
"Apa semuanya berjalan dengan baik?"
"Iya Tuan, bahkan bungan terbaru hasil dari persilangan bunga yang sebelumnya tumbuh dengan sangat baik dan subur. Saya rasa, mulai sekarang kita bisa mengembangkan produk baru dengan bahan yang kita miliki."
Bara mengangguk. Dia masih memperhatikan hamparan bunga yang memiliki kelopak bunga seperti kelopak mawar namun kelopaknya lebih besar. Dan ada tumbuhan baru yang buahnya menyerupai buah tin namun bentuknya lebih bulat dan memang setiap batang hanya memiliki satu buah. Persis seperti kebanyakan bunga pada umumnya namun dia tidak memiliki kelopak , hanya sedikit pucuk bunga kecil di bagian atasnya.
"Aku akan membuat kalian mendunia," ucap Bara. Tangannya menyentuh setiap helaian bunga yang ada di hadapannya.
Setelah puas melihat anak-anak nya yang sudah berkembang dan tumbuh dengan baik, Bara kembali mengudara menggunakan si capung besi yang dia miliki. Pemandangan dari atas sangat indah. Bahkan Bara bisa melihat seberapa luas hamparan bungan narkotika yang dia miliki. Dia merasa sangat puas untuk hal itu. Tidak sia-sia dia mengembangkan bisnis seperti ini. Selain sangat menguntungkan, membuat obat-obatan yang bisa menghilangkan akal sehat manusia sangat menyenangkan bagi Bara.
Satu jam kemudian, dia sudah sampai di sebuah bangunan yang sangat tinggi. Setelah dia turun dari capung besinya bara masuk ke bangunan gedung itu melewati pintu rooftop.
"Ke rumah sakit xxx !" titah Bara pada sopir pribadinya. Dia sedang sangat merindukan wanita cantik yang selalu mengganggu pikirannya. Sejak kemarin dia selalu merasa gelisah karena semakin ke sini, Bara semakin sering mendengar lantunan merdu Eil yang membuat gairahnya semakin terpacu. Dia sudah mencoba melampiaskan hasratnya pada gadis-gadis kecil yang memang sudah di siapkan oleh orang-orang nya. Tapi berapa banyak pun gadis yang dia renggut kesuciannya, dia tetap tidak merasa puas. Otaknya terus berpusat pada sosok Eileria.
Sementara di rumah sakit, Eil masih sibuk memeriksa dokumen pasien yang akan dia operasi. Meski tidak banyak tapi Eil harus melakukan nya dengan sangat teliti. Dia mendongak saat mendengar pintu ruangannya di ketuk dari luar.
"Masuk!" sahut Eil dari dalam.
Orang yang tadi mengetuk pintu ruangan Eil masuk sambil tersenyum cerah. Dia memperhatikan setiap gerak gerik Eil yang menurutnya sangat indah. Entah kenapa, hal-hal kecil yang di lakukan Eil menjadi sangat luar biasa di mata Bara. Bahkan deru nafasnya saja sangat aesthetic. Gila memang. Tapi sebesar itulah obsesi Bara terhadap Eileria.
"Aku ingin melakukan pemeriksaan," ucap Bara. Eil yang mendengar suara khas laki-laki yang sudah sangat dia kenal langsung mengangkat wajahnya.
"Kau!" panggil Eil. Dia langsung berdiri dari duduknya dan menatap lekat laki-laki yang sedang memberikan senyuman aneh kepadanya.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Bara tersenyum. Dia menarik kursi yang ada di depan meja Eil lalu duduk dengan santai. "Aku ingin melakukan pemeriksaan," ucap Bara.
Eil mendengus. "Kau pikir aku tidak tahu maksud kedatangan mu ke sini hah? keluar dari ruangan ku!"
"Keluar!" teriak Eil. Wajahnya sudah memerah karena marah. Bagaimana bisa orang seperti Bara masuk ke dalam ruangannya. Siapa yang mengijinkan Bara masuk.
"Jangan seperti itu Sayang!" seloroh Bara. Dia berjalan ke arah pintu, namun bukannya keluar Bara malah mengunci pintunya dan memasukan kunci itu ke dalam saku celana yang dia kenakan.
"Kau!" geram Eil. Dia melempar sebuah pas bunga ke hadapan Bara, namun dengan gerakan yang sangat cepat, Bara menangkap pas bunga yang di lempar Eil lalu meletakkannya di atas meja dengan hati-hati.
