
BRAK!!!
Nathan terkejut bukan main. Niat hati ingin mengantar Eileria sampai kedalam kamar rawatnya, dia malah mendapat bantingan pintu dari sang istri.
"Sudahlah Nathan, biarkan Eileria sendiri dulu! Jangan ganggu dia, aku yakin sebentar lagi dia akan membaik. Eil hanya membutuhkan waktu untuk sendiri, sebaiknya kita tinggalkan saja dulu, lebih baik kita pikirkan bagaimana caranya supaya kita bisa menemukan dokter terbaik untuk membantu proses penyembuhan Sulli."
Nathan diam ketika mendengar ucapan dari Bara, sebenarnya apa yang Bara katakan itu memang benar, dia hanya harus memberikan waktu untuk Eil.
"Aku ada kenalan di Amerika, hari ini aku akan menghubunginya dan kalau Eil mau, kita juga bisa sekalian mengajak Eil ke sana untuk berobat." Bara menepuk pundak Nathan, kedua orang itu masih diam di depan pintu.
Sesekali Nathan mengintip kedalam kamar yang sekarang Eil tempati. Wanita cantik itu sedang diam di dekat ranjang. Nathan bisa melihat punggung Eileria yang bergetar. Tangannya terulur menyentuh kaca kecil yang menempel pada pintu itu.
"Segera hubungi Dokter itu Bara! Kalau dia siap, nanti malam kita akan membawa Eil dan Sulli ke sana. Kita tidak bisa menunggu Eil seperti ini terus, semakin cepat kita bertindak, maka itu semakin baik."
Bara mengangguk. Dia agak menjauh dari Nathan kemudian mengambil ponsel di dalam saku coat yang dia kenakan. Setelah mengobrol cukup lama. Dia menutup telponnya lalu berjalan mendekati Nathan kembali.
"Mereka siap Nathan. Dia sangat antusias karena ternyata dia memiliki istri seorang dokter ahli kandungan. Aku akan mempersiapkan segalanya. Nanti malam kita jadi berangkat ke Amerika."
"Baiklah, aku akan berusaha untuk membujuk Eil," ucap Nathan. Dia membuka pintu ruangan di depannya perlahan. Orang yang ada di dalam tidak menunjukan pergerakan apapun. Entah dia mendengar Nathan masuk atau tidak.
"Baby!" Nathan memanggil.
Laki-laki itu berjalan dengan sangat pelan, dia berjongkok di depan kursi roda Eileria lalu menarik salah satu tangan istrinya dan mengusapnya perlahan. Usapannya sangat lembut. Saking lembutnya, itu terasa seperti sebuah usapan dari tangan bayi.
"Baby, aku tahu kau sangat sedih melihat apa yang terjadi pada Sulli. Kita akan membawanya ke Amerika Baby, Bara sudah melakukan janji temu dengan dokter terbaik yang ada di sana."
Eileria yang sejak tadi menundukkan kepalanya kini mengangkat dagunya. Dia menatap Nathan dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Kita juga akan ikut ke sana. Kau juga harus melakukan perawatan supaya kau bisa cepat sembuh dan bisa berjalan lagi seperti dulu."
Eileria langsung menghambur ke pelukan Nathan. Dia kembali terisak dalam dekapan hangat sang suami. Eil sangat bersyukur karena Nathan dan Bara sudah mau membantunya. Dia merasa sedikit punya harapan untuk Sulli. Eil sama sekali tidak memikirkan dirinya sendiri. Meskipun dia sangat ingin bisa berjalan seperti dulu, namun prioritas utamanya sekarang adalah Sulli.
"Terima kasih Nathan. Aku mencintaimu."
Nathan mengangguk. Dia mendekap tubuh Eil semakin erat. Baginya kebahagiaan Eil sangatlah penting. Apapun yang Eil inginkan, dia akan berusaha untuk mewujudkan keinginan sang istri.
****
Malam sudah tiba. Nathan maupun Bara sudah bersiap untuk membawa Eil dan Sulli pergi. Saat ini mereka sudah ada di tempat penerbangan pesawat alias di landasan. Bara membuat jadwal untuk penerbangan jet pribadi. Untunglah dia masih jadi orang yang berpengaruh di kota itu. Jadi sangat mudah baginya untuk mendapatkan jadwal penerbangan paling cepat.
