
Di sebuah rumah sakit yang ada di kota Paris, hampir semua dokter sedang berkumpul di kamar operasi emergency IGD yang dindingnya terbuat dari kaca. Mereka sedang memperhatikan beberapa dokter lain yang sedang melakukan operasi darurat.
Eil mendekati seseorang yang ada di luar diding kaca tersebut. Dia memperhatikan setiap gerakan dan setiap tindakan yang di lakukan para medis. Keningnya berkerut saat dia melihat sebuah kejadian yang membuatnya bingung. Apa dokter yang ada di dalam IGD itu adalah dokter yang kompeten? kenapa dia merasa ada yang salah dengan urutan penangananya.
"Apa dia ingin membunuh pasien Daniel?" tanya Eil pada dokter tampan yang juga sedang memperhatikan jalannya operasi di IGD.
Daniel menoleh, dia tersenyum saat melihat dokter cantik pujaan hatinya yang sudah seminggu ini tidak dia lihat kini kembali ke rumah sakit. "Dia adalah dokter senior di sini Eil. Kau tidak perlu khawatir," ucap Daniel. Eil hanya mengangguk.
"Baiklah, aku akan kembali ke ruang kerjaku, ada banyak berkas yang harus aku tangani," ucap Eil sambil berlalu pergi meninggalkan Daniel dan kerumunan para doker yang lain. Namun belum sempat dia sampai di depan lift, Eil mendengar suara jeritan dari arah IGD.
"Suamiku! suamiku!" teriak wanita paruh baya saat melihat monitor pemantau detak jantung suaminya berhenti. Dia bahkan melihat beberapa perawat menutupi tubuh suaminya dengan kain putih.
"Aku sudah menduga ini akan terjadi," gumam Eil. Dia menghela nafas panjang lalu masuk ke dalam lift. Tepat sebelum lift itu tertutup, Eil melihat sebuah tangan menahan pintu lift nya.
Seorang wanita cantik dengan tubuh tinggi semampai masuk ke dalam lift dengan langkah sombong nya. Eil mengerutkan keningnya saat dia melihat wajah Belle di penuhi luka lebam. Meskipun wanita ulat itu memakai sebuah masker, tapi mata Eil tidak rabun, dia masih bisa melihat sebagian kecil dari luka-luka itu.
"Are u oke?" tanya Eil basa basi.
Belle mendengus. Bukannya menjawab, dia malah memalingkan wajah dan memutar bola matanya malas. Eil mengangkat kedua bahunya acuh. Terserah apa yang ingin di lakukan Belle, toh dia juga cuma basa basi.
Saat pintu lift masih belum terbuka, Eil terus memikirkan cara supaya dia bisa mengorek informasi dari Belle. Eil yakin, preman-preman yang sempat mengganggu nya adalah orang-orang suruhan Belle, namun, setelah kejadian itupun Eil tidak bisa melihat Belle di rumah sakit, di tambah lagi selama se minggu ini dia hanya berdiam diri di rumah karena harus menunggu lukanya sembuh dengan benar.
Ting.... Pintu lift terbuka. Belle keluar dari dalam lift itu meninggalkan Eil yang masih larut dengan pemikirannya sendiri.
"Ahh, aku tahu apa yang harus aku lakukan," gumam Eil. "Kau tunggu saja Belle, aku pasti akan menemukan bukti atas kejahatan yang telah kau lakukan."
Setelah sampai di ruangannya, Eil langsung duduk dan melihat profil rumah sakit. Dia harus menemukan nomor Belle supaya dia bisa menanamkan virus pada ponsel wanita ulat itu. Dengan begitu, pekerjaannya akan berjalan lebih mudah. Bukankah ponsel adalah satu-satunya barang yang tidak pernah tertinggal kemanapun pemiliknya pergi.
"Aku mendapatkan nya," ucap Eil dengan mata yang berbinar. Kali ini Belle tidak akan bisa lolos dari pengawasan seorang Eileria Song.
Sementara di tempat lain, Amber sedang tersenyum cerah sambil mengguling-gulingkan tubuhnya di atas ranjang. Pertemuannya dengan Lukas membuat dunianya seakan berhenti dan berputar pada bayangan-bayangan Lukas yang terus berputar di atas kepalanya seperti sebuah kaset yang sengaja di setel oleh seseorang. Padahal ini sudah seminggu, tapi dia masih bertingkah seperti seorang remaja yang baru jatuh cinta.
