
Sebelum mulai baca.. Jangan lupa jempolnya ya.. Kasih ratting 5 kalau kalian menyukai cerita ini. Dan author rengginang ini akan sangat bahagia kalau kalian mau nabur bunga juga.. Btw lagi dan lagi Author ingetin, Author sengaja up novel nya malem karena takut ada hal-hal yang tidak harus kalian baca malah terbaca. Jadi, kalau kalian tatap kekeuh mau baca siang, Author gak tanggung jawab ya.. 😁😁😁🤗
Happy reading semuanya..
Eil akhirnya pergi dari airport. Dia sebenarnya masih ingin menempel pada Nathan. Nathan juga sempat memintanya untuk ikut, bahkan dia menyuruh Eil untuk menyusulnya kalau waktu keberangkatan Eil terlaku terburu-buru. Eil tentu saja ingin ikut. Tapi mau bagaimana. Lusa dia ada jadwal operasi. Meskipun dia tidak memiliki jadwal teratur seperti dokter yang lain, tapi dia tetap memiliki pasien yang harus dia tolong. Eil membawa mobilnya karena tadi pagi dia meminta Jerome untuk mengantarkannya ke rumah sakit. Mobilnya memang masih ada di sana karena pada saat dia pergi ke apartemen Jerome dia pergi bersama Lukas.
Kittttt.... Ban mobil dari mobil yang Eil kendarai berdecit ketika beradu dengan tanah di depan rumah ayah mertuanya. Dia menatap rumah itu sejenak. Perkataan Nathan kembali terngiang di kepalanya. Dia tidak tahu kalau selama ini Lukas menaruh hati padanya. Dia selalu menganggap kalau Lukas adalah adiknya sendiri. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi.
"Oke Eil.. Bersikaplah biasa! dan seperti apa yang di katakan Nathan, jangan terlalu dekat dengan Lukas." Eil menutup pintu mobilnya lalu berjalan masuk ke dalam rumah ayah mertuanya.
"Ayah!.." panggil Eil dengan suara yang lantang. Darius muncul dari ruang keluarga. Dia mendekati Eil sambil tersenyum. Darius ingin memeluk menantu kesayangannya itu, namun Eil langsung melangkah mundur.
"Step back Ayah! aku marah padamu," ucap Eil sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Darius terkekeh. Menantunya ini sangat lucu ketika sedang merajuk seperti sekarang. "Maafkan ayah sayang, ayah tidak punya pilihan lain. Ayah tidak sengaja mengetahui apa yang terjadi pada kalian dari Lukas. Dia tidak memberitahu ayah. Ayah hanya mendengar percakapan nya dengan Alard. Jadi ayah terpaksa membohongimu. Ayah juga tahu, Nathan bukan laki-laki brengsek. Dia laki-laki yang bertanggung jawab." Darius melangkah maju mendekati Eil lalu memeluk Eil sambil mengelus kepala Eil lembut.
"Ayah harap rumah tangga kalian akan selalu baik-baik saja. Jangan terlalu mendengarkan kata-kata orang lain. Kau bisa membahasnya dulu dengan suamimu ketika hal seperti ini terjadi."
Eil mengangguk. Dia tahu kalau dia memang belum dewasa dalam menyikapi hal seperti ini. Jujur saja. Eil pernah menjalin sebuah hubungan dengan seorang laki-laki di masa lalu. Tapi hubungannya kandas karena kekasihnya itu ketahuan berselingkuh dengan rekan kerjanya. Dan pada saat Eil menanyakan apa kurang nya dia, kekasihnya itu mengatakan kalau dia butuh menyalurkan hasratnya. Bodoh bukan.
"Maafkan Eil Ayah. Eil tahu Eil memang belum dewasa."
"Tidak apa sayang. Ayah tahu kalian masih baru dalam menjalin rumah tangga. Hal ini biasa terjadi. Kalau cinta kalian tidak di uji, bagaimana mungkin kalian bisa tahu kalau kalian saling mencintai dan saling membutuhkan satu sama lain."
Eil mengangguk dalam pelukan Darius. "Ayah. Katanya Alard sakit? dia sudah tidur?" tanya Eil. Dia menarik tubuhnya untuk sedikit lebih menjauh dari Darius lalu mendongak dan menatap ayah mertuanya itu lekat.
" Sekarang Alard sudah baik-baik saja. Dia ada di kamarnya. Mungkin Lukas sedang menemaninya bermain."
"Aku akan menemuinya sebentar Ayah. Aku tidak bisa menginap karena ada yang harus aku urus di mansion."