The power of orang dalam memang selalu yang terbaik di saat-saat seperti ini.
"Ayah akan menghubungi Jerome," ucap Darius. Dia sejak tadi juga ada di landasan bersama dengan Amber dan Alard. Mereka semua ingin mengantar kepergian Eil, Sulli juga yang lainnya.
Belum sempat Darius menekan nomor ponsel Jerome, seseorang sudah berteriak sambil berlari mendorong sebuah kursi roda mendekat ke arah mereka.
"Aku disini. Sulli akan pergi bersama kita."
Wajah Jerome terlihat sangat bersinar dan berseri-seri. Dia sangat bahagia lantaran Sulli mau pergi dan mendengar semua bujukannya meskipun itu harus lewat dokter. Sulli masih enggan untuk berbicara dengan Jerome. Bahkan sekarang pun Sulli masih menekuk wajahnya.
"Dia datang Nathan. Sulli datang," ucap Eil antusias. Dia ingin menggerakkan kursi rodanya dan mendekat kepada Sulli. Namun, Nathan, menghentikan kursi rodanya. Eil menoleh ke belakang dia mengalah saat melihat Nathan menggelengkan kepalanya.
"Kita berangkat sekarang," ucap Bara menegaskan.
Nathan mengangguk. Darius mendekat ke arah Eil. Laki-laki yang sudah tidak muda membungkukkan tubuhnya lalu memeluk Eil hangat. "Kau harus cepat sembuh Eil. Ayah menunggumu di sini," ucap Darius sambil mengelus kepala Eil lembut.
"Mommy halus cepat pulang! Jangan pergi tellalu lama!" ujar Alard mengingatkan. Dia sejak tadi sudah memaksa untuk ikut namun Darius terus membujuknya dan mengatakan kalau Amber akan pulang ke rumahnya dan tidak akan kembali menemui Alard.
Eil mengangguk. Dia merentangkan kedua tangannya dan Alarad pun langsung menghambur ke pelukan Eil. "Jang Mommy Amber dan calon Adik bayi baik-baik ya Alard! Alard adalah seorang laki-laki. Alard harus belajar bertanggung jawab oke, apalagi sekarang Daddy sedang tidak di rumah, jadi Mommy Amber sekarang menjadi tanggung jawab Alard."
Alard mengangguk. Darius tersenyum. Eil selalu bisa membuat Alard mematuhi setiap perkataannya. Alard juga tidak pernah menolak apapun yang Eil minta. Interaksi keduanya terlihat sangat hangat. Kalau saja Amber tidak ada di belakang bocah kecil itu, orang-orang pasti akan berpikir kalau Eil adalah mommy Alard yang sesungguhnya. Di tambah lagi, wajah Eil sangat mirip dengan wajah Viktoria, wajah mendiang ibu kandung Alard yang sudah meninggal sejak Alard lahir.
"Sudah Nak! Mommy Eil harus segera pergi," ujar Darius menarik kedua bahu kecil cucunya.
Alard mau tidak mau melepaskan pelukannya.
Amber yang kala itu ada di depan Eil memeluk Eil cukup lama. Dia melepas pelukannya lalu mundur dan tersenyum ke arah Eil.
"Pergilah Kak! Aku harap saat kau kembali, kau sudah bisa berjalan."
Eil mengangguk. Dia melambaikan tangannya kepada semua orang.
"Pergilah Sayang!" ucap Darius dengan mata yang berkaca-kaca. Entah kenapa dia merasa sedih saat Eil akan pergi. Padahal Eil pergi hanya sebentar. Namun hatinya merasa, seperti Eil akan pergi untuk waktu yang lama.
"Ayah harap kau akan baik-baik saja Sayang," gumam Darius dalam hati.
"Tante Sulli! Tante hati-hati ya! Cepet sembuh! Nanti kita main baleng-baleng lagi." Alard berteriak kepa Sulli. Jerome yang mendengar itu menoleh kepada Alard dan tersenyum. Bocah kecil itu sangat lucu. Jerome sangat menyukainya.
"Kau harus sembuh Sulli. Aku janji, aku akan memberikan bayi-bayi yang lucu untuk mu."
...To Be Continued....