The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Manusia Primitif



"Apa kau sudah gila?" tanya laki-laki itu yang sukses membuat Sulli terbatuk.


"Uhukkkk.."


Sulli langsung terduduk dengan posisi yang baik. Dia menggerutu dalam hati. Kenapa bisa seorang laki-laki tampan seperti ini tidak tertarik padanya? apa dia kurang cantik? kurang seksih? apa buah dada yang sebesar melon itu tidak membuatnya tertarik.


"Maaf Tuan Ganteng. Ternyata anda adalah orang primitif."


Laki-laki itu hanya diam. Dia tidak mau menanggapi apa yang di katakan Sulli padanya. Wanita ini benar-benar aneh. Dia mengatakan kalau dia adalah orang primitif. Padahal dia sendirilah yang orang primitif, bahkan baju yang dia kenakan saja sudah seperti baju tarzan yang kekurangan bahan.


"Kita sudah sampai!" ucap laki-laki itu. Dia turun dari mobil, namun setelah menunggu agak lama, wanita primitif yang dia dia maksud tidak kunjung keluar. Dia kembali membuka pintu dan mencondongkan badannya ke dalam.


"Kenapa kau malah diam? turun!" titahnya.


Wanita itu malah tersenyum dengan senyuman yang lebar. "Aku mau turun kalau kau membukakan pintu untuk ku. Kau tahu, seorang putri itu harus di perlakukan dengan baik oleh pangeran."


"Astaga. Kau benar-benar menjengkelkan."


Laki-laki itu mendumel tapi dia tetap melakukan apa yang di inginkan Sulli. Lebih baik dia menurut supaya urusannya bisa cepat selesai. Terlalu lama bersama dengan wanita primitif ini membuat kepalanya migren.


"Terimakasih Pangeran Ganteng," puji Sulli dengan suara mendayu-dayu.


"Namamu siapa?" tanya Sulli yang baru sadar kalau sejak tadi mereka belum berkenalan.


"Aku Jerome," ucap laki-laki itu singkat.


"Akh Jerome, aku suka. Namamu bagus, sebagus wajah dan juga body mu."


"Terserah kau saja."


Jerome melenggang pergi yang di ikuti Sulli di belakangnya. Wanita itu terus tersenyum menatap punggung lebar Jerome, tubuh tingginya membuat Sulli semakin terpesona, bahkan bayang-bayang di mana dia sedang memadu kasih dengan Jerome melintas begitu saja.


"Sadar Sulli, meski kau wanita tangguh dan tidak pernah kehilangan crush mu, tapi kau tidak boleh berpikir terlalu jauh, kalai dia sampai takut melihat mu yang terlalu agresif, kau harus berusaha lebih keras untuk mendapatkan nya nanti."


Sulli terus bergumam dalam hati. Dia masih saja membayangkan Jerome di atas ranjang.


"Astaga, aku bisa gila," gumamnya dalam hati.


Brukkkk...


Sulli mengelus keningnya yang tidak sengaja menabrak sesuatu.


"Kalau jalan itu pake mata!" sarkas Jerome masih dengan nada ketusnya. Dia tidak memperdulikan Sulli yang sedang kesakitan mengelus keningnya.


"Kau itu tidak berperasaan. Kenapa juga punggung mu ini sangat keras, kening ku sakit tahu."


Jerome tidak memperdulikan ocehan Sulli. Bukankah tadi Sulli yang salah? dia yang tidak melihat jalan dengan benar. Sudah tahu kalau Jerome segede itu, tapi masih aja di tabrak. Gak beradab memang.


"Ini adalah apartemen yang akan kau tempati," tunjuk Jerome pada sebuah pintu apartemen yang ada di hadapan mereka. "Jika kau tidak menyukainya, aku akan mencarikan mu apartemen yang lain."


Sulli dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak, ini saja sudah cukup. Meskipun aku tidak tahu susana di luar seperti apa karena tadi aku sibuk memperhatikan hal lain, tapi aku yakin, apartemen pilihan mu itu pasti yang terbaik."


"Ya sudah, aku pergi dulu!" ucap Jerome, dia memberikan kunci apartemen nya pada Sulli.


"Kau memang benar-benar manusia primitif Jerome," gumam Sulli sambil menatap punggung Jerome yang sudah mulai menjauh dari pandangannya.


****


Blammmm...


