
Amber menatap lurus pantulan dirinya di depan cermin, akhir-akhir ini dia lebih sering berdandan, bukan cuma di depan Lukas, tapi di depan Jerome juga dia selalu berpenampilan menarik. Dia tidak pernah melewatkan kesempatan untuk membuat kedua laki-laki yang dia sayangi itu takjub akan yang dia miliki.
Rasa percaya dirinya sudah sangat tinggi. Selain Lukas yang sudah mulai memperlakukan nya dengan baik, Jerome juga tidak sedingin sebelumnya. Meskipun dia memang jarang di rumah, tapi kalau memang ada waktu, dia akan memberikan semua waktunya untuk Amber.
"Kau sudah sangat cantik Amber!" pujinya pada diri sendiri. Dia membetulkan posisi lengan dres dengan sangat hati-hati. Hari ini adalah hari libur. Dia harus menemui Lukas dan Alard. Dia sudah sangat merindukan dua laki-laki itu. Sekarang akhir pekan, jadi mereka pasti ada si rumah dan sedang tidak melakukan kegiatan apapun.
Dia melangkahkan kaki jenjangnya keluar dari kamar. Gadis itu menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Apa Jerome masih belum bangun, kenapa dia tidak ada di ruang tengah ataupun ruang makan. Dapur juga masih sangat rapih. Itu tandanya Jerome masih belum keluar kamar.
Tok Tok Tok
Amber mengetuk pintu kamar Jerome beberapa kali. Hening, tidak ada suar, Jerome masih tidak menjawab panggilannya.
"Kakak apa kau di dalam?" tanya Amber sedikit berteriak. Sebelum sia pergi, dia hanya ingin memastikan kalau Jerome baik-baik saja. Amber tidak mungkin meninggalkan Jerome kalau dia merasa khawatir seperti sekarang.
"Kakak!" teriak Amber lagi. Dia semakin kencang menggedor pintu kamar Jerome.
"Pergilah kalau mau pergi Amber. Aku baik-baik saja. Aku cuma lagi beresin kerajaan," ucap Jerome dari dalam kamar.
Amber sebenarnya merasa ragu untuk pergi. Tapi karena dia juga sudah janji kepada Alard, dia tidak bisa membatalkan janjinya, mungkin kalau dia janji kepada Lukas, dia bisa mencari alasan untuk tidak pergi. Tapi kalau kepada Alard, dia tidak bisa seperti itu. Alard pasti sedih. Dia sudah menantikan ini sejak jauh-jauh hari. Alard pasti kecewa kalau Amber tiba-tiba membatalkan janjinya.
"Kalau begitu aku pergi Kak. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku!"
"Eum."
Hanya itu yang yang keluar dari mulut Jerome. Dia berusaha untuk menopang tubuhnya dengan bersandar ke dinding di samping pintu kamar. Pagi ini dia meras pusing, tubuhnya mengeluarkan keringat dingin. Dia juga sangat lemas. Jangankan untuk keluar kamar, ke kamar mandi saja dia harus bersusah payah.
Jerome sengaja berbohong kepada Amber. Dia tidak ingin merusak hari baik adiknya itu. Jerome tahu kalau Amber selalu meluangkan waktu untuk menemani Alard. Dia tidak ingin membuat bocah kecil itu sedih.
Drtzzzzz... Drtzzzzz...
Jerome kembali ke ke dekat ranjang untuk mengambil ponselnya yang ada di atas nakas. Dia melihat nomor yang tertera di layar ponselnya. Tidak ada nama di balik nomor itu. Hanya sebaris nomor yang terus menerus melakukan panggilan tanpa henti.
"Halo!" sapa Jerome pada orang di sebrang telepon.
Pekikan yang keluar dari spiker ponselnya membuat Jerome sedikit terkejut. Dia menjauhkan ponselnya dari telinga untuk beberapa saat.
"Kau sedang apa Honey? hari ini hari libur, kita pergi berkencan ya!" ajak Sulli antusias.
"Jangan menutup telponnya!" pekik wanita itu lagi.
Jerome sampai di buat terkejut. Apa Sulli adalah seorang cenayang sampai dia bisa tahu kalau Jerome ingin menutup teleponnya.
