
Sebelum mulai baca.. Jangan lupa jempolnya ya.. Kasih ratting 5 kalau kalian menyukai cerita ini. Dan author rengginang ini akan sangat bahagia kalau kalian mau nabur bunga juga..😁😁
Happy reading semuanya..
"Apa dia sudah pergi," ucap nya lemah.
Tubuhnya ambruk ke bawah. Dia berjongkok sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Hiksss.... Maafkan aku Nathan," lirih Eil sambil terisak.
Tap.. Eil mengangkat kepalanya saat dia merasakan ada sebuah tangan yang memegang bahunya.
"Nathan!" pekik Eil. Dia langsung berdiri dan menghambur ke pelukan sang suami. Nathan membalas pelukan Eil tak kalah Erat, dia sedikit membungkukkan badannya suapaya Eil bisa lebih leluasa untuk memeluknya. Tubuh istrinya memang sedikit mungil untuk Nathan.
"Nathan jangan pergi.. Hikssss.. Aku sudah tahu semuanya Nathan. Aku tahu kau tidak salah, maafkan aku karena kemarin aku terlalu marah padamu. Tolong jangan pergi."
Nathan mengerutkan keningnya bingung. Dia memang akan pergi tapi kenapa reaksi yang di tunjukan Eil serasa berlebihan untuknya. Dia masih akan kembali bukan.
"Eil!" Nathan melepas pelukannya lalu menatap mata coklat Eil lekat. "Kau tidak perlu minta maaf. Di sini akulah yang salah. Kau tidak salah Baby. Kau tidak salah," ucap Nathan sambil menyeka air mata di pipi istrinya. "Aku akan tetap pergi meski kau melarang ku Baby."
Eil mendongak. Matanya kembali mengeluarkan air mata.
Cup.. Eil mengecup bibi suaminya cukup lama. Dia sama sekali tidak perduli dengan tatapan orang-orang yang sedang memperhatikan nya dan Nathan. Sekertaris Nathan memalingkan wajahnya saat dia melihat adegan adu bibir di hadapannya.
Eil ingin melepas ciumannya, namun Nathan menarik pinggang Eil dan menyatukan kembali bibir mereka. Jika Eil hanya mengecup bibir suaminya, Nathan berbeda, dia me lu mat bibir tipis milik Eil lembut. Hi sa pan yang dia lakukan tidak seperti hi sa pan vakum yang selalu dia lakukan sebelumya. Kali ini Nathan melakukannya dengan perlahan. Lembut dan manis seperti marshmallow. Mata Eil terpejam seiring dengan decapan-decapan halus yang kian terdengar merdu di telinga mereka. Dia membalas lu ma tan dan juga hi sa pan yang di lakukan Nathan.
Setelah sekian lama, mereka melepas tautannya. Eil masih memejamkan matanya saat Nathan menagkup wajahnya dengan mata yang menatap Eil dengan tatapan memujanya.
Cup. Nathan mengecup mata sebelah kanan Eil.
Cup. Kali ini mata sebelah kiri Eil yang menerima kecupan dari bibir suaminya.
"I'm so lucky to have you Eil," ucap Nathan dengan napas yang masih sedikit terengah.
"Kau masih akan pergi?" tanya Eil.
"Sure. Aku hanya akan pergi selama satu minggu Baby. Dan jika semuanya berjalan dengan lancar aku mungkin bisa pulang lebih cepat."
"What? satu minggu? bukannya satu tahun?" tanya Eil dengan mata yang membulat sempurna.
"Ayahh.......!!!!" geram Eil dalam hati.
****
Flash back.
Jam 01:45 di kamar apartemen Amber.
Eil sedang menatap keluar jendela kamar Amber. Apartemen ini berada di lantai paling atas. Jadi dia bisa dengan leluasa menatap pemandangan kota di kala malam. Eil sebenarnya tidak bisa tidur. Dia masih memikirkan suaminya. Eil bingung dengan perasaannya sendiri. Dia masih tidak percaya kalau Nathan tega mengkhianatinya seperti itu.
Drtzzzz... Drtzzzz....
"Halo."
"Azalea! datanglah ke tempatku sekarang. Ada sesuatu yang harus aku diskusikan dengan mu."
"Baiklah, apa ada misi yang harus aku lakukan?"
"Datanglah dulu. Kau akan tahu setelah kau datang ke sini."
Eileria langsung bersiap-siap untuk pergi. Dia melangkah ke luar kamar Amber dengan sangat hati-hati. Eil tentu saja tidak ingin membuat Amber bangun dan curiga padanya.
