
Hari sudah semakin malam, Nathan , laki-laki itu sedang melamun di sebuah kursi yang ada di balkon kamarnya. Dia sebenarnya sangat sedih karena harus kehilangan pekerjaan utamanya. Meskipun itu hanya untuk sementara, tapi enam bulan itu waktu yang cukup lama. Nathan menggosok hidungnya perlahan dengan jari telunjuknya. Hidungnya memang tidak gatal, dia hanya sedang berpikir, kenapa hal seperti ini harus terjadi padanya. Di saat dia sedang semangat, dia harus di berhentikan secara paksa.
"Nathan!" panggil Eil lembut. Nathan sontak saja menoleh saat mendengar suara lembut milik istri kecilnya. Kenapa Nathan selalu berpikir kalau Eil adalah istri kecilnya? Ya, perawakan Eil memang tidak sebesar wanita Eropa, istrinya itu sangat mungil untuk seseorang yang perawakan nya tinggi besar seperti Nathan. Nathan memiliki tinggi sekitar 190 sentimeter, sedangkan istrinya itu hanya 165 sentimeter. Eil juga tujuh tahun lebih muda darinya. Jadi tidak masalah bukan kalau Nathan selalu berpikir bahwa Eil adalah istri kecilnya.
Nathan tersenyum. Eil juga melakukan hal yang sama.
"Aku membuat teh peppermint. Minumlah! ini bisa membantumu supaya kau bisa cepat tidur, ini sudah malam, kenapa kau masih terjaga?" Eil menyodorkan secangkir teh kepada suaminya.
Nathan mengambil cangkir itu, kemudian menyesap teh buatan istrinya sedikit.
Sretttt... Nathan menarik tangan Eil membuat wanita cantik itu duduk di atas pangkuan suaminya.
"Ada apa hmm? kau sedang ada masalah?" tanya Eil sambil mengelus wajah suaminya. Eil sejujurnya tahu kemungkinan apa yang mungkin sedang di alami suaminya saat ini. Tapi, Eil harus pura-pura tidak tahu supaya suaminya itu tidak curiga.
Nathan menahan tangan Eil yang sedang mengelus wajahnya, dia mengecup tangan itu sekilas, lalu menarik tubuh Eil supaya dia bisa memeluknya dengan leluasa. Nathan kembali menghirup wangi bunga yang keluar dari tubuh istrinya. Dia tahu Eil baru pulang kerja dan belum mandi sama sekali. Tapi Nathan sangat menyukai bau keringat Eil yang bercampur dengan aroma bunga dari body mist yang Eil pakai.
"Biarkan seperti ini sebentar!" ucap Nathan sambil memeluk erat pinggang ramping Eileria.
Eil hanya menurut, dia tidak berani menolak atau sekedar bergerak. Eil tahu ini kesalahannya. Nathan tidak pernah murung seperti saat ini. Tapi sekarang, laki-laki itu terlihat sangat sedih karena ulah yang telah dia perbuat.
"Tidak usah menceritakan apapun kalau kau memang tidak ingin bercerita. Aku akan mencoba untuk mengerti."
Nathan semakin mengeratkan pelukannya. Semakin lama dia semakin gencar menciumi leher, dan juga daun telinga istrinya. Eil memekik tertahan saat suaminya itu menggigiti daun telinganya perlahan. Ciuman Nathan kini semakin turun ke tulang selangka istrinya. Tangannya pun sudah bergerak bebas menerobos masuk kedalam kemeja yang saat ini sedang di kenakan Eileria.
"Nathan, aku belum mandi," ucap Eil dengan sura yang sedikit tertahan.
Cup. Nathan menempelkan bibirnya di permukaan bibir Eil. Dia men yesap dan Me lu mat nya perlahan . Nathan menelusup kan tangannya di bawah lutut Eil kemudian menegakan kakinya dan perlahan berdiri lalu masuk kedalam kamar.
"Kita akan mandi bersama," ucap Nathan di sela-sela ciu man panas mereka.
Eil lagi-lagi tidak bisa melakukan apapun. Dia semakin mengeratkan tangannya di leher sang suami. Oh ayolah, meskipun bobotnya tidak seberat itu, tapi dia tetap takut Nathan keberatan dan akan menjatuhkannya tiba-tiba.
Sinar matahari pagi sudah mulai meninggi. Suara geraman dari Bao membuat Nathan membuka matanya, dan setelah nyawanya terkumpul, dia duduk dan menolehkan kepalanya untuk mencari keberadaan sang istri. Nihil, dia sama sekali tidak melihat istrinya di atas ranjang maupun di sudut kamar yang lain.
