
Sebelum mulai baca.. Jangan lupa jempolnya ya.. Kasih ratting 5 kalau kalian menyukai cerita ini. Dan author rengginang ini akan sangat bahagia kalau kalian mau nabur bunga juga..
Happy reading semuanya..
Bughhh....
Bughhh....
Bughhh ...
Eil menolehkan kepalanya saat mendengar pintu kaca mobilnya di pukul dari luar. Niat hati ingin segera pulang untuk menemui sang suami, Eil malah harus di hentikan oleh orang tidak bertanggung jawab ini . Apa yang orang ini inginkan, kenapa dia malah mengganggunya, apa dia bosan hidup. Eil membuka pintu mobilnya kasar..
Bughhhh...
Brukkkk....
Orang itu langsung tersungkur ke lantai saat Eil membuka pintu mobilnya tiba-tiba. Dan Saat Eil hendak menurunkan kakinya, orang itu menarik kaki Eil. Eil beruntung karena dia masih memegang pinggiran pintu mobil. Dia menghentakkan kakinya membuat orang itu sekali lagi tersungkur di atas lantai hitam basement.
"Kau mau mencari gara-gara dengan ku hah?" teriak Eil. Dia ingin menginjak wajah laki-laki yang sedang terlentang di atas lantai, namun dengan gerakan cepat laki-laki itu menghindar.
"Cih.. Kau salah kalau menganggap ku orang lemah wanita ja lang!"
Eil langsung membelalakkan matanya. Orang ini siapa, kenapa dia begitu berani mengatainya dengan kata-kata kotor seperti itu. Memangnya dia mengenal Eil. Tidak mungkin, orang-orang yang mengenalnya bukanlah orang-orang sampah seperti ini.
"Kau bilang aku apa?" sarkas Eil . Kini tatapannya berubah. Eil yang anggun dan juga sangat kalem kini menjadi Eil yang dingin dan juga sangat menyeramkan. Tatapan matanya seperti tatapan iblis yang hendak memangsa siapapun yang ada di hadapannya.
Laki-laki itu bangkit lalu menepuk kedua tangannya. Saat dia tersenyum menatap Eil, munculah beberapa orang dengan perawakan tinggi besar menuju ke arah mereka. Sebenarnya orang-orang itu tidak bisa di bilang beberapa, karena semakin lama, orang yang datang semakin bertambah banyak.
"Kau hanya bisa main kroyokan hah?" tebak Eil sambil tertawa mengejek. orang-orang itu malah semakin mendekat dan membuat sebuah lingkaran mengelilingi Eileria. Wajah sangar mereka sama sekali tidak membuat Eil takut. Hanya saja, kalau sampai penghuni rumah sakit ada yang mengetahui hal ini, apa yang harus dia lakukan?. Tapi masa bodoh dengan itu semua, nyawanya lebih penting untuk saat ini.
"Kemarilah!" tantang Eil menggerakkan tangannya mengisyaratkan orang-orang itu untuk segera menyerangnya lebih dulu.
Setttt.... Bughhhhh... Brukkkk...
Bughhhh... Syuhhhhh... Krak... Suara tulang patah membuat Eil menyunggingkan senyum evil nya.
Settt... Bughhhh....Bughhhh....
"Masih berani?" tanya Eil pada orang-orang itu.
Tap
Tap
Tap..
Setttt... Bughhhhh.... Eil meringis saat dia mendapatkan serangan tiba-tiba dari salah satu orang yang sejak tadi sudah memperhatikan nya. Eil memang masih melawan hampir sepuluh orang lagi. Keadaan ini jelas-jelas sangat tidak berpihak padanya... Eil terus berusaha untuk melawan, dia semakin mempertajam telinga mata dan juga perasaan nya. Jika dia sampai lengah, dia pasti akan mati malam ini juga.
Settt.... Bughhhhh... Brukkk... Satu persatu lawannya sudah tumbang, kini tinggal tersisa tiga orang, dan salah satu di antara mereka membawa sebuah pisau lipat. Eil mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya. Dia kembali tersenyum lalu mulai melakukan persiapan untuk menerima setiap serangan yang akan orang-orang itu layangkan padanya.
"Mati kau!" ucap laki-laki yang membawa pisau berjalan ke arah Eileria.
Dsinngggg... Blub... Sebuah pistol yang tidak mengeluarkan suara tiba-tiba melepaskan pelurunya dan bersarang di jantung laki-laki yang tadi membawa pisau..
Bluppp.... Blupppp... Blupppp....
Sisa orang-orang yang masih hidup berlarian menjauhi Eil. Eil menoleh pada orang yang baru saja menyelamatkan nya itu.
"Jerome," gumamnya. Laki-laki itu hanya tersenyum dan menggerakkan dagunya menyuruh Eil untuk segera masuk ke dalam mobil.