Tok Tok Tok.
Krieetttt.....Pintu kamar lain terbuka.
"Jerome. Pinjamkan aku topi masker dan juga kendaran!" ucap Eil to the point.
Jerome mengerutkan keningnya bingung. "untuk apa?" tanya Jerome ingin memastikan.
"Berikan saja! .. Aku ada urusan mendadak," ucap Eil.
"Masuklah!" titah Jerome sambil membuka pintu kamarnya lebar.
Setelah sepuluh menit bersiap-siap. Eil akhirnya pergi menggunakan motor sport milik Jerome. Dia tidak memperdulikan angin malam yang kala itu berhembus sangat kencang karena Eil memacu motornya dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Kitttt.... Suara ban motor beradu dengan lantai saat Eil mengerem motornya di depan sebuah bangunan yang cukup mewah. Tidak, bangunan ini memang sangat besar. Hanya saja susana di dalamnya begitu hening dan mencekam.
Tap Tap Tap....
Beberapa pengawal dengan pakaian serba hitam membungkuk saat Eil melewati mereka. Eil dengan santainya terus melangkah tanpa memperdulikan pengawal-pengawal itu.
Krieetttt... Eil membuka pintu ruangan khusus yang ada di sana. Ruangan itu terlihat seperti sebuah perpustakaan baca yang sangat besar. Rak buku yang ada di sana tersusun rapi sampai ke atas. Bahkan saking tingginya. Rak buku itu di bagi menjadi dua lantai. Di lantai yang kedua lantainya tidak terlalu luas karena lembar lantainya hanya sekitar satu meter dan itu hanya di peruntukan supaya orang bisa berjalan untuk mengambil buku yang ada di lantai atas.
Eil memutar beberapa buku di sebuah rak buku yang terletak di pojok ruangan.
Kalakkk... Rak buku yang tadi ada di hadapan Eil perlahan bergeser dan menampakan sebuah pintu rahasia untuk menuju tempat bosnya.
"Bos!" panggil Eil saat dia sudah sampai di dalam ruangan itu. Suasana di dalamnya tidak terlalu mencekam. Justru kesan hangat sangat terasa saat Eil mulai masuk dan duduk di kursi yang telah di siapkan atasannya.
"Kau datang juga Azalea. Bagaimana kabar suamimu?" tanya laki-laki paruh baya itu kepada Eileria. Dia memutar kursi kerjanya lalu menatap Eil sambil tersenyum.
"Tidak perlu menanyakan hal-hal yang tidak harus kau ketahui Dragon. Cukup katakan apa yang harus aku lakukan!"
Laki-laki yang tadi di panggil Dragon oleh Eil tersenyum hambar. "Kau sedang berseteru dengan nya bukan?" tanya Dragon yang membuat Eil menatapnya dengan tatapan tak percaya.
"Kau memata-mataiku?" sarkas Eil dengan mata yang memincing.
"Kau pikir aku akan membiarkan setiap anggotaku berkeliaran tanpa pengawasan? jangan harap Eil. Itu tidak mungkin. Kau tahu kan bagaimana keadaan di luar jika kita tidak saling melindungi?"
Eil menghela nafasnya. Dia tentu mengerti dengan apa yang di katakan Dragon. Pekerjaan yang di lakukannya bukanlah pekerjaan yang bisa membuat orang lain menyukainya. Jadi kalau dia tidak mendapat perlindungan, mungkin saat ini dia juga tidak akan ada lagi di dunia ini.
"Coba kau lihat ini!" Dragon menyodorkan sebotol kecil cairan berwarna ungu ke hitam an di depan Eil.
"Apa ini," ucap Eil sambil mengambil botol itu lalu membuka tutupnya dan menghirup nya sebentar ...
"Eumhhh.. Dengus Eil menjauhkan botol itu dari hidungnya. Dia juga menggosok hidungnya beberapa kali."Apa ini?" tanya Eil masih tidak mengerti.
"Sekarang kau coba cium ini," titah Dragon yang kembali menyodorkan sebuah botol kaca yang ukurannya lebih kecil dan isi di dalamnya lebih bening tidak sepekat yang tadi.
"Ini," ucap Eil saat mencium isi dari dalam botol tersebut.
Dragon mengangguk saat Eil menatapnya dengan mata yang membulat sempurna.
...To Be Continued....
...Hai reader. Jangan lupa like dan komentarnya ya... Thank you.....