The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Menghabisi Eileria 2



"Brengsek," gumam Eil ketika mendapat laporan dari para anggotanya. Dia langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Tadi dia ingin menemui Dragon di tempatnya. Tapi baru setengah jalan, Jerome menelponnya dan mengatakan kalau Belle dan Ayahnya akan menyerang Eil di mansion-nya.


"Siapkan orang-orang kita Jerome. Aku akan pergi lebih dulu. Lakukan apapun supaya tim kita tidak kalah cepat, jika perlu, pergi ke pangkalan utama dan berangkatlah ke tempatku menggunakan helikopter. Aku tidak mau orang-orang ku mati sia-sia."


"Baik Eil. Aku akan melakukan apa yang kau minta."


Tut...


Eil memencet tombol pada earphone yang sejak tadi menempel pada telinganya.


Tiga puluh menit kemudian, dia mulai masuk ke area Mansion. Eil mengambil sebuah senjata api laras panjang dan menggendongnya bak sedang menggendong sebuah tas mewah di balik punggung. Eil juga mengambil tiga pistol, yang satu dia sipan di balik jeans yang dia kenakan. Dan yang yang duanya lagi dia pegang di tangan kanan dan kirinya.


"Eileria!" gumam Belle ketika melihat Eil keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam mansion.


Eil memutar pistol itu di jari telunjuknya, lalu mulai menembaki orang-orang ayahnya Belle satu persatu. Dia sama sekali tidak goyah. Meskipun dia masih sendiri, dia bisa bergerak dengan cepat dan sangat lincah. Jangan salahkan Eil yang terlalu hebat, dia bisa melakukan ini tidak instan, 22 tahun dia belajar ilmu bela diri dan juga 10 tahun mempelajari cara menggunakan senjata, sudah tidak aneh bagi orang-orang yang mengetahui kerja kerasnya jika melihat kelihaian yang di lakukan Eil.


Dor....


Dor.....


****


Seringai muncul di bibir Yakuza itu saat dia melihat wanita cantik bertubuh seksi sedang menunduk di bawahnya.


Lily yang kala itu tidak bisa melakukan apa-apa hanya bisa menunduk dan berharap kalau dia masih bisa hidup. Tapi karena dia melihat laki-laki paruh baya di hadapannya sudah mengacungkan pedang yang dia bawa, Lily sudah tidak memiliki harapan apapun lagi.


"Aku akan menemui mu suamiku. Kita akan bertemu lagi," batin Lily berbicara. Dia tersenyum lalu memejamkan matanya pasrah.


Srakkkk.....


Darah segar muncrat dari sobekan leher yang di tebas menggunakan pedang oleh Ayah Belle.


"Maafkan aku Belle, aku tidak bisa membiarkan tangan cantikmu itu melakukan hal-hal yang kotor seperi ini. Biar aku saja yang melakukan segalanya untuk mu."


"Lily!" teriak Eil. Dia terkejut bukan main ketika melihat Lily sudah ambruk di atas lantai.


"Bajingan kau!" teriak Eil. Dia menarik laras panjang yang ada di balik punggungnya lalu mengarahkan senjata itu pada Ayah Belle.


Dor....


Eil meringis ketika lengan kirinya tertembak oleh orang-orang dari pihak ayahnya Belle.


Yakuza itu mengarah kan senjatanya pada Eil. Dia mulai menarik pelatuknya dan....


Dorrrr.....


Kepala laki-laki paruh baya itu pecah membuat otak dan tempurung kepalanya hancur berkeping-keping.


Eil di buat melongo. Siapa orang yang bisa melakukan ini, selain Eil, tidak ada satu pun anggota dalam timnya yang sanggup menembak orang dengan senjata khusus langsung di kepala.


"Bara!" gumam Eil ketika dia melihat seseorang muncul dari balik pintu yang sebenarnya sudah amburadul itu.


Dor....


Dor...


Dor....


"Kau tidak apa-apa Eil?" tanya Bara. Eil mengangguk.