Ya.. Eil terpaksa berbohong karena dia tidak ingin membuat suaminya tidak tenang. Walau bagaimanapun Eil harus bisa menjaga harga diri Nathan. Ucapan Nathan sudah seperti perintah untuknya.
Tengah malam Eil baru pulang ke mansion-nya. Dia mulai masuk ke dalam mansion. Susana di sana sangat sepi. Tidak ada Nathan membuatnya merasa sangat kesepian. Eil naik ke lantai atas. Dia tidak langsung masuk ke kamarnya dan kamar Nathan. Dia masuk ke dalam kamar lamanya mencari sebuah kotak lalu mengeluarkan laptopnya dari sana. Eil duduk di sebuah kursi yang ada di kamarnya. Dia membuka laptopnya perlahan lalu mulai mengetikan sesuatu.
"Aku tahu kau bukan wanita baik-baik Belle. Kau bahkan lebih buruk dariku," sarkas Eil sambil tersenyum sinis. Dia mulai memikirkan rencana untuk membuat perhitungan dengan Belle. Eileria Song tentu tidak akan diam saja jika kehidupannya di usik seperti ini. Memang Belle menganggap nya apa. Dia bukan wanita lemah yang akan diam saja ketika seseorang menyentuh kehidupan damainya.
Sementara di sisi lain, Bara sedang menggerutu sambil membanting semua barang yang ada di meja kerjanya. Orang-orang dengan pakaian serba hitam di hadapannya hanya bisa menunduk tanpa bisa melakukan apapun. Kemarahan bos mereka adalah sesuatu hal yang sama sekali tidak boleh ada yang berani menyelanya. Meskipun terkadang mereka juga menjadi pelampiasan, mereka juga tidak bisa melakukan apapun.
"Brengsek.. Dia masih kembali ke mansion itu. Jadi wanita itu masih memilih laki-laki bodoh yang telah mengkhianatinya. Cihhh.. Aku tidak akan pernah menyerah Eil. Aku akan melakukan apapun supaya kau bisa menjauh dari suamimu."
Bara melirik orang-orang yang ada di hadapannya. Wajahnya nampak sangat dingin dan menakutkan. Aura iblis dalam dirinya keluar ketika dia sedang marah.
"Apa yang kalian lakukan di sini hah? Pergi!" titah Bara dengan suara tingginya.
Namun belum sempat mereka keluar dari ruangan itu...
Dor... Dor....
Bara melepaskan pelurunya begitu saja. Dua pengawalnya jatuh ke lantai saat mereka mendapatkan sebuah tembakan di betis mereka. Sementara pengawal yang lain berusaha untuk memapah teman-teman mereka supaya mereka bisa keluar dari sana. Bisa gawat kalau sampai bosnya kembali marah dan menembaki semua orang.
"Arghhhhh," teriak Bara sambil menarik rambutnya dengan kuat. "Dasar orang-orang bodoh. Orang-orang tidak berguna. Untuk apa aku membayar kalian mahal kalau aku masih belum mendapatkan apa yang aku inginkan."
Bara menghela nafasnya kasar. Dia mengambil sebuah botol berisi alkohol lalu meminumnya sampai tandas. Laki-laki ini benar-benar tergila-gila pada sosok Eileria, namun, siapa yang tahu isi hati bara yang sesungguhnya seperti apa. Cinta atau obsesi, tidak ada yang tahu untuk ini.
"Aku mencintaimu Eileria. Mencintaimu," teriak Bara seperti orang gila.
Eil mengusap kupingnya beberapa kali. Entah kenapa kupingnya terasa sangat panas dan juga berdengung. Apa ada yang sedang membicarakan nya atau apa, tidak ada yang tahu. Eil kembali fokus pada layar laptop yang ada di hadapannya. Setelah di rasanya pekerjaannya selesai, dia menutup kembali laptopnya lalu mengisi baterai laptop tersebut dan kembali ke kamar utama.
Kriiieetttt... Eil membuka pintu kamarnya perlahan. Kamar itu sangat sepi. Iya, jelas saja sepi karena Nathan sedang berada jauh darinya. Dia ingin menghubungi Nathan, tapi dia takut dia akan mengganggu suaminya itu.
"Semoga kau selalu baik-baik saja Nathan."
...To Be Continued....
...Hai reader. Jangan lupa like nya ya.. Komen juga kalau ada waktu. Author bakal seneng banget kalau kalian mau mengapresiasi karya remahan author ini. Semoga kalian sehat selalu. Terimakasih......