The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Rencana Amber



Hari terus berlanjut. Ini sudah seminggu sejak Amber keluar dari rumah sakit. Dan malam ini, dia beserta seluruh keluarganya akan menghadiri pesta pernikahan Sulli dengan Jerome. Pasangan itu memang selalu penuh kejutan. Mereka menyebarkan undangan tepat 3 hari sebelum resepsi pernikahan mereka akan dilakukan.


"Alard Sayang! Apa semuanya sudah siap?" tanya Amber pada bocah kecil yang saat ini sedang kesulitan mengenakan dasi kupu-kupu yang sejak tadi dia ubek-ubek dengan jemari mungilnya.


"Mommy, kenapa ini sulit sekali?" tanya Alard kepada Amber.


Amber tersenyum lalu berjalan mendekati Alard, dia berjongkok kemudian membantu Alard untuk memakaikan dasinya.


"Kenapa tidak bilang dari tadi kalau Alard kesulitan, Mommy kan jadi tidak tahu."


Lukas yang baru saja turun dari lantai atas menyaksikan apa yang sedang Alard dan Amber lakukan. Dia menunduk melihat dasi yang sudah melingkar rapih di lehernya. Karena dia ingin meniru apa yang Alard lakukan, dia melepaskan kembali simpul dasi yang telah dia buat sejak tadi.


"Tolong pakaian ini juga," ucap Lukas menyodorkan dasinya membuat kain persegi panjang itu menjuntai di depan mata Amber. Amber memejamkan matanya lalu menghembuskan napas berat.


Amber mengambil dasi itu namun tidak menghiraukan Lukas sama sekali. Dia diam, bahkan matanya terus menghindar dari tatapan mata Lukas yang sejak seminggu ini selalu on seperti sebuah CCTV yang sengaja di tugaskan untuk mengawasinya.


"Kau sangat cantik Amber!" puji Lukas di depan wajah istrinya.


Amber tidak menjawab. Dia diam seribu bahasa. Tangan mungilnya dengan telaten menyimpulkan dasi itu sampai dasinya kembali rapih seperti sedia kala.


Lukas merasa kecewa ketika Amber tidak menghiraukannya. Sudah satu minggu dia mencoba untuk lebih dekat dengan Amber, namun semua yang dia lakukan sia-sia. Amber masih tetap sama. Dia masih dingin dan sangat cuek. Lukas sempat ingin menyerah untuk mendapatkan hati Amber kembali, namun egonya tidak membiarkan dia melakukan hal itu.


"Ayah! Kau sudah siap?" tanya Amber membetulkan posisi dasi yang dikenakan Darius tanpa Darius minta. Alard menjulurkan lidahnya kepada Lukas saat dia melihat ekspresi kecewa di wajah ayahnya.


"Lasakan Daddy, sekalang Daddy melasakan apa yang Mommy lasakan dulu." Alard berbicara tanpa suara. Lukas semakin di buat panas. Dia mengusap dadanya lalu berkata "Sabar!"


"Semuanya sudah siap. Kita berangkat sekarang ya" Amber menggandeng lengan Darius lalu mengambil lengan Alard dan menuntunnya untuk segera keluar dari dalam rumah itu.


Lukas menggelengkan kepalanya. Dia benar-benar harus ekstra sabar menghadapi Amber yang dingin melebihi dinginnya bongkahan es di Antartika.


Darius, Alard dan AAmbe hendak masuk ke mobil Darius, di sana sudah ada sopir yang kini sedang membukakan pintu untuk mereka. Namun ketika Amber ingin masuk , tiba-tiba Lukas datang dan menyerobot masuk lebih dulu.


Semua orang di buat terheran-heran melihat kelakuan Lukas yang semakin hari semakin bertingkah seperti anak remaja yang masih sangat labil. Dia lebih sering mencari perhatian dan ya ketika di meja makan pun dia sering menyerobot antrian piring antara dia, Darius dan Alard.


"Daddy, Daddy kan punya mobil sendili. Kenapa ikut mobil Kakek? Sempit Daddy!"


Lukas tidak mengindahkan ocehan anaknya. Dia malah duduk dengan santai sambil menyilangkan kedua kakinya.


"Sudahlah! Kakek akan duduk di depan. Kalian bertiga boleh duduk di belakang."


Mau tidak mau Amber menurut. Dia menaikan Alard lebih dulu, lalu dia naik setelahnya.


