The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Pertanyaan Terselubung



"Tangan ku terluka," ucap Eil sambil mengangkat tangan kanannya di depan wajah Nathan. Dia bahkan audah memasang wajah sedih dengan mata yang berkaca-kaca.


Nathan langsung memusatkan perhatiannya pada tangan istri kecilnya itu. Keningnya berkerut, kenapa bisa tangan Eil terluka, dan lagi ini tangan sebelah kanan Eil kan? Eil tidak kidal, jadi kalaupun tangan Eil terluka karena benda tajam yang Eil pegang, pastilah tangan kiri Eil yang akan terluka.


"Kau belum mengobatinya?" tanya Nathan dingin. Eil menggeleng. Beberapa detik kemudian, Eil sudah merasa kalau dirinya melayang di udara. Ya, Nathan, laki-laki itu langsung menggendong Eil dan membawanya masuk ke mansion, lebih tepatnya ke kamar mereka. Setelah sampai di dalam kamar, Nathan mendudukkan Eil di pinggiran ranjang. Selama Eil duduk, Nathan sibuk mencari kotak p3k di dalam lemari.


"Pelan-pelan," ucap Eil saat Nathan mulai membuka ikatan yang ada pada telapak tangan istinya. Eil hanya memperhatikan Nathan yang sedang telaten merawat lukanya. Dia menarik sudut bibirnya ke atas ketika Eil melihat ekspresi ngilu di wajah suaminya itu.


"Apa sakit?" tanya Nathan sambil mendongak, Eil langsung merubah ekspresi wajahnya seolah-olah dia sedang merasa sangat kesakitan, padahal kalau untuk luka kecil seperti ini, Eil sudah terbiasa merasakannya.


"Ssshhhh," desis Eil saat sebuah pinset kecil mencabut pecahan kaca yang ada di sela-sela daging di permukaan tangannya yang memang sedikit menganga.


"Sebenarnya apa yang terjadi Eil?" tanya Nathan yang sudah kembali fokus pada tangan istrinya. Beruntung karena Nathan sempat mendapat pelatihan khusus untuk memberikan pertolongan pertama dan merawat luka jadi dia bisa mengobati Eil dengan baik. Dia sebenarnya bisa saja membawa Eil ke rumah sakit, tapi, kalau Eil memang mau, bukankah sebelum dia pulang dia akan mengobati lukanya terlebih dahulu?...


"Eummm, sebenarnya aku tadi memecahkan gelas di cafe yang ada di sebrang rumah sakit, aku ingin memungut pecahan gelas itu agar aku bisa membantu pelayan yang ada di sana, tapi ternyata aku malah terpeleset dan telapak tanganku refleks menahan berat badanku di atas pecahan gelas yang sudah aku pecahkan."


"Lain kali hati-hati Baby, kau mau aku mempekerjakan bodyguard untuk menjagamu selama aku tidak ada di sampingmu?" tanya Nathan. Dia sudah selesai membalut luka di tangan Eil dengan sebuah perban. "Jangan sampai lukanya basah! kau tahu itu bukan?" tanya Nathan. Eil hanya mengangguk. Dia juga tahu apa yang harus dia lakukan dengan luka di tangannya. Sebenarnya dia punya ramuan khusus penyembuh luka yang ampuh. Hanya saja dia tidak bisa menggunakan nya saat ini karena ramuan itu dia simpan di kamar lamanya.


"Nathan!" panggil Eil pada laki-laki yang sedang membereskan isi kotak p3k dan menyimpannya kembali ke dalam lemari.


"Aku tidak membutuhkan Bodyguard."


"Aku tidak akan mempekerjakan Bodyguard kalau kau tidak mau, tapi kalau sekali lagi kau sampai terluka, aku tidak akan menanyakan pendapatmu terlebih dahulu dan akan langsung mempekerjakan Bodyguard."


Eil mengangguk mengerti. "Byy!".... Panggil Eil lembut.


"Ada apa?" tanya Nathan. Dia berjalan menghampiri Eil sambil melepaskan dasi yang melingkar di lehernya.


"Aku mau mandi, tubuhku sudah sangat lengket," ucap Eil sambil tersenyum. Dia sebenarnya bisa saja mandi sendiri, tapi untuk melepaskan pakainya, jelas saja dia membutuhkan bantuan dari Nathan.


Nathan memutar tubuh Eil lalu mengambil sesuatu dari dalam lemari. Setelah benda yang dia butuhkan sudah dia dapatkan, Nathan duduk di belakang Eil lalu mulai memulung helaian rambut Eil dan menyatukannya menjadi satu, setelah menggulungnya agak di atas, dia mengikat gulungan itu dengan ikat rambut yang tadi dia ambil.