Setelah beberapa menit, akhirnya semua musuh sudah tumbang . Mayat-mayat tergeletak seperti ayam yang kena penyakit flu burung.


"Aku akan membawamu ke rumah sakit Eil," ucap Bara ingin membatu Eil . Namun dengan segera Eil menepis tangan Bara yang ingin menyentuhnya.


Eil berjalan ke arah Lily yang sudah tidak bernyawa. Dia mengambil sebuah selimut dari atas ranjang lalu menutupi mayat Lily dengan kain itu.


"Maafkan aku Lily. Aku tidak tahu kalau ini akan terjadi. Seharusnya aku memberikan pengawasan yang lebih ketat di sini. Semoga kau bahagia di atas sana. Aku menyesal untuk ini Lily. Maafkan aku," ucap Eil. Dia kembali memegangi lengannya lalu keluar dari kamar Lily.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Jerome ketika dia baru sampai di depan mansion Eil dan Nathan.


Eil mengangguk. "Tolong selamatkan orang-orang ku yang masih hidup Jerome. Dan tolong periksa semua pelayan yang ada di bangunan sebelah. Aku harap mereka baik-baik saja."


Jerome mengangguk. "Kau terluka. Pergilah ke rumah sakit! helikopter masih menunggu . Aku akan membereskan ini semua, kau tidak perlu khawatir."


"Kau mau kemana Eil?" tanya Bara.


Eil mendengus. "Aku mau ke rumah sakit Bara. Kau mau ikut? bukankah kau juga memiliki kendaraan. Jangan menyusahkan ku. Helikopter ku tidak akan mau di tumpangi orang sepertimu."


"Dan ya, kau urus lah wanita simpanan mu itu. Aku muak melihat semua tingkahnya. Kalau kau tidak sanggup untuk membunuhnya, aku sendiri yang akan membunuh Belle." Eil melengos pergi menaiki helikopter . Bara hanya bisa menatapnya. Dia masih belum sanggup untuk memaksa Eil supaya Eil mau menerima setiap perhatian nya. Dia sangat menyayangi wanita itu.


Setelah sampai di atas rooftop rumah sakit, Eil turun dengan segera. Dia masuk melalui pintu rooftop dengan langkah yang mulai gontai. Meski orang-orang nya sudah membantu Eil mengikat lukanya, darah dari lengan Eil masih mengalir meski tidak se banyak tadi.


"Eil!" teriak Daniel ketika melihat Eil berjalan ke arahnya dengan wajah yang pucat pasi.


"Daniel aku membutuhkan bantuan mu."


Brukkkkk....


Belum sempat Daniel bertanya apa yang terjadi, Eil sudah ambruk di pelukannya.


Daniel dengan segera membopong tubuh Eil masuk ke dalam ruang operasi. Dia tidak mungkin membawa Eil ke UGD karena UGD ada di lantai paling bawah.


"Suster! siapkan meja operasi," teriak Daniel.


Setelah satu setengah jam melakukan pembedahan. Akhirnya Daniel juga tiga asistennya berhasil mengeluarkan peluru dan juga sudah menjahit lengan Eil. Kini mereka sudah memindahkan Eil ke ruang rawat. Daniel masih terus memantau kondisi Eil. Luka tembakannya memang tidak terlalu parah. Tapi karena darah yang keluar cukup banyak. Eil masih memerlukan transfusi darah yang cukup.


"Kau wanita tangguh Eil. Aku harap kau akan segera sadar. Aku sudah menghubungi suamimu. Dia pasti akan segera ke sini. Cepatlah sadar Eil!"


Daniel masih fokus memperhatikan wajah pucat Eil. Entah kenapa dia merasa sakit hati melihat Eil terbaring lemah seperti ini. Kenapa hal ini bisa terjadi. Sebenarnya siapa yang telah membuat Eil terluka.


"Apa sebesar itu kah rasa cintaku padamu Eil, aku bahkan bisa merasakan sakit yang sedang kau rasakan."


Cup...


...To Be Continued....