The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Kebahagiaan Setiap Orang



Malam hari di rumah Eileria. Seorang pria tengah fokus mendengarkan laporan dari orang-orang suruhannya.


"Kami sudah menjalankan tugas yang Tuan berikan, Nabila sekarang sudah di blacklist dari perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia. Saya jamin dia tidak akan mendapatkan pekerjaan di manapun."


Bara menarik ujung bibirnya. Matanya masih menatap jauh keluar jendela kaca yang ada di rumah itu. Kalau dia sudah bertekad, apapun yang dia inginkan memang harus terwujud.


"Baiklah, terus awasi dia, buat dia menyesal dan menyadari betapa bodohnya dia karena sudah melawan Bara Cullen."


"Baik Tuan, kami mengerti."


"Kami pulang!" Sura nyaring Eileria membuat fokus Bara teralihkan, dia menutup panggilan teleponnya lalu berjalan menuju pintu masuk.


"Darimana saja bumil ini?" tanya Bara berjongkok di depan kursi roda Eil lalu mengusap kepala Eil lembut.


Eiileria memanyunkan bibirnya. "Aku habis menjenguk Amber Kak, dia pingsan entah karena apa. Sepertinya Lukas tidak menjaga Amber dengan baik. Aku sangat geram kepada Lukas. Kalau saja kakiku bisa aku gunakan, aku pasti akan langsung menghajarnya dan membuatnya babak belur."


Nathan yang ada di belakang Eil, juga Bara yang ada di depan Eileria sontak saja saling pandang saat Eil membahas masalah kaki. Jujur saja Nathan juga Bara sudah mengusahakan yang terbaik supaya Eil bisa berjalan kembali, namun kalau dokter kandungannya tidak mengijinkan Eil untuk melakukan operasi, mereka bisa apa.


"Ekh, aku salah bicara ya?" tanya Eil melihat ekspresi tidak menyenangkan di wajah Bara, apalagi ketika dia menoleh ke belakang, Nathan juga menunjukan ekspresi yang sama.


"Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku baik-baik saja. Tadi aku hanya mengeluarkan unek-unek dalam hatiku. Aku baik-baik saja. Kenapa kalian sedih seperti itu?" Eil bertanya sambil melirik Nathan dan Bara bergantian.


"Aku tidak apa-apa, tadi aku hanya sedih karena kecewa kepada Lukas," jawab Nathan asal. "Aku akan mengambilkan mu air minum," ucap nya lagi. Nathan pergi ke dapur meninggalkan Eil dan Bara yang masih diam sambil memperhatikan punggung Nathan yang sudah menjauh.


"Eil, kamu harus yakin kalau kelak kamu akan bisa berjalan lagi. Kalau bayi ini sudah lahir," ucap Bara sambil menyentuh perut Eileria," Aku akan melakukan yang terbaik. Kalaupun aku harus kehilangan semua kekayaan yang aku miliki agar kau bisa berjalan kembali, aku rela Eil."


Eileria menatap Bara lekat lalu tertawa terbahak-bahak. "Kau ini sangat lucu Kak," ucap Eil menepuk bahu Bara, "Kekayaan mu itu tidak akan habis sepuluh turunan, masa untuk biaya pengobatan ku saja bisa habis. Kakak itu aneh."


Eil sibuk bercengkrama dengan Bara, sementara Nathan, dia sedang berdiri mematung sambil memegang pintu kulkas. Dia tidak bisa menahan buliran air mata yang sejak tadi sudah menyeruak memaksa untuk keluar.


"Tuan!" panggil Aami membuat Nathan menghapus air matanya dengan cepat.


"Ada apa Aami?" tanya Nathan berbalik dan menatap Aami yang kini juga sedang menatapnya.


"Tuan kenapa? Apa Nyonya Eil baik-baik saja?" tanya Aami merasa khawatir karena dia belum pernah melihat Nathan menangis sebelumnya. Meskipun Nathan berusaha menutupi itu dari Aami, Aami tahu kalau Nathan baru saja menyeka air matanya.


Nathan mengangguk. "Eil baik-baik saja Aami, aku hanya sangat sedih karena aku tidak bisa melakukan apapun untuknya. Sudah hampir 4 bulan Eil tidak bisa berjalan, dan aku tidak bisa melakukan apapun."


