
Hari ini langit sudah menampakan warna jingganya. Seorang laki-laki tampan masih berkutat dengan laptop dan juga beberapa dokumen yang ada di mejanya. Nathan menarik dasinya ketika dia sudah mulai sesak. Pekerjaan nya ini sungguh sangat sulit. Ketika dia masih bekerja sebagai agen khusus, pekerjaannya sangat menyenangkan karena Nathan sangat menyukai hal-hal yang menantang. Tapi kini, dia harus duduk diam di dalam sebuah ruangan yang sungguh membuatnya merasa sesak.
Nathan menghela nafas panjang kemudian berdiri dan berjalan ke arah dinding kaca yang ada di ruangannya. Laki-laki itu memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana. Matanya menatap lurus ke luar jendela, susana kota yang begitu ramai tidak membuat Nathan tergiur dan menikmati hari-hari nya ketika dia bekerja di dalam perusahaan meskipun itu perusahan miliknya sendiri. Nathan lebih suka terjun ke lapangan dan menyelamatkan nyawa seseorang daripada harus terkurung seperti sekarang.
Tok Tok Tok....
"Masuk!" seru Nathan dari dalam.
Tak.
Tak
Tak.
"Apa kabar Nathan?" tanya seorang wanita cantik dengan perawakan tinggi semampai bak seorang model di belakang Nathan.
Nathan menoleh, dia terpaku untuk sesaat. Wanita yang ada di hadapannya ini memang sangat cantik, lekuk tubuhnya tercetak dengan sangat indah karena dia mengenakan dres mini super ketat dengan mantel berbulu sebagai pelindung di bagian luarnya.
"Belle," ucap Nathan. Dia mengerutkan keningnya bingung. Pasalnya dia tidak memiliki janji atau memiliki sebuah urusan dengan Belle.
"Ada apa? kau membutuhkan sesuatu dariku?" tanya Nathan. Dia berjalan mendekati Belle. Wanita cantik itu tersenyum, dia melepaskan mantel bulu yang di pakainya dengan gerakan menggoda. Mantel itu luruh ke lantai dan hanya menyisakan pemandangan yang mungkin membuat siapa saja yang melihatnya akan menetes kan air liur. Bahu lebar dan tulang selangkanya terpang-pang dengan jelas di depan mata Nathan. Belum lagi sebagian buah dada Belle yang menyumbul ke luar dari dalam dres yang dia kenakan.
Glekkk.... Nathan menelan salivanya ketika Belle tersenyum dan perlahan mulai berjalan mendekatinya.
"Aku ingin konsultasi dengan mu Nathan. Aku juga aktif di bidang investasi. Aku tahu kau orang yang sangat hebat. Aku hanya ingin menjadi orang sukses sepertimu," ucap Belle di samping telinga Nathan. Tangan kirinya merangkul leher Nathan dan tangan kanannya bertengger dengan manis di dada bidang sang pria pujaan hatinya.
Nathan mematung. Sudah sangat jelas, jiwa laki-lakinya tidak bisa menahan godaan seperti ini. Meskipun dia sudah berusaha untuk mengontrol hasratnya, dia sama sekali tidak bisa menolak lonjakan hormon testosteron di dalam dirinya yang semakin meningkat ketika dia mendapat sentuhan-sentuhan sensual di tubuhnya.
Belle memeluk Nathan saat laki-laki itu hanya diam dan tidak menolak setiap sentuhannya. Bibirnya tertarik ke atas tat kala dia sudah mendaratkan kecupan-kecupan menggoda di leher Nathan. Perlahan tapi pasti, kecupan itu semakin maju ke depan, Belle meng hisap jakun Nathan yang sejak tadi sudah sangat menggodanya. Nathan mengerang nikmat. Dia mengangkat tangannya dan mendaratkan tangan besarnya itu di bo kong mon tok milik Belle.
Suasana di dalam ruangan semakin tidak kondusif. Nathan khilap. Dia hilang akal karena mendapat godaan dari Belle. Parfum yang di pakai Belle sungguh membuat Nathan mabuk ke payang seolah aroma parfum itu lah yang sejak tadi menarik dan juga mengontrol pikirannya.
Kini, kedua orang di dalam ruangan itu saling meraup bibir satu sama lain. Tangan Belle yang memang sudah sangat terlatih kini mulai membuka dasi dan juga kancing kemeja Nathan satu per satu.
Brakkkk.....
Suara pintu yang terbuka tidak lantas menghentikan kegiatan mereka, Nathan dan Belle seolah tuli karena hasrat membara yang ada dalam diri mereka.
