
"Ayah! aku membutuhkan orang-orang mu untuk melakukan pekerjaan yang sangat sulit. Kirimkan aku beberapa ninja dan juga pembunuh bayangan yang sudah terlatih!"
"Apa yang ingin kau lakukan Nak? kau tidak sedang dalam bahaya bukan?" tanya Ayah Belle di sebrang telpon.
"Aku baik-baik saja. Ayah bisa mengirimkan apa yang aku minta bukan? aku butuh segera Ayah. Jangan membiarkan ku menunggu lama."
"Baiklah, ayah akan mengirimkan semuanya sesuai dengan permintaan mu. Tapi hati-hatilah! kau ini tidak terlatih, jangan membuat sesuatu hal yang akan mencelakai dirimu sendiri."
"Baik Ayah . Aku mengerti."
Belle tersenyum cerah setelah dia mematikan sambungan teleponnya. Ayahnya memang tidak pernah mengecewakan dia. Apapun yang Belle minta, Ayahnya akan mengabulkan semua permintaannya.
Sudah berbulan-bulan sejak kejadian di mana Belle di permalukan oleh Bara di tempat tidur terjadi. Dia harus mulai bergerak. Dia yakin kalau Bara sudah tidak waspada lagi terhadapnya. Belle harus menghancurkan Eileria saat ini juga. Semakin lama Eil hidup, semakin sulit baginya untuk memiliki Nathan. Hanya dia yang boleh memiliki laki-laki tampan itu. Eil tidak boleh dan tidak berhak.
"Tunggu dan lihat! aku akan menghancurkan mu dengan tangan ku sendiri Eil."
Sementara di tempat lain. Eil masih fokus melihat deretan huruf dan angka di laptopnya. Dia juga semakin menekan earphone yang dia pakai. Suara di balik earphone itu membuatnya sedikit penasaran.
"Kau meminta ninja dan pembunuh bayangan Belle? untuk membunuhku?" gumam Eil sambil menunjuk dirinya sendiri. "Bermimpilah selagi kau bisa Belle, aku tidak keberatan."
"Aku ingin beberapa dari kalian untuk mengawasi ponsel ini. Dan ya, aku membutuhkan perlindungan."
Semua orang yang ada di ruangan itu mengangguk kepada Eileria. Jerome yang melihat itu juga melakukan hal yang sama.
"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya Eil, " tanya Jerome ketika mereka sudah ada di luar ruangan. Lebih tepatnya di area parkiran yang memang masih terletak di dalam bangunan yang ada di bawah tanah itu.
"Aku masih harus mengumpulkan sesuatu Jerome. Belle bekerja sama dengan Bara. Itu menjadi sebuah kemungkinan bahwa selama ini orang yang menyokong dan melindungi Belle adalah orang-orang dari Bara. Mungkin saja parfum yang sedang kita teliti itu juga berasal darinya."
Jerome mengangguk paham. "Aku akan pergi sekarang," ucap Eil. Jerome mengangguk. Setelah itu, dia juga pergi ke rumahnya sendiri, lebih tepatnya ke apartemen.
Setelah lebih dari dua jam berkendara, Jerome akhirnya sampai di apartemennya. Dia menghidupkan lampu di seluruh ruangan.
"Akkhhhhhh," pekik Jerome dan Amber bersamaan.
"Astaga Kakak, kau membuatku takut saja," gerutu Amber dengan suara anehnya.
"Kau yang mengangetkan ku. Kenapa memakai masker putih seperti itu di tengah malam!"
"Ishhhh... Aku lagi perawatan Kak. Biar lebih cantik. Biar om duda kepincut sama kecantikan ku."
Deg.... Jantung Jerome mendadak berhenti berdetak. Apa yang baru saja dia dengar? om duda? Amber sedang membicarakan Lukas bukan? kenapa harus laki-laki dari keluarga bosnya yang di cintai Amber, kalau saja itu orang lain, dia mungin sudah menghabisinya sejak lama.
"Apa kau sangat menyukai Lukas Amber?" tanya Jerome malas, dia melepas sepatunya dan masuk ke apartemen tanpa memberikan senyuman pada Amber.
