The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Aku Ikut



Brukkkk.... Botol air dan ice cream yanga ada di tangan Nathan jatuh ke tanah saat laki-laki itu melihat seseorang berjalan ke arah istrinya sambil membawa senjata tajam.


"Eileria!" teriak Nathan berlari ke arah istrinya.


Settttt.... Brukkkk... Orang yang tadi hendak menodongkan pisau ke arah Eileria langsung ambruk di atas tanah saat wanita cantik itu menarik tangannya dan membantingnya ke atas tanah seperti sekarung kapas. Sebenarnya Nathan tidak perlu khawatir, bukankah Eil memiliki telinga rubah? dia bahkan bisa mendengar suara langkah kaki yang masih berjarak 10 meter darinya.


Eil ingin kembali menghajar orang itu namun Nathan dengan cekatan mengambil alih dan menggantikan Eil. Suasana yang tadinya damai kini berubah menjadi sangat ramai karena kericuhan yang Nathan dan orang jahat tadi lakukan.


"Nathan stop! kau bisa membunuhnya," pekik Eil pada Nathan. Dia menarik lengan Nathan dan membantunya untuk beranjak dari atas tubuh laki-laki yang tadi ingin menyerangnya. Sebenarnya Eil bisa saja langsung membunuh orang itu. Tapi kalau dalam situasi ramai seperti ini, dia bisa mendapat masalah. Belum lagi Nathan. Bukankah Eil akan terlihat sangat kejam dan tidak manusiawi kalau sampai dia membunuh laki-laki itu dengan cepat?..


"Kau tidak apa-apa Baby?" tanya Nathan. Tangannya terulur menelisik wajah dan bagian tubuh Eil yang lain.


"Aku tidak apa-apa Nathan. Aku baik-baik saja," ucap Eil yakin. Nathan bernafas lega ketika mendengar jawaban dari istri cantiknya. Dia sungguh sangat khawatir pada Eil. Namun, Nathan juga sempat di buat terheran dengan gerakan tubuh Eil yang begitu cepat ketika menerjang musuh.


"Apa ada yang tidak aku ketahui tentang dirimu Eil? kenapa aku merasa kalau kau memiliki sisi lain selain yang sering kau tunjukan padaku."


"Kita sebaiknya pergi saja Nathan. Biarkan dia di sini, tadi sudah ada orang yang melaporkan nya ke polisi. Aku ingin pulang," ucap Eileria. Dia tidak ingin berada di luar lebih lama karena dia tidak tahu berapa banyak orang yang akan datang setelah ini. Penyerangan ini tidak mungkin tidak di rencanakan. Pasti ada orang lain selain pria yang sudah terkapar tidak berdaya di atas tanah itu.


"Kita akan pulang," ucap Nathan.


Sesampainya di Mansion. Eil langsung pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri. Dia masih memikirkan kemungkinan yang mungkin terjadi tadi sore. Siapa yang ingin mencelakainya. Dan orang seperti apa itu sampai dia berani menyerang Eil di tempat terbuka. Selain orang itu amatiran. Eil yakin kalau dia tidak mendapat pelatihan khusus.


Tok... Tok ..Tok


"Iya Byy!" teriak Eil dari kamar mandi.


"Apa kau baik-baik saja? kenapa kau sangat lama di kamar mandi sayang? buka pintunya. Aku takut kau kenapa-napa."


Cklekkkk.. Pintu kamar mandi terbuka. Nathan bernafas lega untuk itu. Dia takut Eil kenapa-napa karena terkejut dengan kejadian tadi sore.


"Apa Byy? aku gak papa kok? kenapa harus khawatir?" tanya Eil. Dia memainkan tangannya di dada Nathan saat laki-laki itu menarik pinggang Eil sampai tubuh bagian depan mereka menempel dengan sempurna.


"Aku takut kau kenapa-napa Baby, kejadian tadi sore tidak bisa di anggap remeh. Aku hanya takut kau terkejut. Lagian kau juga biasanya tidak lama kan di kamar mandi?" Nathan mengusap kimono yang di kenakan Eil. Dia masih tidak tahu bahwa kekhawatirannya tidak di perlukan oleh Eil. Eil justru takut kalau suatu saat orang-orang yang ingin menyerangnya beralih kepada Nathan.


