The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Memulai Serangan



Pindah jam tayang....🙈🙈🙈


Seperti biasa, Eil kembali dari rumah sakit saat langit sudah gelap. Dia sudah sangat terbiasa dengan ini. Perjalanan jauh yang di tempuhnya seakan sudah menjadi makanan nya setiap hari.


"Bersiap," bisik Eil pada orang-orang yang mendengar ucapannya di balik earphone yang mereka kenakan.


Saat Eil baru sampai setengah jalan, sebuah mobil menghalang mobilnya. Bukannya kaget, Eil malah tersenyum menyeringai. Dia mengambil sebuah pistol dari dashboard mobilnya dan menyimpannya di balik baju yang dia kenakan.


"Maaf, kenapa Anda menghalangi jalan saya Tuan?" tanya Eil yang sebenarnya hanya basa basi. Dia tentu sudah tahu kalau orang-orang ini adalah orang-orang yang hendak membunuhnya.


Belum sempat Eil menutup pintu mobil, dia mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya. Orang itu benar-benar tidak tahu kalau Eil bisa memprediksi apa yang akan mereka lakukan hanya dengan mendengar langkah kaki mereka.


"Kalian ingin membunuhku bukan? coba saja!" ejek Eil dengan wajah dinginnya.


Dor....


Eil menembakan pelurunya saat dia melihat lawan hendak menodongkan senjata kepada Eil. Darah segar muncrat dari kepala lawan. Untung saja Eil tidak menggunakan pistol andalannya, kalau saja dia menggunakan pistol itu, dia yakin tim nya akan kesulitan untuk membersihkan otak dan juga bagian kepala musuh yang hancur. Eil tidak ingin membebani anggotanya, oleh sebab itu dia memberikan sedikit balas kasihan.


Brukkkk..


Orang itu langsung terkapar di atas aspal dengan kepala yang sudah berlubang. Perlahan semua orang yang merupakan teman dari orang yang tadi Eil bunuh keluar dari dalam mobil.


"Bajingan kau!" teriak orang itu pada Eil.


Dor.


Dor.


Dor.


Tanpa basa-basi, Eil langsung menghujam musuh dengan pelurunya. Dia benar-benar berdarah dingin. Dia bahkan tidak membiarkan musuh untuk melakukan pergerakan.


Setttt.... Srakkkk....


Srakkkk... Srakkkk...


Suara robekan di leher para ninja satu persatu mulai terdengar. Eil menyunggingkan senyumnya. Itu tandanya semua anggotanya sudah ada di tempat.


"Matilah kalian semua bajingan!" Suara dingin Eil membuat suasana malam itu semakin dingin dan mencekam. Kalian bayangkan saja, ini bukan daerah perkotaan, Eil memang selalu melewati jalanan sepi karena hanya itulah jalan satu-satunya untuk menuju mansion Nathan.


Setelah hampir tiga puluh menit, akhirnya semua musuh sudah terkapar tidak berdaya. Bagiamana mereka bisa berdaya kalau ruh mereka sudah terpisah dari raganya.


"Jangan bunuh semuanya! biarkan salah satu dari mereka hidup. Aku ingin melihat reaksi seperti apa yang di tunjukan Belle."


Semua anggota Eil pun mulai bergegas untuk membersihkan mayat-mayat yang berserakan. Sungguh, ini seperti lautan mayat karena mereka mengubur orang-orang itu di lubang yang sudah Eil dan timnya siapkan.


"Kalian langsung kembali ke markas inti. Setelah ini kita akan fokus memantau pergerakan Bara."


"Baik Bos!" jawab semua anggotanya serempak.


Eil membersihkan tangannya menggunakan alkohol dan sebuah tisu basah. Dia tentu tidak ingin Nathan mencium atau melihat bercak darah yang ada pada tangannya.


Satu jam kemudian, di kediaman Belle.


"Arghhhhhh. .. Bajingan. Wanita *** *** itu berani membunuh semua anggota ku? apa kau yakin wanita itu tidak sendiri?" tanya Belle pada seorang pria yang tadi di tugaskan untuk membunuh Eil.


"Benar Bos. Sepertinya wanita itu bukan wanita sembarangan. Dia bahkan memiliki senjata api. Apa Bos yakin kalau dia hanya wanita biasa?" tanya orang itu lagi.


"Jadi maksudmu Eil juga ikut membunuh orang-orang ku?"


Laki-laki itu mengangguk.


"Kau kembalilah ke Jepang. Bilang pada Ayah untuk mempersiapkan orang lebih banyak lagi. Kita tidak bisa membiarkan orang-orang kita mati begitu saja. Kita harus membalas dendam," ucap Belle tegas.


"Baik Bos." ucap pria itu lalu pergi meninggalkan Belle di tempatnya.


Belle terdiam untuk sesaat. Dia kembali memikirkan cara untuk menyingkirkan Eil. Kalau orang-orang sebanyak itu bisa Eil habisi dengan mudah, bagaimana kalau dia melawannya sendiri. Belle bergidik ngeri.


