
"Jerome!" teriak seorang wanita cantik sambil memeluk Jerome dengan erat.
Jerome diam. Dia tidak membalas pelukan Sulli tapi dia juga tidak menolaknya. Hari ini dia terlalu malas untuk melakukan hal-hal yang tidak penting. Terserah sulli lah mau bertingkah seperti apa, dia hanya sedang tidak mood untuk menanggapi nya.
"Kak Eil!" panggil Amber. Dia melirik sosok Eileria yang sedang bermanja dengan Nathan. Wanita cantik itu berdiri dari pangkuan sang suami lalu berjalan mendekati Amber.
"Ayo duduk Amber. Sulli menyiapkan pesta rumah baru. Dan kita semua di undang. Termasuk kau juga Lukas," ujar Eil. Dia menuntun Amber untuk duduk di sebuah sofa yang di depan nya terdapat meja yang sudah di penuhi makanan juga minuman beralkohol.
Amber menurut saat Eil menuntunnya. Dia memperhatikan setiap orang yang ada di ruangan itu. Dia pikir ini Eil mengajak nya untuk berkumpul bersama orang-orang yang sudah mereka kenal saja. Ternyata ada orang lain.
Matanya menatap lurus ke arah Jerome. Sejak mereka sampai, Jerome sudah di tempeli oleh wanita gatal yang sejak tadi terus berusaha untuk menyentuh Jerome. Apa yang Sulli lakukan membuat Amber panas dingin. Jerome adalah miliknya. Kenapa dia berusaha untuk mendekatinya, bahkan Amber belum tahu, sejak kapan Jerome dekat dengan wanita itu.
"Eil, kenapa teman mu ini sangat kaku?" tanya Sulli dengan senyuman mengejeknya. Dia mengambil sebuah gelas wine, lalu mengisinya sampai penuh dan menyuruh Jerome untuk meminumnya.
"Kau itu, jangan membuatnya mabuk. Dia bukan orang yang suka meminum alkohol Sulli," ingat Eil pada sahabat karibnya itu.
Nathan menarik tangan Eil. Dia mendudukkan Eil di pengakuannya. Matanya menatap lekat mata Eileria. Tatapannya menggelap. Eil yang tahu perubahan sikap sang suami langsung mendekatkan bibirnya ke telinga Nathan.
"Dia satu organisasi dengan ku Nathan. Kau jangan khawatir, aku hanya mencintaimu," bisik Eileria. Dia menarik wajah Nathan membuat bibir mereka bertemu. Nathan yang pada awalnya sempat marah kini menerima setiap kecupan yang di lakukan Eil pada bibirnya. Mereka saling bertukar Saliva di depan semua orang.
Ruangan itu mendadak heboh. Bahkan semua Sulli bertepuk tangan sambil berjingkrak-jingkrak seperti anak kecil.
"Wah, kau hebat Eil. Kau sudah semakin ahli. Aku bangga padamu," teriak Sulli bersorak gembira.
Lukas dan Amber berusaha untuk tidak melihat adegan luknut kedua sejoli yang sedang di mabuk asmara itu. Mereka memilih untuk diam dan menyibukkan diri dengan pikiran mereka masing-masing.
Amber yang pada awalnya sangat bersemangat dan antusias kini malah di buat lesu lantaran matanya yang tidak bisa melihat Jerome di dekati oleh wanita lain. Dia tahu dia hanya seorang adik untuk Jerome. Tapi entah kenapa dia merasa kurang nyaman melihat kedekatan mereka.
"Kau ingin minum?" tanya Lukas pada Amber.
"Dia belum boleh meminum itu Lukas. Kau bisa meminum nya untuk dirimu sendiri," jawab Jerome.
Lukas tersenyum kecut. Dia yang tadinya ingin memberikan minuman kepada Amber menarik tangannya kembali dan hendak meminum alkohol itu.
"Aku akan meminumnya," ucap Amber merebut gelas itu dari tangan Lukas. Dia menenggak semua isi yang ada di dalam gelas itu sampai habis.
Jerome menggeram. Dia menyesal telah membuat larangan seperti itu untuk Amber. Kalau saja dia tahu Amber akan mengacuhkannya, dia akan memilih untuk tidak perduli.
