The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Paman Yang Jahat



"Kak!" panggil Amber pada Eileria.


Eil membuka kaca mobilnya. "Masuklah!" titah Eil. Amber pun masuk dan duduk di samping kursi kemudi.


"Apa Jerome tidak melarang mu pergi Amber? tumben sekali?"


Amber mendengus. "Dia sedang merajuk Kak, entah kenapa akhir-akhir ini Kak Jerome sering uring-uringan, dia juga menjadi lebih dingin dari biasanya. Aku tidak tahu kenapa Kak Jerome menjadi seperti itu."


Eil melirik Amber. "Mungkin kau melakukan kesalahan Amber, tidak mungkin dia marah tanpa sebab..Mungkin saja ada sikapmu yang membuat dia kurang nyaman."


Dengan cepat Amber menggeleng. "Aku tidak melakukan apapun Kak. Selama ini aku selalu menurut. Aku hanya bilang kalau aku menyukai seorang pria. Apa itu salah?" tanya Amber dengan polosnya.


"Memang siapa yang kau sukai?" tanya Eil.


"Aku menyukai Kak Lukas Kak."


Ckitttttt...


Eil refleks mengerem mobilnya tiba-tiba. Dia sangat terkejut, apa yang dia dengar barusan tidak salah kan? gadis muda seperti Amber menyukai Lukas yang sudah ber anak? gila, pantas saja Jerome marah, laki-laki itu sangat mencintai Amber, tapi amber malah mengatakan kalau dia mencintai laki-laki lain. Ya jelas saja Jerome marah.


"Kau bisa mengulangi kata-kata yang tadi?" pinta Eil pada Amber.


"Aku menyukai Kak Lukas Kak Eil....."


Eil membekap mulutnya. "Kau sungguh mencintai laki-laki yang sudah memiliki anak Amber?" tanya Eil memastikan.


"Hmmm.. Anak bukan masalah Kak. Kak Lukas sangat tampan. Aku menyukainya. Sangat. Tapi Kakak jangan bilang-bilang padanya ya. Aku malu Kak."


Eil mengangguk. Dia kembali melajukan mobilnya. Tadinya Eil ingin mengajak Amber untuk bermain ke rumah ayah mertuanya. Ya, bermain dengan Alard, tapi kalau seperti ini keadaanya, dia bingung, dia bingung apa rencana nya ini benar atau salah. Dia tahu kalau Jerome menyukai Amber, tapi secara tidak sengaja dia malah mempertemukan Amber dengan Lukas. Kenapa semuanya menjadi sangat rumit seperti ini sih....


"Kak!" panggil Amber.


Eil menoleh..


"Kenapa Kak Eil malah melamun?"


"Aku tidak melamun Amber. Aku hanya sedang fokus menyetir."


Amber pun mengangguk. "Kenapa reaksi kalian seperti ini ketika aku mengatakan kalau aku mencintai Lukas. Apa yang kalian sembunyikan di belakang ku Kak Eil Kak Jerome?" batin Amber berbicara.


Setelah lebih dari tiga puluh menit,akhirnya mereka sampai di kediaman Darius. Eil turun dari mobilnya, begitupun dengan Amber. Dia langsung berjalan mengekori Eil di belakang.


"Mommy!" panggil Alard pada Eil, dia berlari lalu memeluk leher Eil erat. "Mommy Alad kangen."


"Hmmmm... Mommy juga kangen sayang. Lihatlah siapa yang datang," ucap Eil. Dia melepas pelukan Alard lalu memposisikan anak laki-laki itu supaya bisa melihat Amber.


"Kakak cantik," panggil Alard. Amber tersenyum lalu jongkok dan merentangkan kedua tangannya.


"Alard tidak kangen Kak Amber ya?" tanya Amber sambil mengusap kepala Alard yang ada di pelukannya.


Amber terkekeh. "Kau itu sangat cerewet tapi bicaramu masih cadel. Sangat lucu," puji Amber . Dia mencubit pipi Alard karena terlalu gemas.


"Alad lucu Kak?"


"Hmmm, tentu saja, angguk Amber. Dia menjauhkan Alard dari pelukannya. " Kau sangat tampan," puji Amber lagi.


"Kalau begitu, Kakak Cantik harus menikah dengan Alad."


Eil maupun Amber membulatkan mata dan bibir mereka. Apa yang baru saja di katakan bocah lima tahun itu? dia ingin menikahi Amber? astaga, Alard benar-benar sangat lucu. Apa dia sudah tahu apa itu arti menikah.


