
Suasana di dalam mobil Lukas menjadi hening. Alard duduk di jok belakang, sementara Eil duduk di samping kemudi di sebelah Lukas.
"Kau tidak apa-apa Eil?" tanya Lukas. Dia melirik tangan Eil yang lecet dan mengeluarkan darah. Meskipun tidak banyak, Lukas yakin kalau itu sangatlah perih.
"Aku baik-baik saja Lukas." Eileria memperhatikan Lukas dengan seksama ketika adik iparnya itu sedang fokus membalut tangan Eil dengan saputangannya.
"Dari awal kau memang sudah tahu semuanya kan Lukas?" tanya Eil. Dia menarik tangannya ketika Lukas sudah selesai mengikat sapu tangannya dengan baik.
"Aku ingin memberitahumu Eil. Tapi aku takut kau akan salah paham. Aku hanya melihat Nathan sedang bercumbu dengan Belle. Dia tidak sampai melakukan hubungan yang lebih dari itu."
Eil menghela nafasnya. Dia tahu kemarahannya pada Nathan bukanlah hal yang baik. Belle pasti akan sangat senang kalau dia tahu jika dia dan Nathan berseteru karena sosok ulat bulu itu.
"Antar kan aku ke suatu tempat Lukas. Aku tidak ingin Ayah tahu kalau aku dan Nathan sedang tidak dalam hubungan yang baik. Kau juga jangan memberitahukan masalah ini kepada Ayah. Jangan sampai membuatnya sedih."
Lukas mengangguk. Sedangkan Eil, dia menolehkan kepalanya ke tempat Alard berada. "Alard!" panggil Eil sambil tersenyum. "Kau menyayangi Mommy bukan?"
Alard tersenyum manis. Dia sangat lucu. Apalagi kalau sedang tersenyum seperti saat ini . Pipi gembul nya membuat Eileria gemas."Alad sayang Mommy," ucapnya cadel .
"God boy. Kalau Alard sayang mommy, Alard harus janji Alard gak boleh bilang sama Kakek kalau mommy sama Paman Nathan main tonjok-tonjokan tadi ya!"
Lukas mengulas senyum di bibirnya ketika mendengar Eil sedang berbicara kepada Alard. Alard memang masih kecil, jadi dia tidak akan tahu kalau tadi sebenarnya Eil main tonjok-tonjokan beneran.
"Kenapa kau tersenyum Lukas?" sarkas Eil ketika dia sudah duduk seperti semula.
Lukas mengibaskan tangannya. " Tidak apa-apa Eil," ucapnya gugup.
"Ya sudah jalan! aku akan memberitahumu kemana kita akan pergi setelah kau membawaku pergi dari sini," ucap Eil dingin.
Lukas mengangguk, dia lantas menyalakan mesin mobilnya dan membawa Eil membelah kota Paris.
Tiga puluh menit kemudian, mobil Lukas berhenti di depan gedung apartemen mewah yang ada di kota itu. Dia tidak lantas menanyakan kenapa Eil datang ke apartemen ini. Dia tidak ingin membuat mood Eil semakin memburuk jika terus mendengar pertanyaan dari mulutnya.
"Ini adalah apartemen temanku Lukas. Untuk sementara aku akan tinggal di sini. Aku takut jika aku kembali ke mansion, aku akan menghajar Nathan lagi. Sudah cukup dia babak belur karena ulahku. Aku masih tidak ingin dia mati," ucap Eil ketika dia sudah turun dari mobil.
Setelah mengucapkan itu pada Lukas, Eil berjongkok lalu memegang kedua bahu Alard. "Mommy harus pergi sekarang. Mommy janji, kapan-kapan mommy akan main ke rumah Alard, kita akan main bersama oke?"
Alard mengangguk. Dia menghambur ke pelukan Eil dan memeluk Eileria dengan erat. " Mommy janji sama Alad?" tanya Alard di dekat telinga Eil.
"Mommy janji sayang."
"Sudah! biarkan Mommy pergi dulu. Kita harus kembali sekarang," ucap Lukas pada anak semata wayangnya.
