The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Kekesalan Azalea



"What the f*ck," geram Eil sambil menggebrak meja kerjanya. "Bajingan itu sedang mempermainkan ku."


Suasana di ruangan itu mendadak menjadi sangat mencekam karena angel of death mereka sedang menyemburkan lahar panas. Eil marah karena dia merasa di permainkan oleh bajingan yang telah membuat pekerjaan nya lebih lama. Dia mengirim beberapa orang untuk masuk ke dalam kantor Bara dan menyembunyikan sebuah penyadap di sana. Tapi apa yang Eil dapat? Bara memulangkan beberapa kepala kepada Eil. Dan itu adalah kepala dari beberapa orang yang telah dia kirim.


"Misi kita batalkan," ucap Eil. "Aku tidak ingin kalian semua menjadi korban kegilaan hewan buas itu. Aku sendiri yang akan membunuhnya. Kalian terus awasi Bara dari jauh saja. Kalau ada informasi terbaru segera hubungi aku!"


"Baik Bos," jawab salah seorang anggota kepada Eil.


Eil melepas jaketnya dan membuangnya dengan kasar ke atas lantai. Jerome yang melihat itu mengambil jaket Eileria dan mengikutinya ke keluar dari markas initi.


"Kau pulang saja Jerome. Aku akan menghubungimu kalau aku membutuhkan bantuan."


"Baik Eil," jawab Jerome. Dia memberikan jaket yang tadi dia pungut kepada pemiliknya, lalu dia pergi lebih dulu menggunakan mobilnya.


"Brengsek. Brengsek. Brengsek," geram Eil kesal. Dia menendang ban mobilnya beberapa kali. "Kau benar-benar iblis Bara."


Eil masuk ke dalam mobilnya meski masih dalam keadaan marah. Semuanya sia-sia. Lima hari dia menghabiskan waktu untuk mempersiapkan ini semua. Dan Bara, bajingan itu membuat semua usahanya sia-sia. Belum lagi orang-orang nya yang harus mati mengenaskan. Eil tidak boleh membuat kesalahan lagi. Tidak ada yang boleh mati. Semua Anggotanya itu berharga baik bagi Eil maupun untuk keluarganya.


Puluhan panggilan dan pesan masuk saat Eil menghidupkan ponselnya. Sejak dia pergi dia memang tidak menghidupkan ponselnya. Alhasil, ratusan panggilan dan puluhan pesan dari Nathan memenuhi ponselnya hari ini.


"Maafkan aku Nathan. Aku akan menemuimu." Eil melajukan mobilnya semakin cepat. Dia harus segera sampai di mansion sebelum Nathan pulang ke rumahnya. Atau dia langsung ke kantor Nathan saja? Eil melirik koper besar yang ada di jok belakang. Semua pakaian santainya masih sangat lengkap. Eil hanya harus mengganti pakaian lalu pergi ke kantor Nathan bukan?


Satu setengah jam kemudian. Eil sudah sampai di depan gedung pencakar langit milik suaminya. Dia merapikan rambut dan juga pakainya. Tadi Eil sempat membeli makan siang untuk Nathan. Semoga suaminya itu sedang ada di kantor. Kalau tidak ada Eil akan sangat kecewa. Meskipun dia salah karena dia sudah mengabaikan Nathan selama lima hari ini, tapi dia yakin Nathan akan memaafkannya.


Beberapa karyawan langsung membungkuk saat Eil masuk ke dalam perusahaan. Dia masuk ke dalam lift khusus yang akan membawanya ke ruangan Nathan. Sebuah kejutan yang dia berikan pasti akan membuat suaminya itu bahagia.


"Apa Nathan ada di ruangannya Mark?" tanya Eil pada sekertaris Nathan.


"Ada Nyonya," belum sempat Mark menyelesaikan kalimatnya Eil sudah melesat pergi melewati lorong yang akan membawanya ke ruangan Nathan.


Tok Tok Tok.. Pintu ruangan itu langsung Eil buka meski tidak ada sahutan dari dalam.


"Akhhh... Pelan-pelan."


"Iya, itu... Akhhhh... Ini sakit tapi rasanya lebih baik dari sebelumnya."


"Akhh..."


