The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Dokter Daniel



"Dokter Eil!"


Eil dan Darius menoleh kepada orang yang menyebut nama Eil.


"Dokter Daniel!" Eileria tersenyum ke arah pria yang kini juga sedang tersenyum kearahnya.


"Apa kabar Eil? Aku dan para dokter serta semua orang yang ada disni sangat merindukanmu."


"Aku sakit Daniel. Kau tidak melihat aku duduk di atas kursi roda."


Daniel mengalihkan pandangannya menatap kursi roda yang dimaksud Eil. Dia sangat terkejut. Pemilik rumah sakit mengatakan kalau Eil cuti. Namun tidak mengatakan cuti untuk apa dan kenapa. Daniel tidak menyangka kalau Eil ternyata sakit. Bahkan dia sampai harus menggunakan kursi roda.


"Aku hanya bercanda Daniel. Aku tidak apa-apa. Aku memakai kursi roda karena ingin saja." Humor yang Eil ucapkan tak lantas membuat Daniel tersenyum. Mana mungkin orang sehat mau menggunakan kursi roda tanpa ada sebab dan alasan.


"Maafkan aku Eil. Aku tidak tahu."


Daniel bergerak untuk membuat jarak yang lebih dekat dengan Eil. Dia ingin mengusap kepala Eil namun ...


Ekhemmmm ...


Darius berdehem membuat Daniel mengurungkan niatnya. Mata Darius menatap lekat gelagat Daniel. Darius tahu dan dia sangat yakin kalau Daniel ada rasa kepada menantunya.


"Ada yang ingin aku sampaikan Eil."


Eileria menoleh menatap Daniel. Tatapan pria itu berubah. Dia seperti sedang ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting.


"Aku akan pergi dengan mu Daniel."


"Kau mau kemana Eil?" Darius menghentikan kursi roda Eil saat menantinya berusaha untuk menggerakkan kursi roda yang dia kenakan dengan tangannya sendiri.


Eileria tersenyum lalu menyentuh tangan Darius lembut. "Aku hanya akan pergi sebentar Ayah. Aku tidak akan pergi jauh. Aku akan kembali setelah Daniel selesai berbicara. Ayah percaya padaku bukan?"


Darius diam. Kemudian mengangguk. Percuma saja dia mengatakan kalau dia tidak mau membiarkan Eil pergi. Eil pasti akan sangat kecewa padanya karena dia akan menganggap Darius tidak mempercayainya.


"Pergilah! Tapi ingat! Jangan lama-lama."


Darius mengangguk. Dia menatap kepergian Eil dan Daniel. Sebenarnya dia sangat tidak menyukai Daniel. Entah kenapa dia merasa kalau Daniel adalah sebuah ancaman untuk Nathan.


"Ayah!"


Darius menoleh saat Nathan memanggil dirinya. Meskipun dia belum melihat orang yang memanggilnya tadi, dia langsung tahu kalau itu adalah suara Nathan. Anak sulungnya itu berjalan dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Eil mana Ayah? Istri Nathan di mana?"


Bara yang kala itu datang bersama Nathan ikut memperhatikan Darius dan menunggu jawaban darinya. Tadi Bara sudah sangat lega ketika melihat Darius dari kejauhan karena dia pikir Eil juga ada di kantin. Namun, saat Bara dan Nathan semakin mendekat orang yang dia cari ternyata tidak ada.


"Dia pergi bersama Daniel Nathan."


Nathan maupun Bara mengerutkan keningnya. Mereka bingung mendengar jawaban dari Darius. Kalau Darius tahu Eil pergi dengan pria lain, kenapa dia tidak menemaninya atau tidak berusaha untuk mencegahnya supaya tidak pergi.


"Mereka pergi ke mana Ayah?" tanya Nathan dengan suara dinginnya.


"Ke arah taman."


Nathan dan Bara langsung berlari setelah mendengar jawaban dari Darius. Mereka tidak memperdulikan tatapan orang-orang yang menatap mereka aneh, karena mereka berlari seperti orang yang kesetanan.


Langkah Nathan dan Bara terhenti ketika dia melihat seorang pria sedang berjongkok di depan Eileria sambil berusaha untuk menyentuh wajah Eileria.


"Bajingan kau!"


Set ...


Buugghhhh ...


...To Be Continued ......


Hayo penasaran gak sama kelanjutannya? Maaf Author gantung. Besok up lagi kok. 🙏🤗