The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Ada Apa Dengan Sulli



Nathan menatap wajah damai Eil ketika wanita cantik itu sedang tidur terlelap. Sudut bibir Nathan tertarik ke atas tat kala dia mengingat kalimat aneh yang kembali terlontar dari mulut sang istri.


Beberapa jam yang lalu, Eil mengatakan kalau Sulli bukalah seseorang yang mudah marah, Nathan sudah mempercayai itu. Namun setelah beberapa saat Eileria kembali mengatakan kalau Sulli adalah seorang pendendam. Lalu, mana yang harus Nathan percaya? Kalimat ambigu istrinya itu sungguh membuat Nathan bingung. Pantas saja Eil sangat dekat dengan Sulli, ternyata mereka sama-sama berdarah dingin.


Flashback on


"Sulli ingin membunuh setiap orang yang telah merebut kebahagiaannya."


Kalimat yang keluar dari mulut Eileria mampu membuat sepasang bola mata Nathan dan Bara keluar dari tempatnya. Apakah yang mereka dengar itu benar? Tapi tadi Eil mengatakan kalau Sulli bukanlah orang yang pemarah.


"Aku tahu, Sulli memang bukan seorang pemarah, namun dia adalah seorang pendendam. Sulli itu bekerja sebagai seorang pembunuh bayaran sebelum dia mendatangi ku di sini. Aku juga tidak tahu kenapa dia berhenti, tapi yang jelas, Sulli tidak pernah membiarkan siapapun yang menganggu kehidupan pribadinya hidup dengan damai. Aku juga sempat bingung saat Sulli mengetahui kalau Jerome menyukai Amber dia tidak melukai Amber."


"What?" pekik Nathan lagi-lagi terkejut mendengar penuturan dari Eil.


"Maksudmu Jerome pernah mencintai Amber? Tapi mereka adalah saudara kandung bukan?"


Eileria menggeleng. Dia menarik kepalanya lalu duduk dengan tegak.


"Mereka bukan saudara kandung Nathan. Amber hanya seseorang yang pernah Jerome tolong."


"Kau sudah mengetahui ini Kak?" tanya Eil pada Bara. Laki-laki itu mengangguk.


"Aku tahu, kau memang tidak pernah melewatkan hal seperti ini."


Eileria kembali menyandarkan kepalanya di lengan Nathan. Sementara Nathan masih melongo tidak percaya. Eil dan Bara sudah mengetahui ini sejak lama, tapi kenapa mereka tidak mengatakan apapun pada Nathan.


"Sudahlah Nathan. Jangan terlalu di pikiran. Masalah ini sudah berlalu. Anggap saja kau tidak pernah mendengar apapun."


Flashback of


"Kau memang wanita yang luar biasa Eil, ketahanan mu menyimpan sebuah rahasia harus aku acungi dua jempol."


Nathan mengecup kening Eileria sekilas lalu ikut berbaring di samping sang istri. Hari ini sungguh sangat melelahkan. Nathan harus segera tidur agar ketika bangun dia bisa kembali beraktivitas dengan semangat dan bisa mengurus keperluan Eil dengan baik.


"Good night Baby. Good night kecebong kecil," ucap Nathan mengelus perut Eileria pelan.


Kamar itu terlihat sangat hangat. Pelukan yang Nathan berikan pada Eileria mampu membuat siapa saja yang melihatnya merasa iri sekaligus bangga, seorang laki-laki tampan nan gagah seperti Nathan masih mau mengurus istrinya yang cacat. Nathan selalu sabar dan sangat telaten merawat Wil, sungguh, kalaupun dia pergi meninggalkan Eil, dia akan langsung mendapatkan wanita lain yang lebih cantik dan tentu saja sehat. Namun cinta yang di miliki Nathan kepada istrinya sangatlah besar. Dia tidak pernah berpikir untuk mencintai orang lain selain Eileria. Bagi Nathan, seperti apapun kondisi Eil, dia tatap sempurna di matanya.


****


Satu bulan telah berlalu. Jerome dan Sulli sudah menyelesaikan semua pemeriksaan dan juga perawatan yang Sulli butuhkan. Kini mereka berdua sedang ada di sebuah taman kota. Susana di kota saat itu terlihat sangat ramai. Ini merupakan kali pertama untuk Sulli keluar dari apartemen setelah dia sembuh dari operasi yang dia lakukan sebelumnya.


