The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Maafkan Aku Nathan



"Aku harus mengikuti nya!" gumam Nathan. Dia mengambil ponselnya lalu melihat kemana Eil pergi. Dia sebenarnya memasang gps tracker pada ponsel istri kecilnya itu. Tidak mungkin seorang Nathan yang sudah bertekad untuk kembali pada Eil membiarkan istrinya itu beraktivitas di luar tanpa pengawasan.


Hukum saja audah dia langgar. Mana mungkin Nathan hanya akan diam menunggu seperti laki-laki bodoh yang lemah dan tidak bisa melakukan apapun. Dia diam bukan berarti dia tidak bisa membantu Eil. Dia hanya takut Eil marah padanya karena dia ikut campur.


Tapi sekarang dia sudah tidak bisa diam lagi. Sudah waktunya bagi Nathan bergerak dan melindungi wanita yang sangat berharga itu. Dia tidak boleh kehilangan Eil untuk yang ke dua kalinya. Dia harus bisa mempertahankan Eil. Wanita itu harus aman bersamanya.


Satu jam telah berlalu. Nathan melihat layar ponselnya. Titik koordinat terakhir istrinya berhenti di sebuah bangunan mewah yang besar dan sangat luas. Dia mengintip area depan rumah itu. Di dalamnya banyak penjaga dengan setelan serba hitam berdiri tegak seperti sebuah patung.


"Eil benar-benar di sini bukan?" gumam Nathan yang masih menunggu di dalam mobilnya.


Tiga puluh menit berlalu, Nathan melihat Eileria keluar dari rumah itu. Dia menyalakan mesin mobil, lalu membawa mobil itu agak jauh dari gerbang rumah Dragon.


Setelah melihat mobil Eil keluar. Dia mengikuti mobil itu dari jarak yang cukup aman. Tidak terlalu dekat dan juga tidak terlalu jauh.


****


"Apa yang mereka lakukan?" geram Eileria ketika melihat sebuah mobil menghadang mobilnya. Segerombolan orang keluar dari mobil itu, mereka semua membawa senjata. Bukan pedang atau pistol yang mereka bawa, melainkan tongkat bisbol, tongkat golf dan juga tongkat besi.


"Brengsek!" geram Eil sambil memukul setir mobilnya. Dia mengambil sebuah kain lalu melilitkan nya ke kedua tangannya.


"Majulah!" titah Eil kepada segerombolan orang itu. Mereka maju semua maju mengitari Eil.


Ssttttt....


Belum sempat orang itu memukul Eil, seseorang dari arah belakang memukul kepalanya sampai dia tersungkur di atas aspal.


"Nathan. Bara!" gumam Eil saat melihat dua laki-laki yang selalu ada di pihaknya berjalan seperti dua pahlawan yang hendak menolong tuan putri.


"Mundurlah Eil!" titah Nathan pada wanita cantik yang masih terbengong si tempatnya. Apa Eil salah lihat? kenapa dia melihat Nathan dan Bara berjalan berdampingan? dan kenapa Nathan ada di sini? bukankah tadi dia masih ada di apartemennya Sulli? apa dia mengikuti Eil? seperti itukah?


Nathan dan Bara mulai menghajar orang itu satu persatu. Mereka berdua berkelahi seperti duo pahlawan yang tidak akan terkalahkan. Gerakan yang mereka lakukan, dan wajah tampan mereka yang bercahaya ketika sinar bulan menerpa kulit wajah mereka, membuat kedua orang itu terlihat semakin gagah.


Bughhhhh...


Bughhhhhh...


Brukkkkk...


Semua orang yang tadi hendak menyerang Eil sudah terkapar di atas aspal. Mereka tidak bisa berkutik lagi. Nathan mungkin hanya membuat mereka pingsan karena dia masih tidak berani untuk membunuh orang. Sementara Bara, laki-laki itu tidak segan-segan memelintir leher musuh sampai mereka tidak bisa bergerak lagi.


"Apa kau baik-baik saja Baby!" tanya Nathan menghampiri Eil. Dia menelisik setiap bagian dari tubuh Eileria memastikan kalau istri cantiknya itu baik-baik saja.


"Apa yang kau lakukan di sini Nathan?" tanya Eil sinis. Dia menatap Nathan dengan tatapan yang tajam. Sementara Bara, laki-laki itu sedang sibuk menelpon anak buahnya untuk membereskan kekacauan.