"Kenapa kamu sangat tampan Lukas, bahkan jika kau adalah seorang Duda, aku tetap menyukaimu," ucap Amber sedikit memekik. Dia bahkan membenamkan wajahnya di bawah bantal saking salah tingkahnya Amber. Wajah Lukas yang sangat tampan, mata birunya. Tubuhnya yang gagah, oh itu semua membuat Amber serasa akan gila.
"Amber!" ....
"Amber!".... Teriak Jerome dari luar kamar adiknya itu.
Cklekkkk, pintu kamar Amber di buka dari luar. Jerome berdecak pinggang sambil menatap horor gadis yang telah mencuri hatinya itu. Apa yang sedang adiknya lakukan. Kenapa dia terus bertingkah seperti orang bodoh setelah mereka pulang dari mansion Eil.
"Amber!" panggil Jerome untuk yang ke sekian kalinya.
"Iya Kak," jawab Amber yang langsung bangun dan menatap Lukas lekat. "Ada apa?" tanya Amber polos.
Amber mendengus. Dia bangun dari ranjangnya lalu berjalan ke arah meja rias untuk merapikan rambutnya yang agak kusut. Niat hati ingin ke kamar untuk mengambil tas dan mengambil beberapa buku yang dia perlukan, Amber malah tertarik ke atas tempat tidur dan memikirkan duda tampan yang menjadi pengisi hatinya itu.
"Aku sudah siap Kak," ucap Amber. Dia menyambar tas yang ada di atas ranjang lalu mengambil buku di lemari dan keluar dari kamarnya dengan wajah yang dia tekuk.
Jerome membulatkan matanya. Kenapa jadi Amber yang marah. Bukankah dari tadi dia yang di buat kesal karena Amber tidak kunjung keluar. Padahal Jerome juga punya pekerjaan. Dia bisa terlambat hari ini karena menunggu Amber yang lelet itu.
"Kenapa?" tanya Jerome pada Amber yang masih menekuk wajahnya. Mereka sudah ada di dalam mobil. Namun, Amber masih mengacuhkan Jerome dan malah memasang wajah jutek.
"Aku tidak apa-apa," jawab Amber asal. Dia memang tidak apa-apa, Amber hanya kesal kepada Jerome karena kakak nya itu mengganggu dunia perhaluannya. Ibaratnya Amber sedang asyik menikmati bayangan-bayangan wajah Lukas, dan Jerome dengan santainya membuyarkan semua lamunan Amber.
"Kak!" panggil Amber akhirnya.
"Hmmmm.."
"Menurut Kakak, Lukas itu bagaimana?" tanya Amber polos. Jerome langsung menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Kau menyukainya Amber?" tanya Lukas dengan suara yang dingin , sedingin es di di kutub Utara.
Amber mengangguk mantap. Dia sama sekali tidak melihat raut wajah Jerome yang kala itu sudah menunjukan ekspresi tidak senang dan juga marah. Rasa sukanya pada Lukas membuat Amber tidak bisa melihat reaksi yang di tunjukan Jerome dengan jelas.
Jerome kembali melajukan mobilnya. Dia malas menanggapi apa yang baru saja di tanyakan Amber. Selama lebih dari 12 tahun dia merawat Amber sampai pada akhirnya dia menyukai gadis kecil itu, tapi sekarang Amber mengatakan kalau dia menyukai pria lain. Ekspresi seperti apa yang harus Jerome tunjukan. Hatinya hancur berkeping-keping ketika mendengar gadis yang dia cintai ternyata menyukai pria lain.
"Kak!" panggil Amber saat Jerome tidak mengucapkan apapun.
"Turunlah!" titah Jerome saat mereka sudah sampai di depan kampus Amber.
"Kakak kenapa?" tanya Amber saat melihat wajah dingin dan ekspresi tidak biasa di wajah Jerome.
"Keluarlah Amber! aku sudah telat," ucapnya lagi. Amber hanya menurut. Dia tahu Jerome sedang marah, tapi marah pada siapa? marah padanya? tapi kenapa? apa yang sudah dia lakukan? ...
Blammmm.... Amber membanting pintu mobil Jerome dengan kasar. Sang empunya tidak menghiraukan itu. Dia langsung tancap gas dan pergi meninggalkan Amber yang sedang menggerutu tidak jelas.
"Dasar aneh. Orang gila!" teriak Amber sambil menghentakkan kakinya di atas tanah.
...To Be Continued....
Ekhemmmm.... Sedikit cuap-cuap nih.. Yang suka genre fantasi dan cerita yang gak terlalu serius, bisa cek karya terbaru aku yang judulnya Extraordinary Love. Aku jamin ceritanya santai dan gak bosenin... Bantu ramaikan yuk... Terimakasih....