
"Apa kau yakin ingin melakukan ini Lea?"
"Aku yakin Dragon. Kita gak punya pilihan lain lagi, aku harus turun tangan sendiri untuk menemui Bara di kantornya. Tapi, aku minta satu hal darimu. Apapun yang terjadi, jangan biarkan anggota kita yang lain terluka. Aku akan menerima setiap konsekuensinya. Bara tidak akan berani menyakitiku Dragon. Kau juga tahu itu."
Dragon mengangguk. "Kapan kau akan memulai misi ini ?"
"Kalau kau siap, malam ini aku siap. Nathan sedang di Maroco Dragon. Ini kesempatan yang bagus untukku supaya aku bisa lebih leluasa untuk menemui Bara."
"Baiklah. Aku tidak menyarankan ini padamu. Apapun yang akan terjadi, aku tidak akan bertanggungjawab. Kau sendiri yang mengatakan ini padaku. Tapi ingat satu hal Lea. Aku tidak akan mendengarkan mu. Aku akan menyiapkan tim khusus untuk memantau setiap pergerakan kalian."
Hari semakin siang. Matahari sudah semakin tinggi. Eil sudah bersiap dengan segalanya. Pisau lipat, pistol yang dia sembunyikan di balik dresnya, dan juga suntikan penenang.
"I'm ready," ucap Eil. Dia mengenakan earphone yang sangat kecil. Saking kecilnya, earphone itu lebih terlihat seperti manik-manik anting yang sangat cantik. Dia juga memasang sebuah mic pada liontin kalung yang dia kenakan.
Setelah semua orang siap, Eil memulai misinya untuk menemui Bara. Saat sampai di perusahaan Altezza, Eil melangkah menuju meja resepsionis dengan anggunnya.
"Maaf Nona, apa Tuan Bara ada di kantornya?" tanya Eil. Bukannya menjawab kedua resepsionis itu malah bengong memperhatikan wajah Eil yang menurut mereka teramat sangat cantik.
"Nona!" panggil Eil sambil mengibaskan tangannya di depan dua resepsionis tadi.
"Akh iya. Maaf?"
"Saya tanya, apa Tuan Bara ada di ruangannya?"
"Saya tanyakan dulu kepada sekertaris Tuan ya Nona."
Eil menunggu untuk beberapa saat. Apa Bara sudah gila karena membiarkannya menunggu seperti ini.
"Maaf, nama Anda siapa?" tanya resepsionis itu lagi.
"Eileria," jawab Eil singkat.
"Saya akan mengantar Anda ke ruangan Tuan Nona." Eil hanya mengangguk.
Kurang dari lima menit, mereka sudah sampai di depan pintu ruangan Bara.
"Terimakasih," ucap Eil. Resepsionis itu pun pergi meninggalkan Eil seorang diri.
Tok Tok Tok....
"Masuk!" sahut Bara dari dalam.
"Apa kabar Tuan Bara," sapa Eil. Bara yang sedang fokus pada laptopnya langsung mendongakkan kepalanya. Matanya terpaku untuk beberapa saat. Sosok Eil yang sangat dia cintai ada di hadapannya. Dengan sukarela? apakah ini sungguhan?.
"Halo Honey! lama tidak bertemu," ucap Bara. Dia berjalan mengitari mejanya lalu mendekat ke arah Eileria. Setelah sampai di depan Eil Bara memainkan rambut Eil sambil tersenyum bahagia.
"Aku sudah menunggumu Sayang. Kenapa kau sangat lama?"
Eil sebenarnya merasa sangat risih karena Bara terus mendekat ke arahnya. Tapi demi membongkar semua kebusukan Bara, Eil harus bisa melewati ini semua. Masa bodoh jika dia harus bersentuhan dengan Bara, tidak ada cara lain yang bisa membuat Bara tidak waspada kecuali dirinya.
Bara tersenyum saat tangan Eil mulai menyentuh dadanya. Jemari lentik Eil yang menempel pada tubuhnya membuat Bara hilang fokus. Padahal Eil menyentuhnya tidak pada kulit Bara langsung, tapi laki-laki itu memberikan respon yang sangat luar biasa. Apa pengaruh Eil sangat besar untuk Bara?..
