
Bara di bawa ke sebuah rumah sakit yang berbeda dengan rumah sakit yang di gunakan Eil saat ini, Nathan sudah mewanti-wanti ini sejak dia sampai di rumah sakit. Dia meminta orang-orang nya untuk membawa Bara ke rumah sakit yang ada di kota Paris.
Seseorang datang menghampiri Bara. Orang itu melaporkan semua yang terjadi di pulau yang Bara miliki. Selain melaporkan bahwa mereka sudah membereskan orang-orang mereka yang mati di tempat Belle, mereka juga mengatakan kalau Dragon mulai memerintah orang-orangnya yang ada di pulau bunga milik Bara.
"Dia sudah mulai memerintah para ilmuan Tuan. Dragon juga membawa orang-orangnya ke sana untuk melakukan penelitian lebih lanjut. Apa yang harus kita lakukan Tuan?"
Beberapa orang itu menunduk sambil berbicara. Mereka tidak berani mengangkat kepala sebelum Bara memerintahkan mereka untuk melakukan itu.
Bara meringsut di atas ranjang rumah sakit. Dia duduk bersandar sambil memegangi bahunya yang terluka. Operasi yang di lakukan paramedis kemarin membantunya pulih lebih cepat. Apalagi untuk orang sepertinya, Bara sangat kuat sampai dia bisa pulih lebih cepat.
"Tarik orang-orang kita kembali nanti malam. Kalian tahu kalau di pulau itu terdapat bom atom yang aku simpan di dekat pelabuhan. Pemicu nya ada di ruangan ku. Kalian bisa mencarinya di sana. Pastikan orang-orang kita selamat sebelum kalian meledakan pulau itu. Dan ya, bawa mereka kembali menggunakan kapal selam, helikopter akan memancing perhatian Dragon."
"Baik Tuan."
"Pergilah!"
Orang-orang yang sejak tadi menunduk itu pergi dari ruang rawat Bara segera. Sementara Bara, dia menatap tembok polos yang ada di depannya. Dia berpikir cukup lama. Apa yang terjadi dengan Eileria, apa dia baik-baik saja? Nathan membawa Eil kemana. Kenapa Nathan menjauhkan nya dari Eil.
"Kau di mana Eil?"
Sementara di dalam sebuah ruangan rawat VVIP yang ada di rumah sakit, seorang pria sedang menggenggam erat tangan mungil istrinya yang masih lemas. Dia menatap wajah pucat Eil dengan wajah yang sendu. Dia terus berdo'a dalam hati supaya Eil bisa cepat sadar.
"Nathan!" gumam Eileria lemah. Dia menggerakkan kepalanya perlahan. Nathan yang kala itu sedang melamun langsung berdiri melihat keadaan Eil. Dia mengusap kepala Eil lembut. Air matanya menetes karena bahagia Eilnya sudah bangun. Itu artinya Eil sudah melewati masa kritisnya dengan baik.
"Kau sudah bangun Baby? Aku akan memanggil Dokter. Tinggu sebentar ya!"
Eileria menggeleng. "Bagaimana keadaan calon bayi kita Nathan? Apa dia baik-baik saja?" tanya Eil lemah. Dia menatap Nathan dengan tatapan sendu penuh dengan kekhawatiran.
"Calon bayi kita baik-baik saja Baby. Kau tidak usah khawatir. Semuanya baik-baik saja."
Nathan ingin segera keluar tapi Eil menahan tangannya.
"Ada apa?" tanya Nathan lagi.
"Kau tidak berbohong bukan? calon anak kita baik-baik saja bukan? Kau tidak sedang menghibur ku dan berusaha menenangkan ku?"
Nathan menunduk lalu mengecup kening Eileria sekilas. Dia sangat bahagia ketika melihat Eil sangat menginginkannya keberadaan bayi di antara mereka. Dia sempat takut kalau Eil tidak akan mau memiliki bayi dengannya. Tapi sekarang Nathan tahu kalau Eil sangat menginginkan keberadaan bayi di antara mereka. Mungkinkah Eil sudah siap melepas kehidupan ganda nya?
"Aku tidak bohong. Dia memang baik-baik saja. Kau bisa mempercayai ku Eil."