"Aku mau lagi," ucap Amber.
Lukas mengangguk. Dia memberikan apa yang Amber mau. Dan dia sendiri pun melakukan hal sama. Mereka sudah bersulang beberapa kali.
"Jangan marah Sayang. Biarkan mereka melakukan apa yang mereka mau. Kita jarang berpesta seperti ini. Sekarang, kita akan mabuk sampai kita tidak akan bisa bangun besok pagi."
Sulli duduk di pangkuan Jerome. Satu tangannya dia kaitkan pada leher Jerome, dan satu tangannya lagi membantu Jerome untuk minum minuman beralkohol yang sudah dia siapkan.
"Nathan, aku memungkinkan mu," gumam Eil di depan bibir suaminya.
Nathan mengangkat tubuh Eil yang sedang berbaring di atas sofa lalu memangkunya seperti anak kola. Dia membawa Eil ke sebuah kamar yang ada di apartemen tersebut. Entah itu kamar siapa, yang penting dia bisa melakukan apa yang Eil dan dirinya inginkan saat ini juga.
Brukkkk...
Nathan menghempaskan tubuh Eileria ke atas ranjang . Karena pengaruh alkohol yang mereka minum, mereka bergaul tidak seperti biasanya. Nathan yang penuh dengan kelembutan kini menjadi sedikit kasar dan menuntut. Dia melepas gesper yang dia kenakan lalu menggunakan nya untuk mengikat kedua tangan Eileria.
Eil yang kala itu berada di bawah kendali alkohol hanya terkekeh menerima semua perlakuan suaminya. Dia tersenyum. Tubuhnya melengkung ke atas saat Nathan mendaratkan sebuah kecupan-kecupan dalam pada tubuh bagian atasnya. Tangan Eil yang terikat membuatnya tidak bisa melakukan serangan balik. Kali ini dia hanya bisa pasrah membiarkan Nathan mengobok-obok tubuhnya sampai puas.
Srakkkk...
Nathan yang kesulitan membuka dres Eil merobek baju itu menjadi dua bagian. Malam itu, menjadi saksi atas kegilaan dari fantasi se ks yang selama ini tersimpan di dalam pikiran Nathan.
Sebelumya dia bersikap lembut dan berusaha untuk menahan diri karena dia takut Eil akan ketakutan melihat dirinya yang begitu berfantasi pada tubuh istrinya sendiri. Tapi karena sekarang dia tidak bisa berpikir dengan benar, malam bersejarah ini pun terjadi.
"Aku akan memulainya," ucap Nathan ketika dia sudah bersiap dengan posisinya.
Eil mengangguk. Dia juga tidak mengerti dengan apa yang dia rasakan. Di perlakukan seperti ini oleh Nathan malah membuatnya merasa lebih ber ga irah. Dia bahkan sudah mencapai puncak kenikmatan beberapa kali , padahal Nathan baru menggunakan jemari dan bibirnya. Lalu apa yang akan terjadi jika rudal suaminya itu sudah meluncur.
****
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Lukas, dia berusaha untuk membantu mengeluarkan semua isi perut Amber dengan menepuk-nepuk punggungya.
Amber menggeleng. Kepalanya pusing, dia tidak bisa lagi menahan bobot tubuhnya.
Lukas yang melihat Amber akan jatuh langsung menahan tubuh Amber dan memangkunya keluar dari dalam kamar mandi.
"Kepala ku sakit Kak. Aku sudah tidak bisa menahan nya lagi. Aku pusing," ucap Amber yang sudah membenamkan wajahnya di dada Lukas.
Lukas membawa Amber kembali ke ruang tamu. Dia membaringkan Amber di atas sofa, lalu menyelimuti nya dengan jaket yang dia kenakan.
"Aku akan mencari sesuatu untuk mu, semoga aku bisa membuat penawar mabuk."
"Kak!" panggil Amber.
Lukas menoleh. Dia melirik tanga Amber yang menahan pergelangan tangannya.
"Apa aku kurang cantik sampai Kakak tidak menyukai ku?" ....
...To Be Continued....