Prang...... Amber langsung menoleh dan mendekat ke meja pantry. Apa yang Jerome lakukan sampai ada suara barang pecah.
"Tangan mu berdarah Kak," pekik Amber, dia langsung melempar masker wajah yang tadi menempel di wajahnya dengan cepat.
Jerome tidak merespon. Dia malah mengepalkan tangannya membuat darah segar semakin mengalir deras. Kenapa Ambernya jadi seperti ini. Kenapa dia tidak mengerti perasaan Jerome. Apa kurangnya Jerome sampai Amber tidak memberikan perhatian lebih padanya.
"Aku akan mengobati tangan mu Kak," ucap Amber yang sudah membawa kotak p3k di tangannya.
Jerome mendengus. " Aku tidak butuh bantuan mu Amber," ucap Jerome dingin.
Tesss.... Air mata menetes di pipi putih Amber. Dia sangat mengkhawatirkan Jerome tapi Jerome malah berbicara dingin kepadanya. Kenapa? apa pekerjaannya membuatnya sangat lelah. Tapi ini bukan salah Amber kan? kenapa Amber harus menerima sikap tidak menyenangkan dari Jerome.
"Kau!" ucap Jerome ketika melihat Amber mengeluarkan air matanya.
"Obatilah!" ucap Jerome menyodorkan tangannya yang terluka ke pada Amber. Amber mengusap air matanya kasar lalu menarik Jerome dan mendudukkannya di sofa.
"Kenapa kau menangis Amber?" tanya Jerome ketika Amber sedang fokus merawat luka di tangannya. Apa karena tadi dia berbicara dengan nada dingin? tapi harusnya Jerome yang menangis karena Amber mengkhianatinya bukan? kenapa malah Amber yang sedih.
"Kakak kenapa? kalau sedang ada masalah di kantor , bicarakan padaku! tapi jangan berbicara dengan nada dingin seperti tadi. Dan jangan melakukan hal-hal yang bahaya seperti ini. Bagaimana bisa tangan mu terluka? kau bukan anak kecil lagi sampai harus memecahkan barang-barang di dapur ketika kau marah."
Jerome masih diam. Dia ingin menyahut tapi dia bingung harus mengatakan apa, dia cemburu. Dia cemburu karena Amber menyukai laki-laki lain. Tapi dia tidak bisa mengatakan itu pada Amber. Dia masih belum siap untuk memberitahu Amber semua rahasianya. Jerome takut Amber akan pergi darinya.
"Maafkan aku Amber. Semua ini salahku, andai aku tidak membunuh kedua orang tuamu, kau pasti sudah hidup bahagia di luar sana. Kau juga tidak akan terkurung di bangunan kecil seperti ini. Hidupmu akan terjamin jika kedua orang tuamu masih hidup. Maaf Amber. Maafkan aku."
"Kak!" panggil Amber.
"Hah?" Jawab Jerome yang sedikit terkejut.
"Ada apa? kenapa melamun?" tanya Amber lagi. Dia sudah selesai membalut luka di tangan Jerome.
"Aku tidak apa-apa Amber. Maafkan aku," ucapnya langsung berdiri dan pergi ke kamarnya.
Amber menatap nanar pintu kamar Jerome."Kenapa akhir-akhir ini kau berubah Kak. Kau menjadi lebih dingin dan tidak se asyik dulu. Apa kau bosan merawat ku? kenapa semakin lama kau semakin menjauh Kak?. Aku semakin kesepian," ucap Amber. Wajahnya kembali sendu. Bahkan secara tidak sadar, air matanya kembali mengalir.
Sebenarnya takdir seperti apa yang sedang dia jalani. Kenapa hidup terasa sangat sulit untuknya. Apa kedua orang tuanya melakukan kesalahan di masa lalu dan kini dia yang harus menanggung semuanya? Kenapa dia harus merasa terkucilkan seperti ini.
Srakkkk... Brukkkkk... Jerome menyapu semua barang yang ada di meja kerjanya. Hatinya terluka, dia merasa Tuhan tidak adil karena telah membuatnya ada di posisi yang sangat sulit. Dia mencintai Amber, tapi kenapa dia harus menjadi orang yang telah membunuh kedua orang tuanya Amber? kenapa?.
...To Be Continued....