Srettttt.... Nathan menarik zipper yang ada di belakang punggung Eil. Setelah zipper itu terbuka dengan sempurna, Nathan membantu Eil berdiri lalu menanggalkan dres yang di kenakan Eil. Eil hanya tersenyum ketika mendapatkan perlakuan khusus dari Nathan, dia sama sekali tidak malu meski Nathan sudah menatapnya yang hanya mengenakan cd dan juga bra merah marun yang sangat kontras dengan kulit putih susunya.


"Jangan menggodaku Eil, aku sedang tidak ingin bergaul dengan mu. Tangan mu terluka, aku takut kau akan merasa tidak nyaman dan aku akan menyakitimu," ucap Nathan sambil menggendong tubuh Eil dan membawanya ke dalam kamar mandi.


"Byy!" panggil Eil lembut. "Yang terluka tangan ku bukan kakiku, kau tidak harus menggendong ku seperti ini, nanti kau kelelahan, kau juga baru pulang kerja kan."


Nathan tersenyum, dia menurunkan Eil di bawah shower. Setelah menggulung tangan kemejanya sampai ke siku, Nathan baru membuka semua kain yang tertinggal di tubuh istrinya lalu mulai menyalakan shower dan membasuh tubuh istrinya perlahan. " Kau sedang terluka, kau dilarang komplain Baby."


Eil mengangguk mengerti, dia mulai memejamkan matanya saat suhu air hangat dan suhu tangan suaminya mulai menggerayangi tubuhnya bersamaan. Ini gila, bisa-bisanya dia tergoda padahal Nathan saja sudah sangat menahan hasratnya karena takut melukai Eil.


"Byy," panggil Eil dengan suara mirip rintihan.


"Hmmmm....," ucap Nathan yang masih fokus menyabuni tubuh istrinya.


"Aku akan mandi setelah selesai memandikan dan juga memakaikan pakaian untuk mu. Jangan menggodaku, memang aku tidak tahu apa arti dari pertanyaan mu itu?"


Plaakkkk... Hati Eil bagai tertampar selipah opah. Dia tidak menyangka suaminya akan mengucapkan kata-kata menohok seperti itu. Habislah dia, bagaiman Eil akan menunjukkan mukanya setelah ketahuan mengajak suaminya bergaul secara terang-terangan.


Setelah dua puluh menit berlalu, Eil sudah Duduk di atas ranjang dan sudah mengenakan piyama tidurnya. Sementara Nathan, seperti ucapannya tadi , dia memang benar-benar mandi setelah melihat Eil duduk dengan nyaman.


"Jangan sampai kau bermain solo Nathan," guamam Eil dengan mata yang fokus menatap pintu kamar mandi.


Drtzzzzz....Drtzzzz....


Dering ponsel Eil di atas nakas membuat wanita cantik itu mengalihkan perhatiannya.


"Halo Amber," sapa Eil pada orang di sebrang telepon.


"Kak Eil, aku dengar dari Kak Jerome kau terluka, kau baik-baik saja bukan? seberapa parah lukamu?"


Pertanyaan Amber yang bertubi-tubi membuat Eil menjauhkan ponselnya dari telinganya. Dia ingin tertawa namun sebisa mungkin dia menahannya. Gadis kecil ini sungguh terpikat olehnya. Baru kali ini Eil dekat dengan seseorang yang berani berbicara dengan sangat santai tanpa ada rasa canggung sama sekali.


"Aku tidak apa-apa Amber, kau terlalu berlebihan. Aku besok libur, datanglah ke sini, ajak Jerome juga," ucap Eil.


Terdengar suara jeritan di sebrang telepon. Apa Amber se bahagia itu , ketika dia akan bertemu dengan Eil, kenapa Eil merasa ini agak berlebihan.


"Aku boleh ke rumahmu Kak? benarkah?" tanya Amber antusias.


"Hmmm... Datanglah besok siang."


"Baiklah Kak. Tunggu aku ya."


Setelah selesai bercengkrama, akhirnya Eil menutup sambungan teleponnya.


"Siapa yang menelpon Baby?" tanya Nathan . Dia sudah selesai mandi dan juga sudah mengenakan pakaian tidurnya.


Eil menoleh, dia langsung membuka selimut dan menepuk sebagian ranjang yang kosong di sebelahnya.


"Amber yang menelpon. Dia besok akan main ke sini, boleh kan?" tanya Eil sambil memeluk Nathan dan membenamkan wajahnya di dada bidang milik suami tampannya itu.


"Dia datang ke sini sendiri?" tanya Nathan.


Eil menggeleng. "Dia akan datang bersama Jerome."


"What?" pekik Nathan sambil menjauhkan Eil dari pelukannya.


...To Be Continued....