
Hari ini semua orang mengantar kepergian Lukas ke sampai bandara. Setelah mengejutkan semua orang dengan kalimat ambigu nya, ternyata Lukas pergi ke Irak hanya ingin melakukan perjalanan bisnis. Dia sudah sangat sering mondar-mandir keluar negri, namun tidak pernah dadakan seperti ini karena dia selalu mempertimbangkan kesehatan Alard. Laki-laki itu selalu mengutamakan kesehatan putranya. Dia selalu menyiapkan segala keperluan Alard sebelum dia pergi. Namun sekarang, dia sudah mulai menerima jadwal dadakan. Mungkin Lukas sudah merasa lebih tenang karena ada Amber yang menjaga Alard.
"Hati-hati Daddy! Jangan lupa telpon Alad kalau sudah sampai," ucap Alard memeluk leher Lukas yang kini sedang berjongkok di depannya.
Amber maupun Darius tersenyum melihat kedekatan antara anak dan ayah ini. Mereka sangat menyayangi kedua laki-laki yang sudah sejak lama ada menemani hari-hari mereka.
"Jangan lupa kabari istrimu setelah kau sampai. Jangan membuatnya khawatir. Dia sedang mengandung. Jangan sampai dia dan calon bayi kalian kenapa-napa," ingat Darius menepuk pundak Lukas beberapa kali.
Air mata Amber berkaca-kaca. Ini baru pertama kali setelah Amber menikah dengan Lukas dan dia harus di tinggal pergi ke luar negri dalam waktu yang cukup lama. Meskipun Amber tidak tidur satu kamar dengan Lukas, tetapi dia selalu melihat suaminya di rumah setiap hari. Entah apa yang akan dia rasakan jika dia tidak bisa melihat Lukas dalam waktu beberapa bulan ke depan.
Lukas mengatakan kalau dia sedang mengembangkan proyek miliknya di Irak. Dia sudah mulai membangun perusahaan nya sendiri. Dan dia pergi ke Irak untuk menemui salah satu investor juga beberapa orang yang akan menjalankan usahanya di sana. Dia memiliki beberapa kenalan yang sekarang tinggal di Irak.
Amber langsung menghambur ke pelukan Lukas saat dia tidak bisa membendung air matanya lagi. Lukas yang merasakan tubuh Amber bergetar membalas pelukan Amber dan mengusap punggung wanita itu lembut. Meskipun dia masih belum bisa menerima Amber sepenuhnya, tetapi saat melihat Amber menangis seperti sekarang dia merasa tidak tega.
"Hati-hati Kak! Semoga perjalanan mu lancar."
Lukas mengangguk. Dia melepaskan pelukan Amber dan mendorong tubuh Amber menjauh dari tubuhnya. Dia pamit kepada semua orang lalu pergi dari hadapan mereka.
"Jangan bersedih Nak! Lukas hanya pergi untuk sementara. Kalau semuanya berjalan lancar dia akan cepat kembali," ucap Darius menepuk punggung Amber perlahan.
"Mommy! Mommy jangan menangis! Alad sedih kalau Mommy sedih," ucap bocah kecil itu menarik ujung baju yang di kenakan Amber.
Amber jongkok. Dia memeluk Alard begitupun dengan bocah kecil itu. Alard sudah menyayangi Amber seperti dia sudah mengenal ibu barunya itu sejak lama. Alard sudah menginginkan sosok seorang ibu semenjak dia tahu kalau seorang anak itu pasti memiliki sepasang orang tua.
Amber mengangguk dalam pelukan Alard. Mungkin karena pengaruh dari bayi yang ada di dalam perutnya dia menjadi sangat sensitif dan menjadi lebih mudah menangis. Dokter sudah mengatakan kalau Amber tidak boleh terlalu banyak pikiran, tetapi Amber selalu memikirkan banyak hal. Meskipun dia tidak ingin memikirkan apapun. Otak dan hatinya selalu berkata lain. Hatinya selalu memerintahkan otaknya untuk memikirkan hal-hal yang sebenarnya tidak harus di pikirkan.
"Sudah! Bukankah kita akan ke rumah Nathan dan Eil. Kita berangkat sekarang supaya bisa lebih lama di sana. Kalau kalian terus berpelukan seperti itu, sampai besok pun kita akan tetap tinggal di sini."
Amber dan Alard menurut. Mereka melepaskan pelukan mereka lalu beranjak pergi dari sana.
****
Setelah menempuh perjalanan cukup lama, akhirnya Darius, Amber juga Alard sampai di depan rumah Eileria dan Nathan. Siang itu, kediaman Nathan terlihat sangat sepi. Padahal biasanya para pelayan sedang sibuk bekerja di jam seperti itu.
"Apa mereka tidak ada di rumah?" tanya Amber pada Darius.
Darius menggeleng. "Kita masuk saja dulu! Mungkin mereka lagi tidur atau lagi ada di halaman belakang.
Amber mengangguk. Dia mengikuti Darius keluar dari dalam mobil. Amber juga tidak lupa menuntun Alard. Dia tersenyum sembari berjalan masuk ke dalam rumah Eil dan Nathan.
Darius berhenti di depan pintu. Mereka tersenyum ke arah salah seorang bodyguard yang berjaga di depan pintu.