"Aku tidak bisa, aku sedang tidak mood!" jawab Jerome asal.
"Kau kenapa Honey? kau sakit? suaramu kenapa beda dari biasanya? aku pergi ke apartemen mu ya! tunggu aku di sana!"
Belum sempat Jerome menjawab, panggilannya sudah di putuskan oleh Sulli. Dia mendengus lalu menyimpan kembali ponselnya di atas nakas.
****
Ting Tong...
Ting Tong...
Ting Tong..
Ting Tong..
Suara bel di apartemen Jerome terus berbunyi tanpa henti. Jerome dengan malas bangun dari atas ranjang kemudian berjalan keluar untuk membuka pintu. Wanita itu benar-benar menyebalkan. Dia sangat merepotkan. Bahkan ketika Jerome sedang ingin istirahat, Sulli tidak membiarkan Jerome melakukan itu.
"Honey!" pekik Sulli langsung menerobos masuk ke dalam apartemen. Dia tidak memperdulikan tatapan membunuh Jerome yang dia tunjukan untuknya. Baginya, tatapan Jerome itu adalah tatapan cinta. Dia melihat sorot mata Jerome seperti sebuah permata uang bercahaya. Padahal, di banding permata, sorot mata Jerome lebih terlihat seperti semburan lahar panas dari gunung aktif yang sedang mengeluarkan isi perutnya.
"Apa yang kau lakukan Sulli? lebih baik kau keluar. Di sini tidak ada siapa-siapa. Kau mau orang salah paham."
Sulli tidak mendengarkan Jerome. Dia berjalan ke arah pantry lalu mencari sebuah mangkuk dan menuangkan bubur hangat buatannya ke dalam mangkuk itu.
"Aku di sini karena aku mengkhawatirkan mu Honey. Aku tidak tenang kalau harus membiarkan mu kesakitan sendirian seperti ini. Aku membuatkan bubur untuk mu. Kau makanan lah bubur ini. Kau belum makan bukan?"
Jerome mendengus tidak suka. Dia membanting pintu apartemennya kasar. Matanya enggan untuk melihat Sulli yang sedang sibuk di dapur nya. Dia lebih memilih untuk pergi ke kamarnya dan kembali tidur. Dia hanya butuh istirahat. Itu saja.
"Kau mau kemana?" tanya Sulli mengekori Jerome dari belakang. Dia ikut masuk ke dalam kamar dan duduk si tepian ranjang.
"Jangan tidur dulu Honey! ayo duduk lah sebentar!" titah Sulli membantu Jerome untuk duduk bersandar di sandaran ranjang.
Jerome menurut. Meskipun dia enggan, tapi dia tidak bisa melawan untuk saat ini. Dia sangat lemah dan tidak bertenaga, ini sudah hampir siang. Dia memang lapar, tapi dia tidak berselera untuk makan apapun.
"Buka mulut mu!" titah Sulli menyodorkan sebuah sendok di depan bibir Jerome.
Jerome menurut. Dia membuka mulutnya dan mulai melahap bubur yang di suap kan Sulli padanya.
"Apa buburnya enak?" tanya Sulli penasaran.
Jerome mengangguk. Sulli semakin bahagia, dia tidak sia-sia menghabiskan waktu lebih dari tiga puluh menit untuk membuat bubur yang enak untuk Jerome.
"Apa kau punya obat demam?"
"Mungkin ada di dalam kotak p3k yang ada di dalam lemari itu!" tunjuk Jerome pada sebuah lemari yang tak jauh dari tempatnya berbaring sekarang.
Setelah memberikan obat kepada Jerome, Sulli menyuruh Jerome untuk tidur dan istirahat. Dia menyelimuti tubuh Jerome supaya tubuh laki-laki itu mengeluarkan keringat dan demamnya akan turun.
2 jam berlalu. Sulli yang sejak tadi menunggu Jerome mulai bosan. Dia mondar-mandir kesana kemari. Mata nya kembali fokus kepada Jerome. Dia mengerutkan keningnya bingung. Kenapa Jerome terlihat gelisah. Bukankah tadi dia sudah baik-baik saja?
...To Be Continued....