Susana di dalam mobil itu sangat hening. Apalagi Amber sejak tadi hanya menatap keluar jendela karena takut beradu pandang dengan Lukas. Dia sudah mati-matian membentengi hatinya supaya dia tidak kembali luluh oleh laki-laki yang pernah sangat dia cintai itu. Sebenarnya bukan pernah, karena pada kenyataannya Amber masih mencintai Lukas. Dia hanya sedang menguji kesabaran laki-laki itu. Kalau Lukas bisa melewati ujian yang Amber berikan, mungkin Amber akan mempertimbangkan untuk memberikan kesempatan pada Lukas.


"Ada apa Sayang? Kau ingin minum?" tanya Amber merasa khawatir pada putra sulungnya. Ya, Alard adalah anak pertama untuk Amber, sedangkan bayi yang belum sempat dia lahirkan adalah anak kedua.


"Tidak Mommy, susana di sini sangat sepi. Alad hanya belsuala supaya di dalam mobil ini tidak sepelti di kubulan."


Darius dan pak sopir tersenyum. Alard selalu menjadi penghangat dalam keluarga. Bocah kecil itu selalu berusaha untuk bisa mencairkan suasana supaya tidak tegang.


Tiga puluh menit kemudian, mereka akhirnya sampai di depan sebuah gedung mewah yang malam itu terlihat sangat ramai. Mereka semua turun dari mobil. Mata Amber berbinar melihat kilauan lampu yang membuat susana malam itu terasa sangat meriah.


"Ayah!" panggil seseorang dari belakang Darius. Orang yang di panggil ayah itu menoleh. Dia tersenyum ketika melihat Eil, datang bersama dengan Nathan dan Bara.


"Sayang, kau juga baru datang, Ayah pikir kau sudah datang sejak tadi."


"Tidak Ayah, mereka berdua selalu berkelahi. Aku sangat repot karena harus melerai perkelahian mereka."


Darius terkekeh. "Ya sudah, kalau begitu kita langsung masuk saja. Kasihan Sulli dan Jerome, mereka pasti sudah menunggu lama."


Semua orang akhirnya masuk ke dalam gedung mewah itu, tak terkecuali Bara. Dia mengikuti Nathan dan Eil meskipun dia masih sangat kesal kepada Nathan. Bagaimana bisa Nathan melarangnya untuk memilihkan dress yang akan di kenakan oleh Eil. Namun dia sangat senang karena ternyata Eil lebih memilih untuk tidak mengambil dress recomedasi dari dia maupun dari Nathan, jadi semuanya terasa lebih adil bagi Bara.


"Kak Bara, kau terlihat sangat tampan malam ini," ucap Amber dengan sengaja mengeraskan kata tampan di dekat Lukas. Hatinya bersorak gembira melihat raut tidak suka di wajah suaminya.


Bara tersenyum. "Kau juga sangat cantik Amber, dress yang kau kenakan sangat cantik. Kau terlihat sangat mempesona. Orang-orang pasti akan berpikir kalau kau masih lajang."


Lukas mengepalkan kedua tangannya. Amarahnya sudah memuncak sampai ke ubun-ubun. Ingin rasanya Lukas merobek mulut Bara yang telah dengan sangat kurang ajar memuji kecantikan istrinya. Baru juga akan menarik lengan Amber, Amber sudah lebih dulu berlari menemui Jerome yang sedang berdiri di dekat altar.


Lukas menggenggam tangannya sendiri. Hari ini dia sudah berkali-kali di buat kecewa oleh Amber, tapi tidak apa, dia masih punya banyak kesempatan. Dia akan berusaha lebih keras dan akan lebih memperhatikan Amber.


"Aku tidak akan pernah kalah oleh bajingan seperti Bara Amber."


Amber tersenyum ketika berlari mendekati Jerome. Dia memeluk kakaknya penuh haru. "Selamat ya Kak! Sekarang kau sudah tidak jomblo lagi."


Jerome mengangguk. Saat dia sedang asik memeluk Amber, tiba-tiba saja seseorang yang bertugas untuk mengatur jalannya acara mengumumkan kalau pengantin wanita akan segera memasuki aula.


Dengan perlahan pintu aula yang sangat tinggi itu mulai terbuka. Sulli muncul dengan anggunnya. Dia sangat cantik dengan riasan minimalis yang membuat mata setiap orang tertuju padanya.


...To Be Continued....



Neng Sulli gaes ...