The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Kekacauan



"Halo Lukas!" ucap Amber pada orang di sebrang telepon.


"Apa yang kau lakukan Amber? Kau berani mengajak Alard ke taman bermain tanpa seijin ku? Aku tidak pernah membawanya ke taman bermain karena Alard tidak bisa kelelahan Amber. Kau juga tahu hal itu bukan? kau ingin membuat penyakit Alard kambuh hah?"


Amber terlihat sangat gugup. Dia mencengkram ujung dres yang saat itu dia kenakan. Kepalanya menoleh ke arah Alard dan Darius.


Brukkkk ...


Ponsel yang ada di genggaman tangan Amber jatuh seketika.


"Alard!" teriak Sulli berlari menghampiri Alard dan Darius.


"Halo Amber!"


"Amber apa yang terjadi!"


"Amber!"


Ponsel itu masih menyala, dan Lukas masih terus memanggil nama istrinya.


"Alard kenapa Ayah?" tanya Amber kepada Darius. Darius menggeleng. Dia langsung berlari membawa Alard ke mobilnya di ikuti oleh Amber dari belakang.


Amber duduk di kursi belakang menggantikan peran Darius yang tadi menggendong Alard. Kini bocah kecil itu berbaring dengan kepala yang berada di atas pangkuan Amber.


"Kita harus cepat Ayah," ucap Amber dengan suara yang bergetar. Dia sangat takut sekarang. Apalagi melihat Alard yang tidak merespon setiap panggilan darinya.


Kedua orang itu gugup bukan main. Niat hati ingin membawa Alard bermain dan menyenangkan hati bocah kecil itu malah berakhir dengan penyakit Alard yang kambuh dan membuat bocah kecil itu kehilangan kesadarannya.


Tiga puluh menit kemudian, mereka sudah sampai di depan rumah sakit yang biasa menangani Alard. Hanya saja, dokter yang selama ini menjadi dokter spesialis untuk Alard yaitu Eileria tidak ada di sana. Darius tidak memiliki pilihan lain, siapapun dokter yang akan menangani Alard, dia harap Alard akan baik-baik saja.


"Dokter! Tolong cucu saya! Tolong cucu saya Dokter!" Darius berlari ke arah UGD sambil membawa Alard dalam gendongannya.


Seorang dokter dan beberapa perawat datang menghampiri Darius dan Amber. Mereka langsung membawa Alard ke UGD untuk di lakukan pemeriksaan segera.


"Maaf Tuan, Nona, kalian tidak bisa ikut ke dalam," ucap seorang perawat sambil menutup pintu UGD tersebut.


Kedua orang itu mundur beberapa langkah, Darius ambruk di atas lantai. Sementara Amber, dia mulai mencengkram perut bagian bawahnya. Alisnya bertaut dengan keringat dingin yang bercucuran.


"Ayah!"


"Ayah!" jerit Amber saat dia mulai merasakan sakit yang luar biasa.


"Amber!" panggil Darius terkejut. Dia langsung berlari menghampiri Amber yang kini sudah terduduk di atas lantai rumah sakit.


Beruntung di depan UGD itu masih ada beberapa perawat dan dokter. Dengan sigap mereka membawa Amber ke UGD yang tadi di masuki oleh Alard.


Amber yang terbaring di atas hospital bad melirik ke samping di mana dokter yang lain sedang melakukan pertolongan kepada Alard. Dia sangat kesakitan namun keadaan Alard yang belum pasti membuatnya seakan kehilangan kepekaan atas rasa sakit.


Srakkkk ...


Perawat menarik gorden pembatas dalam ruangan tersebut. Amber menitikkan air matanya. "Kau harus baik-baik saja Alard, Mommy mohon, Mommy mohon kau harus baik-baik saja Sayang."


Sementara di luar UGD Darius semakin di buat kalang kabut. Kedua orang yang ada di UGD itu membuat semua pikirannya pergi kemana-mana.


Hati Darius hancur ketika dia melihat darah menggenang di lantai. Kedua cucu dan juga menantunya sedang tidak baik-baik saja. Nyawa mereka sedang di pertaruhkan di dalam UGD, betapa frustasi nya Darius karena dia tidak bisa melakukan apapun. Pikirannya semakin kacau. Apa yang harus dia lakukan sekarang.


Darius terduduk di kursi tunggu. Kepalanya menunduk dalam. Perlahan air matanya jatuh, menetes begitu saja. "Maafkan Kakek, Alard, maafkan Ayah Amber."