"Kau itu masih bau kencur Alard. Kenapa sudah ingin menikah?" tanya Lukas yang baru turun dari lantai atas.


Eil , Amber dan Alard menoleh. "Kakak cantik bilang Alad tampan Daddy, dan Kakak Ambel juga sangat cantik. Jadi kita harus menikah."


Gelak tawa terdengar setelah bocah kecil itu mengatakan alasan absrudnya kenapa dia ingin menikahi Amber. Anak kecil memang anak kecil ya.. Apa yang dia pahami dan apa yang di pahami orang dewasa jelas saja berbeda .


Eil memperhatikan Amber, Lukas dan Alard, dia tersenyum. Mereka memang pantas menjadi sebuah keluarga, tapi bagaimana dengan Jerome? Eil tidak mungkin menutup mata dan pura-pura tidak tahu kalau Jerome sangat mencintai Amber. Dia merasa sangat bersalah untuk ini.


"Sayang!" panggil Darius dari belakang Eileria, saat ini mereka semua sedang ada di ruang tengah. Eil sibuk memperhatikan orang-orang yang sedang bermain di hadapannya. Meskipun Alard memanggilnya Mommy, anak kecil itu sangat nyaman ketika bermain dengan Amber.


"Iya Ayah," jawab Eil. Dia berdiri lalu memeluk ayah mertuanya sebentar.


"Duduklah!" titah Darius padanya. Eil mengangguk dan duduk kembali di sofa.


"Nathan kemana Sayang?" tanya Darius.


"Nathan sedang ada tugas ke Maroko Ayah. Saat ini dia sedang sibuk. Dia juga sangat jarang mengabari ku."


Darius menepuk punggung Eil perlahan. Raut sedih di wajah Eil membuat Darius merasa tidak nyaman. Darius tentu saja tahu kalau Eil tidak menyukai pekerjaan Nathan sebagai anggota dari pasukan khusus. Karena Darius tahu, temannya dahulu mati saat sedang bertugas. Ya, tugas yang Ayah Eil lakukan itu tidak lain dan tidak bukan adalah pekerjaan yang sama seperti apa yang di lakukan Nathan sekarang. Eil pasti sangat khawatir.


"Aku tahu kau tidak menyukai pekerjaan suamimu. Tapi kenapa kau tidak melarangnya kembali bergabung? bukankah dia akan menuruti apa yang kau katakan?"


Eil menghela nafasnya. " Aku memang tidak menyukai pekerjaan Nathan Ayah. Tapi Nathan sangat menyukainya. Aku tidak bisa egois, aku juga tidak ingin bekerja kalau akau tidak menyukai pekerjaan nya. Bekerja karena uang itu sangat melelahkan. Aku tahu itu."


Darius menarik bahu Eil lalu memeluk nya dan mengusap kepalanya lembut. Darius sangat bangga memiliki menantu seperti Eil, meskipun dia tumbuh sendiri, tapi Eil berhasil tumbuh menjadi gadis yang cerdas, periang dan juga sangat mengerti keadaan sekitar. Padahal, kalau Darius melihat pergaulan di luar sana, Darius yakin, jika Eil tidak bisa menjaga dirinya dengan baik, Eil pasti tidak akan sehebat dan se baik sekarang.


"Mommy," panggil Alard . Anak kecil itu menghampiri Eil dan berusaha untuk menggapai wajah Mommy nya itu. Eil tersenyum kemudian menunduk.


"Mommy, kenapa Mommy sedih? apa Alad melakukan kesalahan? Mommy malah kalena Alad bermain dengan Kakak Cantik?" tanya Alard sambil mengusap wajah Eil lembut.


Eil terkekeh. "Mommy tidak marah Sayang, Mommy justru senang karena Alard ada temen main. Mommy gak sedih. Mommy cuma kangen Paman kamu Sayang."


"Paman Nathan jahat. Paman sudah bikin Mommy Alad sedih. Alad benci Paman Nathan. Alad akan membelinya pelajalan kalau nanti Paman sudah pulang."


Semua orang tertawa mendengar kalimat yang keluar dari bibir Alard. Pangeran kecil mereka ini sangat lucu. Meskipun dia masih cadel, tapi mereka semua mengerti dengan apa yang di ucapkan Alard.


...To Be Continued....