Aami tersenyum. "Tuan, jangan bersedih seperti ini, bibi yakin, kelak Nyonya akan bisa berjalan kembali, tapi Tuan harus sabar, kalau Tuan sedih seperti ini, nanti Nyonya Eil ikut sedih. Menurut bibi, sekarang adalah masa-masa yang sangat bagus untuk Tuan, Nyonya Eil bisa bergantung sepenuhnya kepada Tuan. Bukankah itu hal yang baik?" tanya Aami kepada tuannya.


Nathan kembali mengangguk. "Iya Aami, aku akan berusaha untuk merawat dan menjaga Eil dengan baik," ucap Nathan dengan senyum di bibirnya. Dia lantas mengambil gelas dan mengisi gelas itu dengan air hangat.


Aami mengangguk. Dalam hati Aami berdoa, semoga nyonya dan tuannya bisa sabar menghadapi ujian yang sedang mereka jalani.


"Baby!" panggil Nathan ketika dia melihat Eil dan Bara sedang tertawa entah menertawakan apa.


"Nathan!" seru Eil sambil tersenyum cerah.


"Aku sudah mengambilkan air untukmu. Minumlah! Setelah ini kita harus pergi ke kamar, kau harus istirahat Baby."


Eil mengangguk. Dia mengambil gelas yang disodorkan oleh Nathan lalu meminum air yang ada di dalam gelas itu sampai habis.


"Aku ke kamar dulu ya Kak!" ucap Dil. Bara mengiyakan apa yang dikatakan Eil lalu mengambil gelas kosong dari tangan Eileria.


"Tidurlah lebih cepat Bara! Kau harus banyak istirahat. Kau sudah semakin tua."


Bara mendengus. Dia hendak menendang bolong Nathan namun Nathan dengan segera menghindari tendangan yang dilakukan Bara. Mereka terlihat seperti satu keluarga meskipun tidak ada kemiripan di wajah mereka. Kedekatan mereka semakin hari semakin terjalin dengan baik.


"Aku harap kau bisa membahagiakan Eil Nathan. Kalau sampai Eil tidak bahagia, aku akan merebutnya darimu," ucap Bara menatap punggung Nathan yang sudah menjauh dari pandangan matanya.


Sementara di tempat lain. Di apartemen Jerome. Laki-laki itu sedang uring-uringan tidak jelas. Dia masih terus meninju udara dan tembok tidak jelas. Sulli yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Wanita cantik itu melangkah menuju pantry setelah berganti pakaian dan menggulung rambutnya ke atas supaya dia lebih leluasa untuk melakukan aktifitas yang lain.


"Kau itu gila Jerome, kenapa kau membuat keributan seperti itu di depan Amber. Pantas saja Amber tidak pernah mau curhat lagi padamu. Kau itu pemarah akut. Aku jadi takut padamu."


Jerome mengalihkan perhatiannya. Dia menoleh ke arah wanita yang sedang membuat kopi di meja pantry. Kakinya membawanya berjalan mendekati wanita itu.


"Apa kau bilang? Kau takut padaku?" tanya Jerome melingkarkan kedua tangannya di pinggang Sulli dan membenamkan dagunya di bahu wanita cantik itu.


Sulli mengangguk dengan mantap membuat Jerome semakin mengeratkan pelukannya.


"Jerome lepaskan aku. Aku tidak bisa bergerak."


Bukannya melepaskan pelukannya, Jerome malah memangku tubuh Sulli lalu mendudukkan nya di atas meja pantry. Jerome mendongakkan wajahnya membuat mata mereka bertemu untuk beberapa saat. Perlahan tangan Sulli bergerak mengusap wajah Jerome juga telinga laki-laki itu membuat orang yang di sentuh memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan lembut yang diberikan oleh Sulli.


Sulli tersenyum saat tangan nakal Jerome mulai merayap ke atas dan meremas buah melon nya dengan gemas. Suara rintihan keluar dari mulut seksih nya. Apa yang Jerome lakukan itu membuat gairah nya meningkat berkali-kali lipat.


"Aku menginginkanmu Honey," ucap Jerome memangku Sulli lalu membawanya ke dalam kamar.


Sementara mesin kopi yang ada di atas pantry masih menyala dan mengeluarkan cairan coklat kehitaman kedalam gelas secara perlahan. Kopi itu seakan menjadi saksi atas kegiatan panas yang sedang Sulli dan Jerome lakukan.


...To Be Continued....