Nathan mengambil celana bokser nya lalu memakainya dan juga memakai kaos putih yang sudah tersimpan rapi di atas ranjang. Mungkin Eil yang sudah menyiapkannya. Karena setahu Nathan, dia semalam belum mengambil pakaian, karena setelah selesai melakukan ***-*** di kamar mandi, dia kembali melakukannya di atas ranjang.
"Nathan!" teriak Eil ketika melihat suaminya sedang berdiri di balkon kamar mereka. Dia melambai-lambaikan tangannya ke arah Nathan. Nathan hanya tersenyum melihat keceriaan yang di tunjukan istrinya.
Eil , wanita itu memang sedang bermain dengan hewan peliharaan suaminya Bao, iya. Eil mengalah, dia tidak memanggil Bao dengan sebutan Lion lagi. Eil sadar, Bao sudah hidup cukup lama dengan Nathan. Jadi mungkin saja Bao lebih nyaman dengan nama yang di berikan Nathan daripada nama yang di berikan nya baru-baru ini.
Nathan masuk ke dalam kamarnya saat Eil mengisyaratkan Nathan untuk turun ke lantai bawah mansion mereka.
"Bao, aku harus memberikan makan majikan mu dulu, kau sudah aku kasih makan, jadi pergilah! nanti kita akan bermain kembali," Eil mengelus kepala harimau peliharaanya kemudian berjalan masuk ke dalam mansion.
Grep... Nathan memeluk Eil setelah dia meletakan gelas minumnya di atas meja.
"Kau bangun jam berapa? kenapa harus repot-repot seperti ini. Kau itu harus banyak istirahat," ucap Nathan sambil membenamkan wajahnya di bahu sang istri.
"Aku tidak repot Nathan, lagipula aku cuma butuh waktu empat sampai lima jam untuk tidur. Kau tidak perlu khawatir," Eil memutar badannya lalu menatap wajah tampan suaminya itu.
Cup. Eil mengecup bibir Nathan sekilas. "Duduklah! aku akan menyiapkan makanan nya untukmu." Eil mendorong tubuh Nathan dan mendudukkan suaminya di atas kursi yang ada di depan mini bar. Mereka sebenarnya memiliki meja makan terpisah, namun daripada harus mondar mandir, Eil lebih suka makan langsung di dapur.
Nathan menatap lekat istri kecilnya yang saat ini sedang fokus menyiapkan sup ginseng untuknya. Bibirnya tertarik ke atas saat melihat wajah sang istri yang begitu cantik. Tahi lalat yang ada di dagu lancip istrinya itu membuatnya semakin cantik dan membuat Nathan semakin menggilai istrinya.
"Nah, cobalah!" ucap Eil setelah meletakan mangkuk berisi sup ayam ginseng buatannya. Eil juga menyiapkan nasi, dia tahu makan pokok orang Eropa adalah kentang, tapi bukan berarti Nathan tidak boleh memakan nasi bukan.
"Bagaimana?" tanya Eil dengan wajah penuh harap sambil menatap suaminya yang baru saja mencoba kuah sup buatannya.
Nathan mengerutkan keningnya membuat Eil semakin cemas.
"Apa tidak enak?" tanya Eil dengan wajah yang sedih.
"Tidak, ini sangat enak," ucap Nathan sambil tersenyum. Dia kembali memasukan sendok ke mulutnya lalu memakan nasi dan juga ayamnya.
"Apa se enak itu?" tanya Eil ketika melihat suaminya makan begitu lahap. Nathan hanya mengangguk sambil terus melahap sarapan paginya.
To Be Continued..
...Hai reader jangan lupa like dan komennya ya. Thank You.. 🤗🤗...
Teh peppermint
...
Daun peppermint mengandung beberapa minyak esensial yang dilepaskan saat direndam dalam air panas, seperti mentol, menthone, dan limonene. Secara kolektif, ini memberi teh peppermint rasa yang menyegarkan, dingin, dan mint....
...Teh peppermint dapat dibuat menggunakan daun segar, daun kering, atau teh celup. Dalam teh celup, peppermint dapat dicampur dengan rasa lain, seperti akar manis atau buah. Teh herbal ini juga bebas kafein, jadi bisa meminumnya lebih sering....
Sup Ayam Ginseng (Samgyetang)
...Samgyetang merupakan sup ayam ginseng khas Korea yang bisa meningkatkan stamina. Dalam satu porsi samgyetang biasanya terbuat dari satu ekor ayam utuh yang dicampur dengan aneka macam rempah dan siraman kaldu ayam....