"Aku akan menghubungimu nanti," ucap Eil sebelum menginjak pedal gasnya lalu pergi meninggalkan basement rumah sakit.
Sementara Jerome masih terus menembakan peluru ke arah orang-orang yang tadi menyerang Eil.
"Bereskan semuanya!" titah Jerome kepada semua orang yang sejak tadi sudah menunggu di belakangnya. Beberapa orang yang berpakaian serba hitam melakukan perintah dari Jerome. Mereka memasukan mayat-mayat yang tadi berserakan ke dalam kantong hitam besar mirip dengan kantong sampah seperti sedang memasukan bangkai-bangkai tikus.
Sementara di tempat lain, Eil sedang melajukan mobilnya sambil sesekali bercermin pada spion mobil yang ada di atas kepalanya. Dia sedang bingung sekarang, apa yang harus dia katakan pada Nathan kalau Nathan sampai melihat keadaanya . Semoga saja laki-laki itu tidak mencecarnya dengan berbagai macam pertanyaan. Nathan juga bukan laki-laki bodoh, dia pasti akan mengetahui kebohongan Eil jika Eil memberikan alasan yang tidak masuk akal.
Eil menghela nafas panjang saat dia melihat Nathan sudah berdiri di depan lift yang ada di ruang bawah tanah. Apa suaminya itu menunggunya pulang? ini darurat, Eil bercermin sekali lagi, dia memegang pipinya yang sedikit lebam. "Aku harap kau tidak menyadarinya Nathan."
"Baby," panggil Nathan sambil berjalan mendekati Eil yang baru keluar dari dalam mobilnya. Eil langsung menarik ikat rambutnya supaya dia bisa menyembunyikan memar di pipinya dengan rambut panjang bergelombang yang dia miliki.
"Nathan," panggil Eil dan langsung mengahambur ke pelukan suaminya. "Kau sudah mandi hmm?" tanya Eil saat mencium aroma wangi dari sabun yang selalu di pakai oleh suaminya itu.
"Kau mencium baunya?" tanya Nathan. Dia melepaskan pelukannya lalu mengangkat pinggang Eil dan memposisikan nya supaya dia bisa memangku Eil.
"Aku lelah Nathan," manja Eil sambil membenamkan wajahnya di leher sang suami. Nathan tersenyum. Dia tahu kalau istrinya ini pasti sangat kelelahan, karena itu juga dia berinisiatif untuk menggendong Eil dan membawanya masuk ke dalam mansion
"Kau sudah makan belum?" tanya Nathan saat mereka sudah sampai di dalam mansion, lebih tepatnya Nathan membawa Eil ke dapur. Dia tadi sempat membuat salad buah, barangkali istrinya itu belum makan malam. Nathan sangat tahu kalau Eil sudah masuk ke rumah sakit pasti istrinya itu akan melupakan jadwal makannya.
Eil menggeleng. Dia memang sudah sangat lapar. Hanya saja kejadian tadi saat di basement rumah sakit membuatnya melupakan rasa laparnya untuk sesaat. Eil mengerucutkan bibirnya saat Nathan melepaskan pelukannya dan mendudukkan Eil di sebuah kursi yang ada di dekat mini bar. Nathan tersenyum lalu menatap Eil dengan tatapan penuh cintanya.
"Kau masih tidak rela aku melepaskan pelukan ku hmm?"
Eil tentu saja mengangguk. Bukankah Nathan juga sangat menyukai ini, apa hanya Eil yang menyukainya dan suaminya tidak.
Nathan mengelus pipi Eil lembut. Dia mengangkat dagu Eil lalu menatapnya intens. Keningnya berkerut ketika matanya menemukan sebuah luka kecil di sudut bibir isteri nya, dia kembali mengelus pipi Eil. Ada apa ini, kenapa tadi Nathan tidak melihat nya. Kenapa ada lebam di pipi istri kecilnya.
"Eil!" panggil Nathan lembut, Eil yang memang melupakan lukanya karena terlalu terbuai dengan perlakuan manis Nathan sama sekali tidak menyadari kalau suaminya itu sudah melihat lebam yang ada di wajahnya.
"Ini kenapa? kau habis di pukul?" tanya Nathan dengan bola mata yang menatap lekat bola mata istrinya.
Deg....
Ini gila. Kenapa Eil tidak menyadarinya. Seharusnya Eil lebih peka dan lebih hati-hati. Matilah dia.. Nathan sudah menampakan tanduknya. Apa yang harus Eil lakukan...
...To Be Continued....
...Hai reader. Jangan lupa like nya ya.. Komen juga kalau ada waktu. Author bakal seneng banget kalau kalian mau mengapresiasi karya remahan author ini. Semoga kalian sehat selalu. Terimakasih......