The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Kejutan Untuk Sulli, Kesedihan Untuk Eil



Semua orang yang ada di aula pernikahan Sulli dan Jerome terdengar sangat riuh ketika Jerome dan Sulli melakukan ciuman hangat di atas lantar. Kini sepasang suami istri itu telah sah menjadi suami istri.


"Semua orang sudah memiliki pasangan Kak, tinggal kau saja yang belum," ucap Eil pada Bara. Laki-laki itu hanya mengangkat kedua bahunya acuh.


"Sepertinya aku tidak sendiri, karena nyatanya Om Darius juga tidak memiliki pasangan," beo Bara sambil menunjuk laki-laki yang sudah tidak muda lagi dengan dagunya. Eielria terkekeh melihat Darius yang sedang sibuk menutupi kedua mata Alard.


"Nathan, sepertinya kita harus mencari jodoh untuk Ayah," ujar Eil pada suaminya.


"Carikan lah Ayah perempuan cantik Baby, aku yakin kau dan Sulli memiliki banyak kenalan wanita-wanita hebat yang bisa menaklukkan Ayah."


Eil mengangguk mantap. Nathan sudah setuju, itu artinya dia bisa saja mencarikan calon istri untuk ayah mertuanya di pesta ini bukan? Akh sudahlah, Eil akan memikirkan itu nanti.


Semua orang di buat terkejut saat lampu di ruangan itu tiba-tiba padam. Hanya ada lampu-lampu kecil yang menyala, dan itu membuat cahaya di aula itu temaram.


"Nathan, apa ini bagian dari rencana yang dilakukan Sulli dan Jerome?" tanya Eil penasaran.


"Entahlah, Jerome belum pernah mengatakan hal ini padaku, mungkin saja dia sedang mempersiapkan hadiah untuk Sulli."


Sulli menarik jas yang dikenakan suaminya lalu berbisik di dekat telinga suaminya. "Apa kita merencanakan hal ini? Kenapa aku tidak tahu, kau melakukan perubahan hah?"


Jerome hanya tersenyum. Dia memegang kedua bahu Sulli lalu memposisikan Sulli untuk berdiri di depannya. Dan ketika lampu kembali menyala Sulli refleks membekap mulutnya sambil berjongkok. Matanya berkaca-kaca. Bahkan buliran air bening itu meluncur dengan indah melewati pipi mulusnya.


"Mama! Papa! ... " Sulli berteriak kemudian berlari menghampiri kedua orang yang kini juga sedang berjalan ke arahnya. Sulli memeluk kedua orang yang sudah sejak lama sangat dia rindukan, Sulli menangis tersedu dalam pelukan Ibu dan Ayahnya.


"Selamat atas pernikahan mu Sayang, maafkan Papa dan Mama karena selama ini kita selalu sibuk dengan pekerjaan kita sampai kita melupakan mu. Papa janji, mulai sekarang Papa dan Mama akan memprioritaskan mu Sayang."


Sulli mengangguk. Dia sebenarnya sudah sangat sakit hati karena ulah kedua orangtuanya. Namun anak mana yang akan membenci orangtuanya, se salah apapun orang tua pada anak, seorang anak pasti akan selalu menerima orangtuanya kembali saat mereka telah menyadari kesalahan mereka dan akan mulai melakukan yang terbaik untuk anak mereka.


Eil tidak bisa menahan isakkan yang keluar dari mulutnya. Eil sangat tahu bagaimana Sulli begitu merindukan ayah dan ibunya. Sama seperti dia, Eil juga sangat merindukan kedua orangtuanya, hanya saja Eil tidak bisa seberuntung Sulli, Sulli masih bisa bertemu dan memeluk kedua orangtuanya. Namun Wil tidak bisa, keduanya sudah ada di dalam gundukan tanah, seberapa besarpun rasa rindu yang dia miliki tetap tidak akan bisa mengembalikan orang-orang yang sangat dia cintai.


Nathan yang kala itu sedang berdiri di samping kursi roda istrinya memeluk istrinya sambil menepuk punggung istrinya lembut. Tentu saja Nathan bisa merasakan apa yang istrinya rasakan.