Eil sudah bersiap mengambil pisau lipat yang dia simpan di dalam laci mejanya saat Bara mulai berjalan ke arahnya.
"Kau semakin cantik Sayang," puji Bara . Tangannya melayang di udara saat dia mencoba untuk menyentuh wajah Eil.
Plakkkkk... "Singkirkan tangan kotor mu itu Bara!" ucap Eil menepis tangan laki-laki gila yang semakin memojokkannya ke dinding ruangan itu.
"Aku akan membunuhmu," ancam Eil. Sebuah pisau tajam mengarah ke leher Bara. Bara yang melihat itu hanya tersenyum. Dia memegang pergelangan tangan Eil perlahan, dan sebuah kalimat yang di lontarkan Bara sukses membuat Eil menjadi tidak fokus.
"Aku tidak akan melakukan apapun padamu. Aku tidak ingin menyentuhmu dengan sebuah paksaan. Aku ingin kau datang sendiri menemui ku dan menyerahkan dirimu dengan sukarela. Aku janji, aku akan memberikan apa yang tidak Nathan berikan padamu."
"Kemampuan di atas ranjang ku lebih hebat dari kemampuan Nathan, aku yakin kau akan lebih menyukainya. Suara merdu mu itu tidak layak kau perdengarkan kepada laki-laki bodoh seperti Nathan."
Plak... Sebuah tamparan mendarat di pipi Bara. Bara mengusap pipi yang tadi di tampar Eil lalu mengecup tangannya sambil menunjukan ekspresi nakal.
Eil merasa sangat jijik melihat tingkah laki-laki gila yang ada di hadapannya. Tapi dia juga tidak bisa langsung membunuh Bara. Orang seperti Bara ini tidak pernah main-main dengan ucapannya.
"Keluar Bara!" teriak Eil. Dia ingin memukul Bara kembali namun Bara menahan pergelangan tangan Eil.
"Kau sangat wangi Sayang, aku menyukainya." Bara semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Eil. Sesaat sebelum bibirnya menyentuh bibir Eil, Eil memalingkan wajahnya.
"Cihh, ternyata kau semakin jual mahal dengan ku Eil." Lagi-lagi bara mendekatkan wajahnya. Namun, saat dia akan menempelkan bibirnya, sebuah ketukan terdengar dari arah pintu. Bara melepaskan tangan Eil. Dia tersenyum lalu memberikan kunci ruang kerja Eil pada wanita cantik itu.
"Orang gila," geram Eil. Bara hanya tersenyum senang. Dia sangat santai. Bahkan dia tidak memperdulikan setiap umpatan yang keluar dari bibir wanita cantik pujaan hatinya.
"Ada apa Daniel?" tanya Eil pada dokter Daniel.
Daniel melihat ke arah ruangan Eil. Keningnya berkerut saat matanya tidak sengaja melihat sosok laki-laki gagah nan tampan meskipun dia tahu kalau laki-laki itu tidak semuda dirinya ataupun suami Eileria.
"Kau baik-baik saja?" tanya Daniel.
"Hmmm. Aku baik-baik saja Daniel. Aku hanya sedang menerima pasien dengan kasus sakit jantung yang sangat parah. Aku rasa besok lusa juga dia akan mati."
Daniel membulatkan matanya. Kata-kata Eil ini sungguh sangat kejam.
"Aku hanya bercanda. Kau mau menyerahkan dokumen-dokumen itu kan? berikan padaku!"
Daniel menyerahkan dokumen-dokumen itu pada Eileria. Dia masih berusaha untuk melirik laki-laki yang ada di dalam ruangan Eil. "Kau benar-benar baik-baik saja bukan?" tanya Daniel yang masih merasa khawatir.
"Hmmm... Pergilah! terimakasih untuk ini," ucap Eil tersenyum.
Setelah Daniel pergi, Eil membuka pintu ruangannya lebar-lebar. Dia berdiri di depan pintu sambil menetap Bara. Bara yang sudah tahu akan arti tatapan Eil mau tidak mau menuruti apa yang di inginkan Eil darinya.
"Aku akan kembali," ucap Bara sebelum dia benar-benar keluar melewati pintu itu.
"Brengsek!" geram Eil. Dia menatap punggung Bara dengan mata yang berkilat marah. Bara sudah berani mengancamnya. Berarti dia sudah harus bergerak lebih cepat. Kalau tidak, maka dialah yang akan mati di tangan Bara.
...To Be Continued....