"Hmmmm... Aku baik-baik saja. Kau mandi dulu ya! aku ingin menemui Irene sebentar," ucap Eil pada suaminya. Nathan hanya mengangguk. Tentu saja dia tahu kalau selama ini Eil dekat dengan salah satu pelayan di mansion mereka. Jadi kalau Eil sudah meminta izin untuk menemui Irene, Nathan tidak akan banyak bertanya tentang hal-hal yang tidak perlu.


Sepuluh menit kemudian Eil sudah ada di hadapan Irene. Sekarang Irene mendapatkan kamar khusus yang sengaja Eil siapkan untuknya. Bukan karena Eil pilih kasih, tapi ini dia lakukan supaya dia lebih leluasa untuk menemui Irene.


Irene memperhatikan Eil untuk sejenak. Apa yang harus dia katakan pada Nyonya nya ini. Dia hanya orang suruhan biasa. Dia tidak tahu apapun tentang Bara.


"Saya tidak tahu apapun Nyonya, saya hanya kebetulan bertemu dengan Tuan Bara saat saya dan pelayan yang lain ke luar dari mansion untuk membeli barang-barang yang di butuhkan. Saat itu dia langsung mengancam saya dengan mengatakan kalau dia akan membunuh ibu dan keluarga saya."


Eil mengangguk mengerti. Dia tahu Bara orang seperti apa, laki-laki itu pasti sudah mengintai kediaman Nathan sejak lama. Itu juga sebabnya kenapa dia tahu semua kegiatan yang ada di mansion Nathan.


"Apa akhir-akhir ini dia suka menghubungi mu?" tanya Eil dengan mata yang fikus menatap mata Irene. Sebuah trik yang selalu dia lakukan agar orang yang dia tanyai tidak bisa berbohong padanya.


Irene menggeleng. "Tidak Nyonya. Sudah lama Tuan Bara tidak menghubungi saya."


"Apa kau menyimpan nomornya?" tanya Eil. Lagi-lagi Irene menggeleng.


"Dia selalu memakai nomor yang berbeda ketika menghubungi saya. Jadi saya tidak tahu."


"Berikan ponselmu!" perintah Eil pada Irene. Irene hanya menurut dan memberikan ponselnya pada Eil.


Setelah lima menit, Eil memberikan ponsel Irene kembali. "Mulai sekarang apapun yang masuk ke dalam ponselmu, baik itu pesan atau telpon, semuanya akan masuk ke dalam ponselku. Jangan melakukan hal-hal yang tidak perlu Irene! aku akan terus mengawasimu."


Irene membungkukkan badannya saat Eil pergi keluar dari kamarnya. Dia sudah takut karena Bara mengancamnya dan selalu menekannya, sekarang ada orang lain juga yang memantau setiap pergerakannya. Kalau begini, Irene merasa kata-kata hidup segan mati tak mau kini dia rasakan.


"Kau sudah kembali?" tanya Nathan pada Eil yang baru saja masuk ke dalam kamar mereka.


Eil berjalan ke arah ranjang lalu naik dan bersandar di dada suaminya.


"Byy...!" panggil Eil .


"Ada apa?" Nathan memeluk Eil sambil mengusap rambut panjang istrinya lembut. Dia juga menghirup aroma shampo yang keluar dari rambut sang istri sesekali. Wangi bunga Azalea bisa Nathan hirup dengan baik.


"Aku akan pergi selama satu minggu ke Amerika. Aku ada pertemuan dengan para dosen bimbingan ku di sana. Tidak apa bukan?" tanya Eil dengan sangat hati-hati. Dia tentu tidak ingin suaminya marah. Biarlah dia berbohong. Yang penting rencananya untuk memata matai Bara bisa berjalan dengan lancar.


"Aku ikut!" ucap Nathan enteng.


"What?" pekik Eil yang terkejut mendengar respon yang di ucapkan suaminya.


...To Be Continued....