Bughhhhh.... "Bajingan kau Nathan," sarkas lukas dengan amarah yang sudah menggebu-gebu.
Bughhhh... Nathan membalas meninju wajah Lukas . Kini mereka saling adu kekutan tangan masing-masing. Nathan menghentikan tangannya yang hendak memukul Lukas saat kesadarannya mulai kembali.
"Apa? kau mau pukul aku? pukul! kenapa berhenti brengsek," teriak Lukas dengan api yang menyala di matanya. Nathan melepaskan cengkeramannya pada kemeja Lukas. Dia menatap adiknya itu dengan wajah yang sendu.
"Kau sadar dengan apa yang sedang kau lakukan Nathan? kau sedang bermain gila dengan perempuan lain sedangkan istrimu sedang mencemaskan mu. Sejak tadi dia mencoba untuk menghubungimu. Tapi dia langsung menelpon ku dan menanyakan keadaan mu padaku. Cihhhh... Aku merasa buruk kepada Kakak ipar. Ternyata laki-laki yang dia nikahi adalah laki-laki rendahan yang tidak bermoral."
"Sedang apa kau di sini?" teriak Lukas pada Belle. Belle malah tersenyum . Dia memakai kembali mantelnya lalu pergi ke luar dari ruangan Nathan setelah dia merapikan penampilannya.
"Kau menyukai nenek sihir seperti itu Nathan?" tanya Lukas kepada kakak nya. Dia sama sekali tidak memperdulikan sudut bibirnya yang masih mengeluarkan darah segar. Kekecewaannya kepada Nathan sungguh sudah di luar batas.
"Lukas aku ... Aku bisa menjelaskan semuanya. Ini tidak seperti yang kau lihat. Aku.... Aku khilap," ucap Nathan berusaha untuk membela dirinya. Nathan memang khilap. Dia tidak tahu kalau wanita yang sejak tadi bercumbu dengannya adalah Belle. Dia merasa itu Eil. Tapi kenapa saat Lukas telah memukulnya dia baru bisa melihat bahwa wanita yang tadi menggodanya adalah wanita lain.
"Jangan membuat alasan. Kau bilang saja kalau kau tidak mencintai Kakak ipar. Dia tidak pantas mendapat laki-laki brengsek sepertimu. Kau pikir Eil akan memaafkan mu jika dia mengetahui hal ini?" ucap Lukas. Kali ini suaranya tidak setinggi sebelumnya. Dia merasa, percuma saja berteriak pada Nathan. Laki-laki ini jelas akan terus berdalih dengan semua alasan yang dimiliki nya.
Nathan menatap Lukas dengan tatapan mengintimidasi. "Lalu, menurutmu siapa yang pantas untuk Eil? Kau?" tanya Nathan sambil menunjuk dada Lukas dengan jari telunjuknya.
"Hahaha.. Kalau aku bilang iya kau mau apa?"
Bughhhhh.... Nathan kembali melayangkan tinjuannya di wajah Lukas. "Jadi selama ini kau memang menyukai istriku?" teriak Nathan membuat Lukas tertawa sinis.
"Ya... Awalnya aku menyukainya karena Eil sangat mirip dengan Victoria. Tapi, ketika aku semakin mengenalnya, dan setelah Eil membantu pengobatan Alard, aku semakin menyukainya. Aku sebenarnya sudah menyerah karena aku tahu kalau dia adalah istrimu. Namun, saat melihat kelakuan mu yang seperti ini. Mulai sekarang, aku tidak akan membiarkan Eil hidup dengan orang sepertimu. Aku akan membuatnya menyukaiku dan sampai waktunya tiba, dia akan pergi meninggalkan mu."
Nathan ingin melayangkan tinjuannya kembali, namun Lukas menepisnya. "Renungkanlah kesalahan yang telah kau lakukan jika kau benar-benar seorang laki-laki yang bertanggungjawab," ucap Lukas.
Lukas pergi meninggalkan Nathan yang masih mematung di tempatnya. Nathan mengacak rambutnya frustasi. Dia merogoh ponsel yang ada di dalam saku celananya. Dan saat Nathan menghidupkan layar ponselnya, terdapat 21 panggilan tidak terjawab dari Eileria. Nathan menghela nafasnya. Perasaan bersalah kian membesar saat dia membayangkan wajah Eil yang selalu tersenyum kepadanya.
"Apa yang harus aku lakukan Eil," gumamnya sambil menatap nanar layar ponselnya.
...To Be Continued....
...Hai reader jangan lupa like dan komentarnya ya. Thank You.....