"Aku akan menjadi sekutu mu Bara, tapi aku punya satu permintaan," bisik Eil di dekat telinga Bara.
Bara yang memang sangat mencintai Eil tentu saja bahagia karena Eil tidak bisa di sandingkan dengan siapapun, apapun yang Eil minta Bara pasti akan memberikan nya."Katakan Sayang, apa yang harus aku lakukan?"
Eil tersenyum menyeringai. Dia semakin menempelkan tubuhnya pada Bara. "Aku ingin kau bunuh Ayahnya Belle untuk ku."
Tanpa Bara sadari, Eil ternyata menanamkan sebuah chip yang ukurannya sangat kecil, saking kecilnya, Bara hanya akan merasa kalau kulit lehernya di gigit serangga. Eil sengaja menyentuh bagian sensitif Bara supaya Bara semakin kehilangan akal.
"Aku akan melakukannya untuk mu Sayang, kau tenang saja."
"Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu. Aku masih ada urusan di rumah sakit. Semoga kelak kita bisa bertemu lagi Bara," ucap Eil basa basi.
"Pasti Sayang. Kita pasti akan bertemu lagi."
Cup. Bara mengecup punggung tangan Eil sekilas. Eil tersenyum lalu pergi dari ruangan Bara. Dia ingin cepat-cepat pulang dan membersihkan seluruh tubuhnya. Dulu dia tidak seperti ini. Se jijik apapun Eil pada laki-laki. Dia tidak pernah merasa lebih jijik dari ini. Bara benar-benar membuatnya muak.
"Misi on clear," ucap Eil.
Satu jam kemudian, Eil sudah sampai di mansion-nya. Dia melirik sebuah mobil yang terparkir apik di ruang bawah tanah milik suaminya itu. Apa Nathan nya sudah kembali? benarkah? sudah seminggu sejak suaminya itu pergi. Dan sekarang suaminya sudah pulang. Bukankah Eil harus bahagia untuk ini.
Langkahnya semakin cepat seiiring dengan berdegup nya jantung Eil. Entah kenapa dia merasa sangat gugup padahal ini bukan pertemuan pertama mereka. Tapi Eil merasa seperti akan bertemu teman kencannya.
"Nathan!" panggil Eil..
"Byy!" panggilnya lagi. Tidak ada yang menyahut.
Tak...Eil menghentikan langkahnya. Matanya menatap lurus ke arah pantry. Ada apa ini? siapa wanita yang ada di mansion nya?
"Ekhemmmm," dehem Eil. Orang yang sedang sibuk di pantry itu menoleh. Dia sedikit terkejut namun dengan sigap langsung berlari ke arah Eil dan membungkuk kan tubuhnya sopan.
"Anda pasti istrinya Tuan Nathan. Saya Lily Nyonya. Tuan membantu saya saat kami berada di Maroco. Saya tidak punya tempat persembunyian, jadi Tuan membawa saya ke sini."
Eil masih bingung. Dia tidak tahu harus menjawab apa, Eil tahu Nathan melakukan ini atas dasar kemanusiaan. Tapi bukankah seharusnya Nathan membicarakan ini dulu dengannya? kenapa Nathan bisa se ceroboh ini.
"Baby!" panggil Nathan dari arah tangga. Eil maupun Lily menoleh. Lily tersenyum hangat kepada Nathan, tapi Eil? wanita itu menekuk wajahnya dalam. Dan Nathan yang tahu akan perubahan mood istrinya langsung menghampiri Eil.
"Sayang aku merindukanmu," ucap Nathan. Dia menarik pinggang Eil lalu mengecup bibirnya sekilas dan memeluknya erat.
"Kau sangat cantik sayang. Kau habis dari mana?" tanya Nathan lagi. Lagi-lagi Eil hanya diam. Dia melepas pelukan Nathan lalu berjalan ke lantai atas dengan segera. Dia bahkan tidak perduli pada Nathan yang menatap nya dengan tatapan bingung.
Brakkkkkk... Eil membanting pintu kamarnya kasar. Dia tidak ingin melihat kejadian seperti ini. Bukan ini yang Eil harapkan. Kenapa Nathan berani memasukan wanita lain ke dalam rumah tanpa se ijinnya? kenapa?...
...To Be Continued....
Lily.