
Eil melangkah dengan dengan riang memasuki mansion suaminya. Wanita itu senang karena bisa melampiaskan amarahnya tanpa harus berpikir dulu. Preman-preman itu adalah angin segar untuknya malam ini.
"Kau baru pulang?" suara maskulin yang didengar Eil membuat wanita itu menghentikan langkahnya.
"Hmmm, aku ada sedikit urusan."
"Jangan terlalu sering pulang malam! bahaya, kamu ini perempuan. Kalau ada apa-apa di jalan bagaimana?" Nathan bertanya sambil berjalan mendekati Eil yang hendak menaiki anak tangga.
"Aku bisa menjaga diriku," ucap Eil.
Mata Eil tertuju pada cangkir keramik yang ada di tangan Nathan. Wangi teh camomile membuatnya ingin meminum itu saat ini. Bukan Eil namanya kalau dia tidak bisa melakukan sesuatu.
Seetttt...
"Hei!, apa yang kau lakukan? itu teh punyaku," cegah Nathan ingin mengambil kembali cangkirnya.
"Teh seperti ini saja kau masih pelit. Aku butuh sesuatu yang hangat supaya tubuhku ikut menghangat ," ucap Eil sambil menyeruput teh hangatnya. Dia tidak memperdulikan Nathan yang sedang melongo keheranan dengan sikap bar-barnya.
"Tapi aku sudah meminumnya."
Eil tersenyum. "Kita suami istri Nathan, wajar kalau kita mengenakan barang yang sama. Asal kau tidak menyebarkan virus rabies aku tidak keberatan."
"Kau tidak keberatan, tapi aku keberatan," ucap Nathan dengan wajah dinginnya.
"Sudahlah, aku malas berdebat denganmu. Aku mau mandi dulu."
Eil berjalan menaiki anak tangga , meninggalkan Nathan yang masih memperhatikannya. Kenapa bisa Eil bersikap seperti itu? ya, karena Eil memang memiliki jiwa yang bebas. Meskipun dia tidak memiliki banyak teman, malah hampir tidak ada. Tapi kalau sudah dekat dengan seseorang dia tidak akan sungkan sama sekali. Apalagi kepada Nathan yang notabenya adalah suami Eil sendiri.
Lain dengan Eil, lain juga dengan Nathan. Laki-laki itu menggelengkan kepalanya tidak percaya. Pasalnya Nathan adalah orang yang tertutup. Bahkan dia tidak akan suka kalau barang yang di pakainya di pakai anggota keluarganya juga. Tapi Eil, wanita itu sungguh berani. Nathan yang tidak mau semakin pusing kembali ke dapur dan membuat teh yang baru. Dia masih harus bekerja. Jadi masih butuh sesuatu untuk menemaninya berkutat dengan laptopnya. Bunga camomile memang memiliki efek menenangkan untuk tubuh siapa saja yang meminumnya. Alih-alih kopi. Nathan lebih suka teh herbal organik.
Hari semakin malam, Eil sudah selesai dengan ritual mandinya malam ini. Wanita itu sudah memakai piyama tidur dan sedang menatap layar monitor laptopnya. Alisnya bertaut tat kala deretan barcode baru yang sebelumya tidak ada , kini muncul di sana.
"Wah, ada seseorang yang ingin memasuki sistem komputer ku. Kenapa dia sangat bodoh. Sekalipun kau adalah master di dunia peretasan, aku akan menemukan identitas mu," ucap Eil dengan seringai licik di bibirnya. Eil sudah sangat hapal dengan kode-kode seperti ini, meskipun membutuhkan waktu cukup lama, tapi dia akan terus berusaha memulihkan semua data yang ada di laptopnya , juga mencari tahu siapa dalang di balik semua ini. Kalau kata pepatah, sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Itulah Eil. Selalu bekerja dengan cepat dan hasil yang memuaskan. Bahkan seringkali dia melakukan sesuatu untuk mencapai satu keuntungan, tapi yang dia dapat bisa dua sampai tiga keuntungan sekaligus.
"Ohoooo, aku mendapatkan mu. Mari kita sedikit bermain malam ini!" Eil begitu puas ketika dia berhasil menemukan nama di balik sistem yang meretas jaringan komputernya. Wanita itu terus tersenyum sampai menampakan deretan gigi putihnya.
Jam sudah menunjukan pukul dua dini hari, namun, wanita yang sejak tadi berkutat dengan laptopnya masih enggan untuk beranjak. Dia sesekali meregangkan tubuhnya untuk menghilangkan rasa pegal. Namun, tentu saja itu tidak akan berangsur lama , karena rasa pegal itu akan kembali menyerangnya.