"Aku harus menunggu lebih lama untuk ini. Semoga Ayah bisa menyiapkan orang-orang baru yang lebih hebat untu ku."


Sementara di kediaman Nathan, Eil masuk dengan wajah yang berseri-seri. Eil tentu saja sangat puas dengan skor 1 : 0 .


"Kau sangat bodoh Belle," gumam Eil. Wajah berserinya tiba-tiba hilang saat dia melihat Nathan sedang menonton Tv bersama dengan Lily. Dia mendengus lalu berjalan ke ke menaiki anak tangga tanpa mau menyapa atau sekedar memanggil nama suaminya.


"Eil," gumam Nathan yang melihat punggung Eil. Kenapa dia tidak mendengar Eil masuk, apa tadi dia terlalu serius mengobrol dengan Lily.


"Aku akan ke atas lebih dulu. Kau makanlah makan malamnya. Aku tidak yakin Eil akan mau makan malam."


Lily hanya mengangguk. Dia menatap punggung Nathan sendu. Kenapa nasibnya tidak sebaik Eil. Dia sudah berusaha keras untuk hidup dengan sangat baik. Dia juga mengikuti suaminya ke Maroko dan bekerja di sana untuk membantu perekonomian keluarga kecil mereka, tapi apa yang dia dapat? takdir sungguh mempermainkan hidupnya. Suaminya harus mati terbunuh karena dia menjadi seorang bandar narkoba . Banyak orang yang membencinya karena hal itu. Alhasil dia juga jadi sandra bersama orang-orang dari Paris yang tinggal di Maroko.


"Kau beruntung karena memiliki Nathan yang sangat mencintaimu Eil," gumam Lily sendu.


"Baby!" panggil Nathan pada istri kecilnya. Eil mendengar panggilan Nathan, tapi dia sama sekali tidak ingin menyahut. Dia sangat kesal karena Nathan selalu berdekatan dengan wanita itu.


"Baby!" panggil Nathan lagi. Eil masih diam. Dia masih fokus membuka semua pakainya dan melempar pakaian itu ke dalam keranjang cucian kotor dengan kasar.


Glekk....


Nathan menelan salivanya dengan susah payah ketika melihat Eil menanggalkan sisa kain yang menutupi bagian-bagian sensitif tubuhnya. Eil dengan santainya mengambil sebuah jubah mandi dan mengikatnya longgar.


"Baby!"


Eil masih diam.


"Kau Kenapa Sayang?" tanya Nathan setelah berhasil menarik bahu Eil dan membuat wanita cantik itu berdiri menghadapnya.


"Jawaban apa yang ingin kau dengar dariku Nathan Harold Gilbert?" tanya Eil dingin.


Nathan mendesah salam hati. Apa Eil marah lagi padanya karena Nathan tadi duduk di ruangan yang sama dengan Lily?.


"Sayang kau marah lagi?" tanya Nathan.


Eil mendengus. "Bagaimana aku tidak marah Nathan. Aku sudah menyuruh mu utuk tidak dekat dengannya. Kau tahu, sikap mu itu membuatnya merasa di istimewakan. Apa kau lupa bagaimana dinginnya kau pada ku dulu? tapi kenapa sekarang kau bersikap baik pada wanita yang jelas-jelas kita tidak tahu asal usulnya. Kau sedang mencari perhatian darinya?" ucap Eil. Jemarinya menekan-nekan dada Nathan cukup keras.


Nathan terkesiap. Baru kali ini istri cantiknya itu mengeluarkan unek-unek sebanyak ini. Apa Nathan memang salah?


"Eil, Baby! aku tadi sedang membahas masalah kepulangannya ke negara asalnya. Dan dia juga sudah memasak makan malam untuk kita. Aku hanya ingin mengatakan kalau dia sudah bisa pulang minggu depan. Orang-orang di kantorku sudah mengurus semuanya."


"Jangan marah lagi Sayang. Dia akan segera pergi." Nathan menarik tubuh Eil kedalam pelukannya. "Maaf karena aku telah membuatmu marah dan merasa kurang nyaman Baby."


"Aku ingin mandi Nathan," ucap Eil. Dia melepas pelukan Nathan lalu berjalan ke kamar mandi.


Nathan hanya bisa pasrah. Dia harus membujuk Eil lagi supaya istrinya itu tidak marah. Mata Nathan tertuju pada pakaian E yang berserakan di atas lantai. Mungkin Eil terlalu marah sampai dia yang biasanya rapih dan bersih kini malah melempar bajunya asal.


"Ini?" ucap Nathan sambil meraba bercak darah di kaos putih yang tadi di pakai istrinya.


"Apa kau mengalami hari yang berat di rumah sakit Eil?" gumam Nathan. Dia sama sekali tidak curiga kalau darah itu ternyata adalah darah orang yang telah Eil bunuh.


...To Be Continued....