Eil membulatkan matanya. Suara apa yang dia dengar. Kenapa suaminya mend esah seperti itu. Apa yang enak? apa Nathan mencari kehangatan dari wanita lain saat Eil tidak ada. Eil melirik kursi kebesaran suaminya. Amarahnya semakin memuncak saat dia tidak melihat keberadaan Nathan.


Brakkkk... Eil menjatuhkan paper bag yang dia bawa saat dia melihat Nathan sedang duduk di sofa sambil bersandar ke sandaran sofa dengan mata yang terpejam. Sementara di bawah kakinya ada seorang wanita yang sedang menunduk.


Nathan menoleh ketika telinganya mendengar barang jatuh. "Eil," gumamnya.


"Nathan kau bajingan," teriak Eil berlari hendak menerjang suaminya.


"Kau sudah pulang Baby?" tanya Nathan. Dia berdiri lalu berjalan ke arah Eileria.


"Astaga aku salah sangka," batin Eil.


"Kau kenapa?" tanya Eil. Matanya melirik kaki Nathan sekilas. Nathan juga berjalan tidak seperti biasanya.


Bukannya menjawab Nathan malah mengecup bibir Eil lalu memeluknya erat. "Aku sangat merindukanmu Baby. Kenapa selama lima hari ini kau tidak bisa di hubungi? aku hampir gila karena tidak mendengar kabar darimu." Eil tersenyum. Dia mengusap punggung suaminya perlahan. Dia juga sangat merindukan Nathan. Karena itu juga dia langsung datang ke kantor Nathan meskipun dia sangat lelah.


"Saya permisi Tuan," ucap wanita yang tadi.


"Hmmm.. Terimakasih," ucap Nathan.


Eil menatap punggung wanita itu. "Dia siapa Nathan?" tanya nya pada Nathan.


"Dia adalah Dokter ortopedi Baby. Kemarin kakiku terkilir, aku pikir kakiku akan baik-baik saja setelah aku mengompresnya dan memijatnya perlahan. Tapi rasanya semakin tidak nyaman saat aku bangun tidur. Aku mau ke Dokter tapi malas. Rumah sakit selalu mengingatkan ku akan dirimu Baby."


Eil tersenyum namun sesaat setelahnya dia kembali memasang raut wajah khawatirnya. "Kau ingin ke rumah sakit sekarang?" tanya Eil.


Nathan menggeleng. "Tidak usah. Dokter tadi bilang kakiku baik-baik saja. Hanya saja untuk sekarang tidak boleh terlalu sering di gunakan untuk beraktivitas berlebihan."


"Kalau begitu kenapa kau masih berdiri. Ayo duduk!" titah Eil. Dia membantu suaminya berjalan dan mendudukkan nya di sofa. Baru saja dia ingin berbalik untuk mengambil makanan yang tadi dia beli, Nathan malah menarik tangannya membuat Eil langsung terduduk di pangkuan suaminya.


Nathan memainkan rambut Eil lalu menyelipkan helaian rambut Eil yang menghalangi pemandangannya ke belakang telinga Eil. "Kenapa tadi kau mengataiku bajingan?" tanya Nathan. Matanya fokus menatap lekat mata coklat milik Eileria.


Eil menunduk lalu menyembunyikan wajahnya di dada Nathan. Dia malu kalau harus menjawab ini. "Aku pikir kau tadi sedang melakukan anu," gumam Eil hampir seperti bisikan.


Nathan mengerutkan keningnya. "Anu apa? kenapa kau malah bersembunyi seperti ini?"


"Anu, itu, aku pikir kau sedang olahraga hasrat dengan wanita tadi."


Astaga... Nathan di buat ternganga dengan ucapan istrinya. "Kau pikir aku se lemah itu hah? aku memang sangat merindukan mu. Tapi bukan berarti aku akan melampiaskan nafsu ku pada orang lain Sayang. Aku hanya mencintaimu. Aku hanya menginginkan mu. Aku janji aku tidak akan tergoda oleh wanita lain."


Tubuh Eil meremang saat dia merasakan deru nafas hangat Nathan pada lehernya. Eil ingin bicara tapi Nathan malah semakin menggodanya dengan mendaratkan kecupan-kecupan kecil di bahu dan di leher nya.


"Nathan!"...


"Hmmm."...


"Ini kantor. Apa kau akan melakukannya di sini?"


...To Be Continued....