Sementara di tempat lain, di belahan dunia yang lain, Nathan juga yang lain sedang berada di sebuah rumah sakit terbesar yang ada di kota itu. Sekarang adalah waktu jadwal temu antara Sulli dan juga dokternya. Begitupun dengan Eileria. Pagi ini dia juga memiliki janji temu dengan dokter kandungan dan dokter ahli saraf terbaik di negara itu.


"Jadi bagaimana Dok?" tanya Jerome pada dokter kandungan yang sedang menangani Sulli. Mereka sudah melakukan beberapa tes juga sudah melakukan USG untuk melihat apakah rahim Sulli masih bisa berfungsi dengan baik atau tidak.


"Kita masih harus melakukan beberapa pemeriksaan lagi Tuan, belum lagi hasil tes hormon yang di miliki Nyonya Sulli belum keluar. Anda bisa kembali lagi besok untuk melakukan pemeriksaan yang lain dan untuk mengetahui hasil dari semua tes yang kita lakukan hari ini.


"Untuk hasil USG nya, saya belum bisa memastikan apapun. Rahim Nyonya Sulli masih sangat bengkak. Namun melihat hasil operasi yang dilakukan dokter sebelumnya, aku yakin, semuanya akan baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir. Dengan pemulihan yang tepat, Nyonya Sulli pasti akan bisa hamil meskipun kita harus melakukan usaha lebih."


Jerome mengangguk. Dia melirik Sulli lalu tersenyum. Wanita cantik itu membalas senyuman Jerome, meskipun senyuman itu sangat tipis, namun Jerome masih bisa melihatnya. "Syukurlah, aku rasa kau akan baik-baik saja Sulli," ucap Jerome dalam hati.


Sementara di ruangan yang lain, Eileria sedang berbaring di atas hospital bad, sementara Nathan sedang mendengarkan penjelaskan dari dokter saraf yang tadi sudah memeriksa saraf di kaki istrinya.


"Sepertinya istri Anda akan baik-baik saja Tuan, kalau ada waktu, kita harus berkonsultasi dengan dokter kandungan sekaligus. Kalau dokter kandungan mengijinkan kita untuk melakukan operasi, kita akan melakukan operasi tahap pertama. Dan kalau operasi tahap pertama ini berhasil, kita hanya harus melakukan satu operasi lagi sampai istri Anda bisa berjalan kembali."


Nathan mengangguk. "Saya mohon lakukan yang terbaik untuk istri saya Dokter. Setelah ini saya akan menemui dokter kandungan."


Drtzzzzz ...


Drtzzzzz ...


"Maafkan saya Dok, saya harus menjawab panggilan telepon dulu," ucap Nathan kepada dokter yang tadi memeriksa istrinya.


"Baiklah, silahkan!" ucap dokter itu.


Nathan beranjak dari duduknya. Dia berjalan ke sudut ruangan yang agak jauh dari sang dokter.


"Halo!" ucap Nathan mengangkat Panggilan teleponnya.


"Nathan, Alard Nathan, Alard," ucap orang di sebrang telepon.


Nathan menjadi bingung dan sedikit panik. Kenapa orang yang ada di sebrang telepon tidak langsung menjabarkan apa yang terjadi. Dia malah membuat keadaan menjadi sangat tegang.


"Ada apa Lukas? Katakan dengan jelas. Jangan membuatku panik!" ucap Nathan.


"Sepertinya terjadi sesuatu pada Alard. Tadi dia pergi ke taman bermain dengan Amber dan Ayah. Tapi tiba-tiba saja aku tidak bisa menghubungi mereka. Saat aku menelpon Amber, ada orang lain yang mengangkat teleponnya. Semetara Ayah tidak mau mengangkat panggilan dariku ."


"Astaga Lukas, aku harus bagaimana? Aku juga sedang tidak di Prancis."


"What?"


"Ceritanya panjang. Sebaiknya kau pulang saja. Aku akan mencoba untuk menghubungi orang-orang ku."


Nathan menutup panggilan teleponnya. Dia melirik ke arah Eil yang kini sedang melihat ke arahnya. Nathan kembali merasa sangat bingung, dia harus memberi tahu Eil atau tidak. Kalau Nathan memberitahu Eil, pasti istri kecilnya itu akan memaksa untuk kembali ke Paris saat ini juga.


"Ada apa Nathan?" tanya Eil tanpa suara.


...To Be Continued....