"Bara, di mana dia? Apa dia selamat? Dragon mengkhianatinya kita Nathan. Dia yang membuat ku seperti ini."
Nathan diam. Sebenarnya dia sangat malas kalau harus membahas Bara dengan Eil. Tapi karena takut Eil khawatir dan malah berpengaruh pada proses penyembuhan nya , Nathan memberitahu Eil semuanya.
"Bara baik-baik saja Eil. Dia ada di rumah sakit tempat kau bekerja. Aku sengaja mengirim nya ke sana karena tidak mau kau dekat-dekat dengannya lagi. Sementara Dragon, aku tidak tahu, ketika aku datang, hampir semua orang sudah terkapar. Tapi aku hanya melihat mu dan Bara di sana, tidak ada orang lain."
Eil mengangguk. Dia sudah lebih tenang. Biarkanlah Dragon bebas dulu dia akan memikirkan nya lagi nanti setelah kondisinya lebih baik.
"Apa kau baik-baik saja Baby?"
Nathan menatap Eil tanpa berkedip. Dia takut Eil drop. Dokter mengatakan kalau Eil tidak akan bisa berjalan untuk sementara waktu karena cidera yang ada pahanya membuat beberapa syaraf nya rusak. Eil masih harus melakukan beberapa pemeriksaan dan juga mungkin harus melakukan operasi beberapa kali agar kakinya bisa kembali normal seperti dulu.
"Aku baik-baik saja Nathan, Dokter mengatakan kalau kemungkinan ku untuk sembuh masih tinggi. Aku tidak mau pesimis. Aku yakin, cepat atau lambat aku akan sembuh."
Ucapan Eileria membuat Nathan merasa lega. Dia tahu ini bukan hal kecil yang bisa di terima begitu saja. Fakta bahwa Eil sedang hamil membuat dia sangat bahagia, tapi di sisi lain, Nathan merasa khawatir karena Eil akan lumpuh untuk sementara waktu.
"Aku mencintaimu Baby!"
"Aku juga mencintaimu Nathan."
Nathan mengelus perut Eil yang masih rata. Dia mengecup perut itu sekilas sebelum mengecup kening Eil.
"Terimakasih Baby. Aku sangat bahagia karena kau mau memiliki anak dariku. Maafkan aku karena tidak bisa melindungi mu dengan baik. Aku janji, setelah ini aku akan menjaga mu dan akan merawat mu. Aku akan menjadi tangan dan juga kaki untuk mu."
Eileria tersenyum. Dia merentangkan satu tangannya yang tidak terluka. Dia sangat ingin melompat kedalam pelukan Nathan. Tapi karena kondisinya, dia tidak bisa melakukan itu dan hanya bisa menunggu Nathan yang memeluknya.
"Maaf karena aku kembali dalam keadaan seperti ini Nathan. Aku akan berhenti. Aku tidak akan kembali pada pekerjaan lamaku. Aku janji, mulai sekarang aku akan menjadi istri yang baik dan patuh. Aku tidak akan pernah melakukan hal yang berbahaya lagi."
Nathan mengangguk. Dia mengelus punggung Eil lembut. "Kau tidak salah Baby. Jangan minta maaf."
Tok Tok Tok..
Seseorang berperawakan tinggi besar dengan setelan serba hitam masuk ke dalam ruang rawat Eil. Dia membungkuk lalu menyampaikan sesuatu pada Eil dan Nathan.
"Maaf Tuan, ada orang yang ingin menjenguk Nyonya."
"Suruh masuk saja!"
"Baik Tuan."
Setelah bodyguard itu keluar dari kamar inap Eil, beberapa orang langsung masuk dan langsung mendekati ranjang Eileria.
"Mommy!" pekik Alard.
"Sweety, kau kenapa sayang? Apa yang terjadi? Kenapa kau terluka seperti ini?"
Sulli mendorong tubuh Nathan dan menggantikan posisi nya. Dia tidak memperdulikan orang-orang yang lain yang ada di ruangan itu . Darius, Lukas, dan Amber hanya menatapnya aneh. Hanya Jerome yang tidak memperdulikan Sulli.
Eileria tersenyum. Dia ingin berbicara tapi sahabat karibnya terus mengoceh tanpa henti.
...To Be Continued....