"Aku mengawatirkan mu Baby. Aku takut kau kanapa-napa. Apa aku tidak boleh mengkhawatirkan istriku sendiri?"


Nathan memeluk Eileria erat. Sementara orang yang di peluk merasa tidak nyaman dan terus berusaha untuk melepaskan pelukan suaminya.


"Seharusnya kau tidak melakukan ini Nathan. Kau sudah berjanji kalau kau akan menunggu. Aku kecewa padamu."


"Ayo pergi Eil!" ajak Bara menyodorkan tangan nya di hadapan Eiileria.


"Maafkan aku Nathan. Aku tidak bisa kembali padamu. Kalau kau terus seperti ini, lebih baik kita akhiri saja hubungan kita sampai di sini."


Deg...


Jantung Nathan terasa berhenti saat itu juga. Dia tidak tahu kalau ini akan berakhir seperti ini, apa kesalahannya sangat fatal sampai Eil mau memutuskannya hubungan dengannya? padahal Nathan hanya ingin menunjukan kasih sayang nya. Dia hanya ingin memperdulikan dan memperhatikan Eil selayaknya seorang suami kepada istri. Apa itu salah?


"Tunggu Eil, jangan pergi! maafkan aku. Aku tahu aku salah, tapi aku hanya mengkhawatirkan mu."


Eil menatap Nathan sekilas. Dia langsung memalingkan wajahnya saat melihat mata biru Nathan yang mulai berkaca-kaca.


"Aku harus pergi Nathan!" ucap Eil melepas paksa tangan Nathan yang menahan pergelangan tangannya.


"Ayo Eil!" ajak Bara menarik bahu Eil dan memasukannya ke dalam mobil yang tadi Eil bawa.


"Aku sudah bilang aku salah Eil. Aku minta maaf. Tapi kenapa kau tidak mau memaafkan ku?" teriak Nathan yang masih berusaha menahan Eil. Dia bahkan mengikuti Eil ke mobilnya. Nathan berusaha untuk membuka pintu mobil penumpang dan ingin mengeluarkan Eil dari sana. Tapi Eil malah memalingkan wajahnya tidak mau melihat wajah Nathan barang sedetikpun.


Brummmm.....


Mobil yang di kendarai Bara melesat pergi meninggalkan Nathan yang masih mematung menatap nanar mobil Eil yang sudah menjauh.


"Kenapa kau harus melakukan ini Eil?"


****


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Bara pada Eiileria. Wanita itu tidak menjawab. Dia melamun sambil menempelkan kepalanya di kaca mobil . Matanya menatap kosong keluar jendela kaca mobil itu.


"Maafkan aku Nathan, aku terpaksa melakukan ini. Aku janji, aku janji aku akan menyelesaikan ini dengan cepat."


Beberapa jam yang lalu, di kediaman Dragon.


"Apa maksudmu Dragon?" tanya Eileria menatap tajam bosnya itu. "Apa kau yakin dengan apa yang baru saja kau katakan?" tanya Eil lagi.


Dragon mengangguk mantap. Dia tidak mungkin menyuruh Eil datang ke rumahnya kalau dia tidak memiliki informasi yang penting. Tidak, bukan cuma penting. Tapi informasi ini sangat penting.


"Aku sungguh-sungguh Lea. Bara memang memiliki perkebunan bungan itu. Aku yakin, kalau kau bisa berada di sampingnya setiap waktu, suatu saat dia akan menunjukan lahan bungan itu padamu. Maaf, bukan aku berniat untuk menjadikan mu umpan. Tapi kau sudah tahu kalau Bara itu sangat licin. Dia tidak bisa kita geretak, hanya kau yang bisa membongkar semua kebusukan nya."


Eileria berpikir untuk sejenak. Ini memang tidak salah, Bara memang bukan orang yang mudah untuk di tangani. Tapi kalau sia sampai harus terus berada di sisi Bara, dia harus meninggalkan Nathan untuk sementara waktu. Dan dia juga tidak tahu waktunya itu sampai kapan.


"Baiklah Dragon. Aku akan melakukan apa yang kau minta. Tapi, kalau sampai kau tidak bisa menangani ini, aku akan bertidak sesukaku. Aku yang akan membasmi Bara dan juga semua bunga itu. Jangan salahkan aku kalau aku tidak menunggu keputusan darimu."


"Kau bisa melakukan itu Eil. Markas inti yang ada di AS juga sudah memperhatikan kita untuk melenyapkan tanaman itu dengan segera."


"Pegang janjimu Dragon!"


...To Be Continued....