"Terimakasih Lukas," ucap Eil tulus. Meskipun Eil merasa kesal pada Lukas, tapi dia tetap harus mengedepankan adab bukan. Berterimakasih kepada orang yang telah memberikan bantuan adalah hal yang paling penting, sekecil apapun bantuan yang di berikan orang lain padanya Eil tidak akan sungkan untuk mengucapkan satu kata keramat tersebut.
"Kau bisa mengandalkan ku Eil. Aku pamit dulu," ucap Lukas dengan senyum di bibirnya.
"Hati-hati... Dadah Alard!"
****
Tok Tok Tok...
"Kak Eil," ucap seorang gadis cantik setelah ia membuka pintu apartemennya.
"Kakak mu ada di dalam?" tanya Eil sambil mencondongkan badannya ke dalam apartemen.
"Kak Jerome belum pulang Kak. Kakak masuk saja," ucap Amber. Eil langsung masuk saat Amber menggeser tubuhnya memberikan ruang untuk Eil lewat .
"Aku ingin meminta bantuan mu Amber."
Kedua wanita cantik itu akhirnya bercengkrama dengan bebas setelah Eil mengutarakan niatnya untuk menginap di apartemen Amber dan Jerome. Jika Eil tidak salah, Jerome memang jarang di rumah. Laki-laki itu memang sudah bekerja. Jadi dia sama seperti laki-laki kebanyakan yang akan sampai di rumah saat jam makan malam tiba.
Hari sudah semakin sore. Eil sudah segar, dia sudah mandi dan dia juga mengenakan pakaian milik Amber saat ini. Eil beruntung, karena perawakannya yang tidak bongsor alias langsing, baju yang di miliki Amber pun masih sangat longgar di tubuhnya.
"Kau punya bahan makanan tidak?" tanya Eil kepada Amber.
"Ada di dalam kulkas Kak," tunjuk Amber pada kulkas yang ada di dapurnya.
"Kakak bisa masak?" tanya Amber lagi saat dia melihat Eil mengeluarkan beberapa sayur dan juga lauk dari dalam kulkas. Eil menoleh dan menatap Amber sambil berdecak pinggang. "Kau meragukan ku hmm?" tanya Eil.
Amber tersenyum kikuk. "Bukan seperti itu Kak. Hanya saja, aku pikir wanita cantik sepertimu hanya pandai merias diri saja. Hehehe."
Peletakkk... Eil menyentil dahi Amber. "Kau itu, cantik saja tidak akan bisa membuatmu kenyang. Kau tidak perlu mahir memasak jika memang tidak mampu. Tapi paling tidak kau harus menguasai dasarnya supaya kau tidak kelaparan di saat-saat tertentu. Amber hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sambil mengusap dahinya perlahan.
Setelah cukup lama bergulat dengan pan dan kompor. Akhirnya Eil menyelesaikan semua masakannya.
Mata Amber berbinar saat melihat betapa banyaknya menu makan malam yang tersaji di atas meja makan. "Wahhh.... Kakak memang sangat hebat. Aku sangat iri. Selain jago bela diri, Kakak juga jago dalam hal memasak."
"Shuuutttt," Eil menempelkan jari telunjuknya di depan bibir. Amber memukul mulutnya lalu meminta maaf. Untung tidak ada Jerome di sini. Kalau ada habislah dia. Eil pasti akan sangat marah.
"Aku bukan hanya jago memasak. Tapi aku juga sangat jago di meja operasi," ucap Eil membanggakan dirinya sendiri. Bukannya jengah, Amber malah bersorak sambil menatap Eil dengan mata yang berbinar.
"Wah.. Kau benar-benar paket komplit Kak. Sayang kau sudah menikah," ucap Amber.
Wajah Eil kembali sendu saat Amber mengucapkan kata nikah. Apa benar dia sudah menikah, Nathan menikahinya karena terpaksa. Apa itu juga bisa di sebut sebuah pernikahan....
Klikkk.... Suara pintu apartemen terbuka di iringi dengan langkah kaki yang kian mendekat ke arah Eil dan Amber.
"Kau!" ucap Jerome ketika melihat Eil sedang duduk di meja makan sambil tersenyum ke arahnya.
...To Be Continued....
...Hai reader, jangan lupa like dan komentarnya ya.. Terimakasih karena sudah setia membaca karya ku yang Absrud ini. Semoga kalian selalu sehat dan bahagia ya... Aamiin....