sudah! Di sini ada anak kecil. Apa kalian tidak bisa lebih bijak sebagai orang dewasa? Kalian itu benar-benar gak ada otak."


Sulli berjalan mendekati Alard. Dia merengkuh tubuh mungil itu dan mengusap kepalanya lembut.


"Jangan menangis lagi Sayang. Semuanya baik-baik saja. Kakek dan Daddy mu hanya sedang bermain."


"Hikssss... Alad mau ketemu sama Kakak Cantik Kak. Om itu bilang Kakak Cantik sakit," tunjuk Alard pada Jerome yang masih diam bak patung.


Sulli mengerti. Anak kecil ini menangis bukan karena melihat keributan yang sedang terjadi. Dia menangis karena khawatir pada Amber.


"Kita akan menemui Kakak Cantik nanti Sayang. Sekarang kita pergi ke kamar kamu saja ya. Kakak antar Alard ke sana ya!"


Alard mengangguk. Dia menuntun Sulli untuk pergi ke kamarnya. Mungkin dia menurut karena memang Sulli menjanjikan untuk menemui Amber.


"Selesaikan masalah kalian secepatnya! Kalau saat aku keluar kalian masih berkelahi. Aku akan membawa Alard juga Amber dan bayi yang ada di dalam kandungannya pergi menjauh dari negara ini."


Lukas mematung. Bayi, bayi apa? Amber hamil ? Anak siapa?


"Ayah ini maksudnya apa?" tanya Lukas pada Darius.


"Amber hamil anak mu brengsek."


Bughhhhh.....


Lukas kembali tersungkur saat Jerome memukul wajahnya dengan sangat kuat. Lukas ingin membalas pukulan itu namun Darius mencegahnya.


"Menikah lah dengan Amber secepatnya Lukas! Dia mengandung anak mu. Hari ini dia hampir kehilangan calon bayi kalian karena dia terlalu stress."


Lukas diam. Amber hamil anaknya? Tapi dia baru melakukan itu satu kali, apakah mungkin Amber hamil anaknya.


"Ayah akan memberi mu waktu dua minggu."


...To Be Continued....