
"Apa maksudmu Azalea?" geram Dragon pada wanita cantik yang sedang duduk bertumpang kaki di hadapannya. Dia sudah mewanti-wanti agar Eil tidak dekat dengan Bara. Dia juga sudah berusaha untuk menahan Eil supaya tetap di sisinya. Namun apa yang dia katakan, wanita itu mengatakan hal-hal yang membuatnya naik darah.
"Aku akan tetap pada pendirian ku Dragon. Aku akan mengurus masalah Belle juga orang di belakangnya dengan Bara. Aku tidak ingin membiarkan organisasi ini menangani hal yang tidak seharusnya mereka tangani. Apa kau masih ingat berapa banyak anggota kita yang mati karena wanita berengsek itu?"
"Aku mengerti dengan apa yang kau maksud Lea. Tapi kalau sampai harus melibatkan Bara dalam masalah ini, kita akan kesulitan mengambil kendali. Kau juga tahu Bara itu orang seperti apa. Dia tidak akan mau berkompromi dengan kita. Apa yang menurutnya benar akan selalu benar Lea. Apa kau ingin orang-orang yang tidak bersalah mati begitu saja?"
Eil mencondongkan badannya. Dia menatap Bara lekat, bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman sinis, antara dia meragukan Dragon atau, dia memang sedang mengejek laki-laki itu.
"Sudah dua minggu sejak kau menyuruh organisasi untuk melacak keberadaan Belle, tapi dia masih belum di temukan? apa kau yakin kau sudah bekerja dengan baik? kau yakin kalau kau tidak bersekongkol dengan nya?"
Brakkkkkk...
Suara gebrakan meja yang berasal dari tangan Dragon menggema di ruangan itu. Dia menatap Eil horor. Dragon sudah berbicara dengan cara baik-baik. Tapi kenapa Eileria malah menuduhnya melakukan sesuatu yang tidak-tidak? Dragon sudah berusaha untuk mecari keberadaan Belle dan juga Jay. Tapi kalau orang-orang nya belum menemukan Belle dan Jay, dia tak lantas langsung jadi tersangka bukan?
"Aku sudah cukup bersabar menghadapi keegoisan dan kekeras kepalaan mu Eil. Tapi kalau sampai kau menuduhku melakukan hal yang tidak-tidak seperti itu, aku tidak bisa bersabar lagi."
Dragon memalingkan wajahnya. Melihat wajah Eileria membuatnya semakin emosi dan ingin menghajar wajah cantik itu sekarang juga. Tapi dia sadar, sebagai seorang laki-laki, dan sebagai seorang ketua yang baik. Dia tidak bisa melakukan hal itu. Meskipun dia marah, dia masih bisa mengontrol emosinya.
"Lebih baik kau pergi dari sini Lea! aku tidak akan menghalangi mu melakukan apapun. Melihatmu di sini membuatku semakin emosi. Aku takut amarahku tidak akan terkendali kalau sampai kau terus ada di hadapan ku."
Eil tersenyum kecut. Sebenarnya dia juga tidak bermaksud untuk membuat Dragon marah. Dia hanya ingin mengatakan apa yang ada di dalam hatinya. Kalau sampai Dragon marah karena itu, itu adalah salah Dragon sendiri bukan?
"Segala kemungkinan itu bisa saja terjadi Dragon. Aku tidak bisa mempercayai siapapun meskipun itu diriku sendiri."
Blammmm...
Eil membanting pintu ruangan Dragon cukup keras. Dia merasa kalau Dragon terlalu lambat. Waktu dua minggu itu adalah waktu yang cukup lama untuk mencari tahu keberadaan Belle, tapi kenapa Dragon seperti tidak serius menanggapi hal itu.
"Aku harap kau tidak akan terjerumus pada tipu daya Bara Eil. Aku tahu, emosimu, dan ingatan mu pada kejadian di masa lalu membuatmu tidak pernah mau menunggu waktu lama untuk menghabisi orang-orang yang menurut mu pantas kau bunuh. Tapi sikap tergesa mu itu bisa mencelakai mu kapan saja."