"Menangis lah Baby, menangis sampai semua kerinduan yang ada di dalam hatimu itu meluap. Kita harus tetap bahagia supaya orang tua kita bahagia di surga. Kita masih memiliki Ayah Darius. Aku tahu, seberapa sayangpun Ayah padamu, itu tetap tidak akan bisa menggantikan rasa sayang kedua orangtuamu, tetapi paling tidak, kau bisa mengurangi rasa rindumu pada kedua orang tuamu."


Eil masih terus menangis. Bahkan Bara, laki-laki bengis yang dingin dan tidak pernah mengeluarkan air mata kini sudah berkaca-kaca. Betapa pilunya suara tangis perempuan yang selama ini sangat dia sayangi, andai dia memiliki kekuatan untuk menghidupkan orang yang sudah mati, dia pasti sudah mengembalikan orang tua Eil sejak dulu.


"Maafkan aku Nathan." Sura parau Eil terdengar di telinga Nathan.


"No Baby, kau tidak perlu minta maaf. Aku mengerti kenapa kau menangis seperti ini. Hal ini wajar."


****


Setelah beberapa jam, resepsi pernikahan Sulli dan Jerome akhirnya selesai. Satu persatu tamu yang ada di aula itu mulai pergi meninggalkan ruangan. Kini hanya tinggal Sulli, Jerome, kedua orangtuanya dan juga keluarga besar Darius yang ada di sana.


Darius pergi sambil membawa bocah kecil yang kini sedang tidur terlelap dalam gendongannya. Setelah Darius pergi, kini giliran Amber dan Lukas yang pamit untuk pulang. Sepasang sejoli itu berjalan bersama namun masih tetap ada jarak di antara mereka berdua.


"Loh, Ayah dan Alard kemana?" ujar Amber celingukan mencari anak juga ayah mertuanya.


"Mungkin mereka sudah pulang lebih dulu. Aku tadi sudah menelpon sopir untuk mengantarkan mobil, kau tunggu saja sebentar. Aku yakin ini tidak akan lama."


Mau tidak mau Amber menunggu mobil yang dimaksud oleh Lukas, namun ketika dia sedang menunggu, tiba-tiba saja Amber mendengar seseorang memanggil namanya.


"Amber!"


"Kak Bara!"


"Sedang apa kau disini?" tanya Bara pada Amber. Dia berjalan mendekati Amber lalu melepaskan jas yang dia kenakan dan memakainya ke tubuh wanita cantik itu.


"Di luar dingin. Aku takut kau masuk angin."


Amber tersenyum. "Terima kasih Kak. Aku sedang menunggu mobil Kak Lukas, sepertinya ayah sudah pulang lebih dulu."


Bara mengangguk."Mau aku antar pulang?"


"Tidak perlu, dia kan pulang bersamaku." Lukas datang dan langsung melepas jas yang ada di bahu Amber lalu melemparkan jas itu kepada Bara.


Bara tersenyum tipis melihat Lukas yang sedang membuka jasnya dan memakaikannya kepada istrinya. "Ayo pulang Amber, mobilnya sudah datang," ucap Lukas menarik tangan Amber dengan tergesa.


"Lain kali lebih peka dan lebih cepat sedikit," teriak Bara pada Lukas yang sudah mulai menjauh. Lukas hanya mendengus. Dia sama sekali tidak memperdulikan Bara.


"Ada apa Kak?" suara malaikat di belakang Bara membuat laki-laki itu menoleh dan tersenyum.


"Tidak ada apa-apa. Tadi aku bertemu dengan Amber dan Lukas."


Eileria mengangguk. "Kita pulang sekarang ya! Aku capek," ucap Eil dengan wajah lelahnya. Bara maupun Nathan mengangguk. Mereka benar-benar seperti pengawal setia Eil yang akan selalu menuruti apa yang Eil mau.


Sementara di dalam aula, Sulli sedang memanyunkan bibirnya kesal. Sulli sangat kesal kepada kedua orangtuanya. Mereka mengatakan kalau mereka akan mulai fokus pada dirinya tapi pada kenyataannya, mereka masih akan kembali ke negara mereka masing-masing.


"Dengarkan aku Sayang!" Jerome berusaha membujuk Sulli. "Mama dan Papa hanya pergi untuk menyelesaikan semua urusan mereka. Setelah semuanya selesai, mereka akan kembali dan akan tinggal di dekat kita."


"Terserah kalian saja. Aku tidak perduli," ketus Sulli sembari berlalu pergi meninggalkan Jerome, dan kedua orangtuanya.


...To Be Continued....