Jerome membanting pintu apartemennya kasar. Amber yang sedang menonton Tv sambil memakan snack nya terperanjat kaget. Dia menoleh ke arah pintu dan Jerome datang dengan air muka yang kurang menyenangkan.


"Eum."


Hanya itu yang keluar dari mulut Jerome. Dia berjalan menuju pantry, mengambil sebuah gelas dan mengisinya dengan air putih sampai penuh.


"Ada apa Kak?" tanya Amber sambil memeluk Jerome dari belakang. Jerome melirik kedua tangan Amber yang melingkar di perutnya. Dia memang sedang membutuhkan pelukan, tapi kalau yang memeluknya sudah mencintai orang lain, itu semua tidak akan berarti apa-apa.


"Aku tidak apa-apa Amber. Aku hanya lelah saja. Akhir-akhir ini aku memang agak sibuk. Aku harap kau bisa mengerti itu."


"Baiklah Kak, kau pergilah ke kamarmu. Istirahat dan bangunlah dalam keadaan fresh dan happy. Aku menyayangimu Kak."


Jerome melepas kedua tangan Amber. Dia memutar tubuhnya lalu menatap Amber dengan tatapan sendunya .


"Terimakasih atas pengertiannya Amber. Aku ke kamar dulu."


Cup...


Jerome mengecup kening Amber sekilas. Amber yang menerima kecupan itu tersenyum lebar. Percaya atau tidak, tapi dia sangat senang ketika mendapat perlakuan yang istimewa dari Jerome. Dia sudah mencintai orang lain,tapi dia juga tidak ingin jauh dari Jerome. Dia tidak ingin hubungan nya dengan Jerome merenggang. Dia ingin hubungan mereka tetap seperti i meskipun mereka mungkin akan memiliki pasangan masing-masing.


"Aku harap kau tetap menjadi Kakak ku Kak Jerome, aku tidak ingin sikapmu berubah, aku juga tidak ingin kau menemukan seorang pengganti untuk menggantikan posisi ku. Baik sekarang atau nanti, aku ingin kau tetap seperri ini."


Keegoisan seorang Amber yang sebenarnya dirinya sendiri tidak mau mengakuinya membuat semua orang menjauh darinya. Selama ini, teman-teman Amber menjauhinya bukan karena Jerome, melainkan karena sikap Amber yang egois. Terkadang dia akan mengambil barang-barang temannya lalu menyembunyikannya di lain tempat, cepat atau lambat, apa yang dia lakukan pasti terendus juga, hanya saja tidak tahu kapan.


Sementara di dalam apartemen baru, Sulli sedang asyik menata barang dan juga semua interior rumah


Satu jam yang lalu semua barangnya sudah di kirim oleh pengantar barang.


"Kenapa aku terus terbayang wajahnya ya? apa aku jatuh cinta? kalau iya, dia akan menjadi laki-laki ke 125 ku. Aku harus meninta nomornya pada Eil.


Drtzzzzz....


Drtzzzzz...


Eileria melihat isi pesan yang masuk ke dalam handphone nya. Dia tersenyum saat melihat nama sulli tertera dengan jelas di sana.


"Halo Sulli! ada apa?" tanya Eil setelah mengangkat teleponnya.


"Eileria!" teriak Sulli.


Eil refleks menjauhkan ponsel dari telinganya. Wanita bar-bar itu masih belum berubah, dia masih suka memekik seperti orang gila. Kali ini kehebohan apa yang membuatnya begitu senang seperti sekarang.


"Eil, siapa laki-laki yang kau kirim untuk menemaniku mencari rumah?" tanya Sulli, nada suaranya masih terdengar sangat antusias.


Owalah, jadi ini yang membuat teman satu-satunya yang Eil miliki bertingkah seperti orang konyol.


"Dia sudah menaruh hati pada gadis lain Sulli, jangan menganggunya kalau kau tidak mau terluka. Dia masih single, tapi ya itu, dia sudah mencintai orang lain.


"Apa cintanya bertepuk sebelah tangan?" tanya Sulli.


"Eum," jawab Eil singkat.


"Kalau begitu bagus, aku semakin bersemangat untuk mengejarnya. Aku yakin, aku bisa menyadarkannya kembali, aku pasti akan membuatnya jatuh cinta padaku melibihi cintanya pada wanita itu."


Eil menepuk jidatnya kasar.


"Kau memang tidak berubah Sulli."


...To Be Continued....