****
Eil langsung melajukan mobilnya ke arah rumah sakit tempat dia bekerja. Kalau memang dia belum bisa mencari informasi tentang Belle di luar , dia akan mencarinya di rumah sakit.
Eil yang kala itu kembali ke penampilan sebelumya terlihat sangat cantik mengenakan dres selutut yang simpel tapi membuatnya terlihat sangat cantik. Rambut yang dia ikat di belakang lehernya membuat penampilannya semakin sederhana tapi tetap membuatnya terlihat elegan.
"Baby!" panggil seseorang dari belakangnya. Eil menoleh. Dia tersenyum sangat lebar.
"Apa yang kau lakukan si sini Nathan?" tanya Eileria. Dia mengecup bibir Nathan sekilas setelah laki-laki itu menarik pinggangnya dan membawanya ke dalam pelukan.
"Aku sangat merindukanmu Baby!" Ujar Nathan di samping telinga Eil.
"Aku tahu kau merindukanku Nathan, tapi tidak seharusnya kita bertemu di sini. Aku sudah bilang kalau kita tidak bisa bertemu dengan leluasa. Aku takut orang-orang yang membenciku akan menyeret mu ke dalam maslaah."
"Aku sangat merindukanmu Baby. Tidak bisakah kau kembali pulang?" tanya Nathan yang sudah menjauhkan tubuh Eil. Dia menatap istri kecilnya itu dengan tatapan yang haus akan kerinduan.
Eil tersenyum. Dia kembali menarik wajah Nathan dan mengecup bibirnya cukup lama.
"Aku berjanji aku tidak akan lama. Setelah masalah ini selesai , aku akan kembali pulang. Kita akan berkumpul lagi seperti dulu. Aku kanji."
Nathan mengangguk. Dia mengecup bibir Eil sekilas lalu mengusap kepalanya lembut.
"Jangan sampai kau kenapa-napa. Aku akan selalu ada untuk menunggumu. Jaga dirimu baik-baik!"
Eil mengangguk dia melepas tangan Nathan yang masih memegang tangannya. Sebuah senyuman manis dia berikan pada Nathan.
"Jaga dirimu baik-baik Nathan! I love u."
"I love u more Baby."
Nathan melepas tangan Eil dengan sangat terpaksa. Meskipun dia masih enggan dan belum melepaskan Eil, dia harus menerima ini. Eil sudah berjanji kalau dia akan menerima permohonan maaf dari Nathan jika Nathan mau menerima setiap peraturannya. Termasuk Nathan yang harus menerima kalau hubungan mereka harus tetap seperti ini untuk sementara waktu.
"Aku harap kau akan menepati janjimu Eil. Kau sudah mengatakan kalau kau akan berhenti dari dunia gelap mu. Semoga kau bisa menepati janji itu."
Sementara Nathan pergi keluar dari basement rumah sakit, Eil masuk ke dalam gedung rumah sakit dengan suasana hati yang bagus. Dia tadi berpikir kalau harinya akan sangat buruk akibat mood nya yang berantakan setelah bertemu dengan Dragon. Tapi ternyata dia salah. Karena kehadiran Nathan yang tiba-tiba. Suasana hatinya kembali membaik.
"Eil!" panggil seseorang dari arah belakang.
"Daniel," ucap Eil.
Dia menunggu Daniel yang sedang berjalan ke arahnya. Laki-laki tersenyum seolah apa yang selalu dia tunggu tiba-tiba ada di hadapannya.
"Kau sudah kembali Eil?" tanya Daniel .
"Heum, aku tidak bisa libur terlalu lama Daniel. Pasien ku membutuhkan ku."
Daniel mengangguk. Dia memperlambat langkahnya supaya dia bisa menyamai langkah kaki Eil.
"Daniel!" panggil Eil kepada laki-laki yang sedang berjalan di sampingnya.
"Eum, ada apa?" tanya Daniel menoleh.
"Ada yang ingin aku tanyakan padamu."
...To Be Continued....