"Akhhh akhirnya, kau sungguh membuatku bekerja sangat keras. Aku salut dengan kemampuan yang kau miliki," ucap Eil sambil menatap layar laptopnya.
Eil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Dia sangat lelah dan ingin tidur sekarang.
Kruyuuukkk....
"Astaga, aku lupa belum makan," ucap Eil sambil memegangi perutnya.
Eil menutup laptopnya, lalu berjalan keluar dari dari kamar. Wanita itu tersenyum kemudian berjalan menuruni anak tangga dengan tergesa.
"Bi, ada makanan tidak? saya lapar," ujar Eil memperlihatkan wajah memelasnya.
"Nyonya belum makan?" tanya pelayan itu lagi. Eil hanya menggeleng kemudian duduk di kursi yang ada di dekat mini bar di dapur.
"Saya akan buatkan makanan kalau begitu. Nyonya mau makan apa?"
"Apa aja deh Bi, yang penting gampang dan gak lama."
"Baiklah Nyonya, tunggu sebentar!"
Lima belas menit kemudian , pelayan itu sudah menyajikan makanan untuk Eil.
Ini adalah soupe a l'oignon. Terbuat dari rebusan kuah kaldu sapi kental yang di campur dengan bawang putih, juga sering di sajikan dengan swiran daging ayam dan keju parut untuk menambah cinta rasa. kenapa proses membuatnya tidak lama? karena semua bahan sudah tersedia di dalam kulkas.
"Terimakasih Bi," ucap Eil lalu mulai menyantap makanannya.
Sebenernya saat pertama kali Eil melihat para pelayan berkeliaran di malam hari, dia benar-benar sangat terkejut. Bagaimana bisa, belasan pelayan bekerja di saat orang lain mungkin sedang tidur nyenyak. Eil sempat ingin protes kepada Nathan, tapi, kepala pelayan mengatakan kalau mereka kerja di sini dengan suka rela tanpa ada paksaan sama sekali. Dan untuk masalah mereka kerja di jam yang tidak seharusnyapun, mereka sudah tahu, karena sejak awal saat mereka meneken kontrak dengan Nathan, mereka sudah di beritahu bahwa persyaratannya hanya satu. Mereka akan di terima kerja di mansion Nathan, namun, mereka harus bersedia kerja di malam hari saat Nathan sudah pergi ke kamarnya. Dan untuk kamar Nathan, mereka akan membereskannya saat Nathan tidak ada di rumah. Nathan benar-benar tidak ingin melihat siapapun berkeliaran di mansionnya . Sungguh orang aneh yang sangat ingin Eil tembak dengan Colt M45A1 yang dimilikinya.
"Bi, Saya sudah kenyang. Besok bersihkan saja kamar saya setelah Tuan pergi. Saya libur besok, jadi tidak akan kemana-mana. Jangan pikirkan Tuan kalian yang menyebalkan itu. Kalau bisa, aku akan menghajarnya untuk kalian."
"Tidak apa-apa Nyonya. Kami sudah terbiasa. Lagipula, Tuan sangat baik. Kami diberi pasilitas yang layak di bangunan belakang mansion milik Tuan. Kami sungguh senang bisa bekerja untuk beliau," ucap kepala pelayan yang mendapat respon anggukan dari Eil.
"Bi, saya mau nonton di ruang Tv sebentar ya. Tidak apa-apa bukan?"
"Tentu saja Nyonya. Ini rumah Anda, kenapa meminta ijin kepada saya."
"Hahaha, Bi, Saya cuma tidak ingin bibi terganggu, tapi kalau bibi sudah mengijinkan, saya tidak akan sungkan."
Bibi Aami menggeleng gelengkan kepalanya ketika melihat Eil sudah melesat pergi ke ruang Tv. Aami sangat tidak menyangka jika tuannya akan menikahi gadis cantik, baik hati dan sangat menghargai semua orang yang bekerja di mansion milik tuannya itu. Selama ini Aami hanya bertemu Nathan beberapa kali ketika Nathan memanggilnya untuk suatu keadaan khusus. Tapi Nyonya mereka Eil sering sekali menemui mereka. Bahkan ketika Eil sedang bosan, dia akan datang menemui mereka di sebuah ruangan khusus yang telah di siapkan oleh Nathan.
" Bibi Aami!" Irene dimana?" teriak Eil . Membuat Aami kembali fokus.
"Irene sedang membereskan ruang tamu Nyonya," ucap Aami setelah berada di ruang Tv.
"Tolong panggilkan ya Bi, tidak seru kalau nonton drama gak ada yang nemenin. Irene kan suka drama juga," ucap Eil dengan tatapan memohonnya.
"Baiklah Nyonya," ucap Aami pasrah.
To Be Continued.
Hai reader. Jangan lupa like dan komennya ya. Thank You.