Jerome benar-benar memperlakukannya dengan sangat baik. Laki-laki itu seolah menjadi seorang pelayan yang sangat setia untuk Sulli. Kemanapun Sulli ingin pergi, dia selalu menemaninya. Bahkan ketika Jerome tidak bisa menemukan Sulli di dalam apartemen, dia akan bertingkah seperti orang yang gila, dia akan berteriak dan mencari Sulli ke setiap sudut ruangan. Padahal Sulli hanya pergi ke kamar mandi.


Sulli menjadi sangat khawatir. Apakah dia tidak salah mencintai seseorang. Kenapa sekarang malah Jerome yang mengejarnya dan menggilainya seperti ini.


"Honey!"


Sulli tersenyum. "Ada apa ?" tanyanya sambil menyeruput kopi di dalam cup.


"Apa ada sesuatu di wajahku?" tanya Sulli sambil meraba wajahnya.


Jerome mengangguk. Dia mendekatkan wajahnya lalu.


Cup.


Sebuah kecupan mendarat di pipi Sulli. Wanita itu mendengus sambil memukul lengan Jerome dengan sangat kuat.


"Kau! Berani-beraninya kau menciumiku hah? Kau pikir kau siapa? Aku sudah pernah bilang, jangan mencium ku tanpa izin dariku Kau lupa?"


Cup.


Bukannya mendengarkan celotehan Sulli, Jerome malah kembali mendaratkan kecupannya. Dan kali ini dia mengecup Sulli tepat di bibir wanita cantik itu.


"Yak!" Sulli berteriak hendak memukul Jerome kembali. Namun, gerakan Sulli kalah cepat dengan gerakan tangan Jerome yang menarik tangannya lalu menempelkan bibir mereka kembali.


"Eumh" ...


Sulli berusaha untuk melepaskan tautan yang dilakukan Jerome, namun karena tak kunjung lepas, lambat laun Sulli menerima kecupan itu dan mulai membalasnya.


Jerome tersenyum di sela-sela ciuman yang dia lakukan. Hatinya sedang berbunga-bunga sekarang. Wanita yang dia cintai kini sudah tidak mendiaminya lagi. Dan hebatnya, Sulli sudah mau memaafkan semua kesalahan Jerome di masa lalu.


Sepuluh menit berlalu. Jerome kini sudah melepaskan tautannya. Dia menempelkan keningnya di kening Sulli. Napas keduanya memburu. Kedua insan yang sudah saling jatuh cinta itu terlihat sangat serasi, mereka bertingkah seolah dunia ini milik mereka berdua, dan yang lain hanya mengontrak untuk sementara.


"Sulli!"


"Heummm."


"Aku mencintaimu."


"Aku tahu," jawab Sulli jujur. Memang siapa yang tidak akan tahu tentang cinta yang di miliki oleh Jerome. Dia menunjukan nya secara terang-terangan. Bahkan Sulli yang dulu mengejar Jerome saja tidak berlebihan seperti ini.


"Apa kau mencintaiku?" tanya Jerome menjauhkan wajah Sulli lalu menatap mata Sulli lekat. Dia memperhatikan setiap pergerakan mata yang dilakukan oleh wanita cantik itu. Jantungnya berdegup sangat kencang. Jerome takut, dia takut kalau Sulli akan mengatakan jika dia tidak mencintainya.


"Apa kau harus menanyakan itu Jerome?" tanya Sulli.


Jerome tersenyum. "Menikahlah dengan ku Sulli! Aku janji, aku akan membahagiakan mu, aku akan menjadikanmu wanita paling beruntung di dunia ini."


Sulli diam. Dia berpikir untuk beberapa saat. Apa yang Jerome katakan ini adalah kalimat yang sudah sejak lama Sulli tunggu. Terapi ...


"Aku tidak bisa Jerome."


Jerome mematung. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat itu juga. Bukan ini yang Jerome harapkan. Dia yakin Sulli juga mencintainya, tapi kenapa Sulli menolak? ..


To Be Continued.