The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Serangan Mendadak



Seperti janji Nathan tadi siang, malam ini dia mengajak Eil makan di restoran mewah, Eil yang kala itu berdandan sangat cantik membuat mata beberapa orang tertuju padanya. Bahkan seorang pelayan wanita saja mengagumi ke cantikan seorang Eileria. Ada sesuatu yang memancar di dalam dirinya yang tidak orang lain miliki. Entah kenapa auranya sangat berbeda dengan yang lain. Padahal, orang-orang Prancis jauh lebih cantik dari Eil. Namun, vibes yang di tunjukan Eil berbeda.


"Ada apa Nathan?" tanya Eil. "Apa ada sesuatu di wajahku?"



Nathan menggeleng. "Tidak ada apapun di wajahmu. Kau hanya sangat cantik Baby. Aku sangat menyukainya."


Eil terkekeh. "Kalau kau sangat menyukainya, berjanjilah untuk terus berada di sisiku apapun yang terjadi."


"Aku berjanji Baby. Aku tidak akan pernah meninggalkan mu sampai kapan pun."


"Aku harap kau akan memegang janjimu Nathan. Meskipun nanti kau mengetahui identitas ku yang sesungguhnya, aku harap kau akan tetap ada di sampingku."


Setelah selesai makan malam, mereka berniat untuk berjalan-jalan di sekitar kota Paris sebelum kembali ke Mansion.


Setttt.... Brukkkk... Eil melepas genggaman tangan Nathan dan mendorongnya menjauh. Nathan terkejut bukan main. Tapi saat dia melihat seorang laki-laki menodongkan senjata tajam padanya, Nathan mengerti dengan apa yang di lakukan istrinya barusan.


"Kau harus mati," ucap orang itu sambil mendekat ke arah Nathan yang masih terduduk di atas trotoar.


"Bajingan kau!".....


Bughhhhhh....


Eil menendang punggung orang itu dengan cepat. Dia tidak memperdulikan tampilannya yang sedang memakai dress dan menggunakan sepatu heels. Dia bukan wanita barat yang akan tenang jika keluar menggunakan dress tanpa pelindung, dia pasti akan menggunakan cela lebih meskipun itu sangat minim.


Eil langsung menarik tangan Nathan. Dia kembali melakukan serangan kepada orang tadi. Nathan juga tidak tinggal diam, orang-orang bertopeng itu semakin lama semakin banyak. Bahkan sekarang mereka sudah mengelilingi Eil dan Nathan.


"Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku Nathan, fokus dan hajar mereka . Aku bisa melindungi diriku sendiri. Jangan sampai kau lengah karena mengkhawatirkan aku. Jumlah mereka sangat banyak. Aku tidak yakin kita bisa menang," ucap Eil merendah. Sebenarnya Eil bisa saja menghabisi mereka, tapi dia harus tetap terlihat agak lemah di depan Nathan.


Nathan mengerti. Kini punggung mereka menempel satu sama lain. Eil tahu, daripada menyerang dan mencari musuh, dia hanya harus tahu pergerakan apa yang akan di lakukan musuh padanya. Dengan begitu, dia bisa mengalahkan mereka dengan mudah.


Serangan demi serangan sudah mulai terjadi. Nathan dengan gerakan cepatnya, dan Eil dengan gerakan anggun tapi tetap mematikan. Kedua pasangan itu menerjang musuh seperti sedang berdansa di aula dansa. Terangnya rembulan membuat kesan yang baru. Sebuah pertarungan yang sangat romantis sedang terjadi. Kerja sama Nathan dan Eil membuat mereka lebih unggul dari musuh meski mereka kalah jumlah.


Bughhhhh....


Brukkkk.... Satu per satu musuh mukai tumbang. Eil dan Nathan masih terus melakukan serangan-serangan yang membuat musuh tidak bisa berkutik.


Sementara di tempat lain yang tidak jauh dari tempat perkelahian yang sedang terjadi, Bara sedang menikmati cerutunya di dalam mobil. Dia memperhatikan Nathan dan Eil dengan seksama. Tadinya Bara hanya ingin membuat perhitungan dengan Nathan, tapi tidak di sangka, kombinasi Nathan dan Eil sungguh sangat hebat ketika mereka sedang bertarung melawan orang-orang nya.