"Apa Tuan dan Nyonya ada di rumah?" tanya Darius pada orang itu.
"Semua orang ada di halaman belakang Tuan," jawab bodyguard itu pada Darius.
Mereka akhirnya masuk ke dalam rumah Eil dan Nathan. Setibanya mereka di pintu halaman belakang, mereka terpana melihat sebuah pertunjukan yang sedang di lakukan Eil di depan Nathan juga para pelayan.
Meskipun Eileria masih duduk di kursi roda, dia sangat terampil ketika melempar belati sampai belati itu menancap dengan baik di tempat sasaran yang telah di tentukan.
Prokkkk prokkkk prokkkk ...
Sekarang Nathan sudah bisa mengesampingkan egonya demi Eil. Dia sudah tidak perduli mau tinggal dengan banyak orang ataupun tidak. Setelah Eil tidak bisa berjalan, Natan lebih mementingkan kemanan dan kenyamanan Eil. Kalau banyak orang di rumah mereka, Nathan tidak khawatir Eil akan kesepian.
"Kapan kalian datang? Kenapa tidak memberitahuku lebih dulu?" tanya Eiileria pada orang-orang yang baru datang ke rumahnya.
Nathan mendorong kursi roda mendekat ke arah Darius, Amber dan Alard. "Lukas sudah berangkat?" tanya Nathan. Tadi pagi Lukas memberitahu nya untuk menghandle perusahaan sementara waktu. Nathan menyanggupinya karena dia tidak harus pergi ke perusahaan dan hanya bekerja dari rumah.
"Lukas baru saja berangkat Nathan, karena itu kita langsung ke sini untuk menjenguk Eil."
Nathan mengangguk. Dia hendak mendorong kursi roda Eil namun Alard langsung berlari ke arah mereka membuat Nathan mengurungkan niatnya.
"Mommy! Mommy apa kabal? Alard kangen Mommy," ucap Alard menghampiri Eil. Bocah kecil itu berjinjit lalu mengecup pipi Eileria.
Eil tersenyum. "Mommy baik-baik saja Sayang! Alard apa kabar?" tanya Eil mencubit hidung Alard gemas.
"Alad sehat Mommy. Mommy Amber selalu menjaga Alad dengan baik."
"Bocah kecil itu selalu memuji ku Kak. Jangan dengarkan ucapannya," ucap Amber. Dia memeluk Eil saat wanita yang sama-sama sedang mengandung itu merentangkan tangannya.
Usia kehamilan mereka hampir sama. Hanya terpaut dua minggu. Meskipun mereka melakukan hubungan di hari yang sama. Tetapi kalau di hitung dari haid terakhir mereka, Eil hamil 2 minggu lebih dulu dari Amber.
"Apa kau baik-baik saja selama mengandung? Aku melihat kau semakin hari semakin montok. Aku juga ingin seperti itu, tetapi makan saja tidak berselera, bagaimana bisa aku bertambah montok."
Amber mengelus punggung tangan Eil lembut. "Wanita hamil tidak harus selalu montok Kak. Asal berat janin naik setiap bulannya, itu lebih baik, Kakak itu sangat sehat. Tubuhku itu penuh dengan lemak, sementara Kakak penuh dengan otot. Jadi wajar kalau Kak Eil sulit gemuk."
Darius yang sudah lama memperhatikan kedua menantunya yang sedang mengobrol mulai bosan. Dia berjalan mendekati kursi roda Eil lalu mendorong Nathan dan merebut pegangan kursi roda lalu mendorong Eil menjauh dari taman.
"Sudah semakin siang. Ayah tidak mau kalian kepanasan. Jadi masuklah ke dalam rumah! Nanti kita lanjutkan mengobrol nya di sana!"
Nathan mengangguk setuju. Dia langsung menggendong Alard dan membawa bocah kecil itu masuk ke dalam rumah. Sementara Amber, dia mengikuti Nathan dan Alard dari belakang.
"Ayah sudah makan siang belum?" tanya Eileria pada Darius. Darius masih mendorong kursi roda Eil. Rumah Nathan dan Eil ini memang cukup luas. Jadi membutuhkan waktu lumayan lama untuk sampai di ruang keluarga atau di ruang makan.
"Ayah belum makan siang. Tadi Ayah buru-buru ke sini karena pengen cepet-cepet ketemu sama kamu dan calon cucu ayah."
Eil tersenyum. Dia sangat bahagia mendengar Darius yang selalu merindukannya. Mereka menjadi jarang bertemu setelah Eil tidak bisa berjalan. Jadi wajar saja kalau Darius lebih sering merindukan Eil sekarang.
"Ayah makan siang sama Eil ya!"
Darius mengangguk. "Kamu sudah bisa makan tanpa fi temani Bara Eil?" tanya Darius yang memang sudah tahu kalau Bara tinggal di rumah ini untuk menemani Eil setiap waktu.
Eileria menggeleng. "Masih Ayah. Bara sedang tidak di rumah. Jadi aku selalu melakukan panggilan video kalau akau mau makan."
****
Ditempat lain, Bara sedang marah dan hampir membanting semua barang yang ada di hadapannya.
"Kau sudah gila! Kau berani membantah perintahku hah?"
...To Be Continued....