Senyuman licik tercetak dengan jelas di wajah Bara. Dia ingin mengeluarkan sebuah pistol dan mengerahkan nya kepada Natha. Tapi karena Nathan terus bergerak, Bara mengurungkan niatnya. Dia tidak ingin salah sasaran dan malah membuat wanita yang dia cintai terluka.


"Pergi!" titah Bara pada sopir pribadinya. Sopir itu mengangguk kemudian pergi menjauh dari tempat kejadian.


Brukkkk......


Eil maupun Nathan bernafas dengan lega meski sedikit terseggal-senggal. Semua orang yang hendak menyerang mereka sudah ambruk di atas trotoar bahkan sampai ada yang tergeletak di pinggir jalan.


"Kau tidak apa-apa Sayang?" tanya Nathan pada Eil. Eil dengan susah payah bernafas perlahan. "Aku baik-baik saja Nathan."


Nathan mengangguk. Dia menarik tangan Eil dan membawanya menjauh dari tempat kejadian.


"Apa kau tidak ingin melaporkan mereka Nathan?" tanya Eil sambil melirik suaminya dari samping.


"Aku tidak tahu, tapi sepertinya kita tidak akan sempat, kita harus segera pergi sebelum teman-teman mereka kembali," ucap Nathan.


Eil mengangguk. Dia mengikuti Nathan ke dalam mobil. Sesampainya di dalam Nathan mengambil botol air minum lalu membukanya dan menyodorkan air itu kepada istrinya.


"Kenapa Byy?" tanya Eil ketika melihat Nathan malah melamun sambil menatap lurus ke arah luar mobil yang sedang mereka tumpangi.


"Apa kau tidak takut?" tanya Nathan spontan. "Kau seperti sudah terlatih, dan aku tidak melihat rasa takut atau khawatir di wajahmu."


Matilah Eil. Padahal dia sudah berusaha untuk tidak terlalu menonjol, tapi Nathan masih bisa melihatnya. Apa yang harus Eil katakan. Dia sedikit gelisah, ini bukan waktu yang tepat baginya untuk memberitahu Nathan semuanya. Tapi alasan apa yang harus Eil berikan pada Nathan untuk saat ini?"


"Baby!" panggil Nathan.


Eil menoleh. "Akh, aku sudah biasa hidup sendiri Nathan, bukan hal mudah bagi perempuan sepertiku untuk bertahan hidup dan mempertahankan kehormatan ku di jaman modern seperti saat ini."


"Maafkan aku Baby, aku tidak meragukan mu, hanya saja aku tidak tahu kalau kemampuan ilmu bela diri yang kau miliki sangat bagus, kau bahakan terlihat lebih cekatan dariku."


"Itu hanya kebetulan Nathan, kau tahu, aku berlatih sudah sangat lama. Hal seperti ini pun sering terjadi, jadi aku sudah tidak kaget lagi."


Nathan mengangguk. Dia menarik bahu Eil dan membawanya ke dalam dekapannya. "Melihatmu baik-baik saja aku sudah sangat senang Eil. Aku bersyukur karena memiliki mu. Maafkan aku karena aku sempat memikirkan hal yang tidak-tidak."


****


"Mereka pergi Bos," ucap salah seorang laki-laki di depan Bara. Bara mengangguk paham. Dia tidak mengamuk atau marah seperti biasanya, Bara juga tidak berniat untuk menghabisi Nathan, dia hanya ingin memberi pelajaran untuk Nathan, jadi kalau Nathan masih baik-baik saja Bara tidak maslah dengan itu. Toh cepat atau lambat dia akan membunuh Nathan dengan tangannya sendiri.


"Kalian bisa pergi!" ucap Bara kepada semua orang suruhannya. Mereka semua pergi dari ruangan Bara.


"Aku tahu kau sangat menyukainya Eil. Lalu apa alasan mu menemui ku kemarin, apa kau hanya ingin memanfaatkan ku Eil?"


Bara menautkan alisnya. Dia meraba leher belakangnya tapi tidak ada apapun di sana, apa Bara hanya berhalusinasi? kenapa dia merasa ada yang bergerak di bawah kulitnya.


...To Be Continued....