
"Apa maksud mu Dragon? kau bilang kita tidak bisa mengusik Bara? kenapa? ada apa Dengan Bara? kenapa kau sangat takut padanya? kau tidak merencanakan sesuatu di belakang ku bukan?" teriak Eil pada Dragon. Sebenarnya apa yang sedang di pikirkan Dragon. Kenapa dia menolak melakukan misi untuk mulai mengusik Bara?
"Jangan gegabah Eil. Salah langkah sedikit saja organisasi kita akan hancur. Apa yang akan kita laporkan pada orang-orang yang ada di atas kita? kita juga hanya bekerja untuk mereka, mau tidak mau kita harus menurut dan mengikuti apa yang mereka rencanakan."
Eil menghela nafas berat. Percuma saja dia ngeyel. Kalau Dragon sudah bilang tidak, apapun yang Eil lakukan tidak akan membuat Dragon merubah keputusan nya.
"Lalu apa yang ingin kau lakukan ? apa aku harus terus menunggu di serang? bahkan Belle sudah meminta anak buah dari ayahnya untuk mempersiapkan serangan lain untuk ku. Dan kau tahu? kali ini semuanya tidak akan mudah karena mereka sudah tahu kalau kita tidak bisa di remehkan. Mereka akan semakin hati-hati."
Dragon menatap Eil tajam. "Bukankah kau sudah meminta Bara untuk membunuh Ayahnya Belle? kau tenang saja. Bara pasti akan melakukan apa yang kau minta padanya. Dia itu sangat menggilai mu Eil. Apapun yang kau minta darinya, dia pasti akan mengabulkannya. Percaya padaku."
Eil memutar bola matanya malas. Dia sebenarnya tidak sungguh-sungguh ketika meminta Bara untuk membunuh Ayahnya Belle, dia hanya mencari alasan supaya dia bisa bertemu dengan Bara. Tapi kalau Bara memang mau membunuh Ayahnya Belle untuknya, Eil harus senang akan hal itu.
"Baiklah, aku harap orang-orang di atas mu bisa memberikan izin supaya kita bisa mulai bergerak. Aku tidak ingin membuang-buang waktu lebih lama lagi Dragon."
Bara melihat punggung Eil yang sudah mulai menjauh dari hadapannya. Dia ragu untuk membicarakan ini pada Eil. Dragon sudah tahu kalau Bara memiliki sebuah perkebunan bunga narkotika. Tapi dia belum bisa mengatakan apa-apa pada Eil karena dia belum mendapatkan informasi yang akurat mengenai maslah ini.
"Aku melakukan ini untuk melindungi mu Eil. Kau sudah seperti putriku sendiri. Aku tidak ingin kau terluka karena terlalu gegabah."
****
"Awas saja kau Bara! aku tidak akan membiarkan mu hidup tenang. Aku tahu semua kebusukan mu. Dragon pikir aku tidak tahu kalau kau memiliki ladang bunga narkotika? hanya tinggal selangkah lagi. Selangkah lagi maka kau akan habis di tanganku."
Eil melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Dia sengaja menemui Dragon pagi-pagi supaya nanti dia bisa beraktivitas dengan tenang. Nathan juga sudah berangkat bekerja, jadi dia sudah bebas berkeliaran kemanapun yang dia mau.
Operasi siang ini berjalan dengan lancar. Meskipun operasi nya cukup lama, tapi semua orang yang ada di meja operasi sudah sangat profesional.
"Eil!" panggil Daniel ketika mereka sudah keluar dari ruang operasi.
"Iya Dr. Daniel, ada apa?" tanya Eil .
"Ini sudah waktunya makan malam, kita juga belum makan siang. Kita makan malam bareng ya!" ajak Daniel.
Eil merogoh jam tangan yang ada di saku baju kerjanya. Masih jam 5 sore, seharusnya dia masih ada waktu untuk makan malam di luar. Lagipula akhir-akhir ini dia malas makan di rumah, dia tidak suka melihat Lily yang selalu mengambil kesempatan untuk mendekati Nathan.
"Baiklah, kita akan makan malam di mana?" tanya Eil.
Daniel tersenyum antusias. "Ada sebuah restoran yang sangat bagus di dekat sini. Kita makan di sana saja ya!" ajak Daniel.
"Aku akan mengambil tas ku dulu!" ucap Eil sambil berlalu meninggalkan Daniel. Daniel pun melakukan apa yang Eil lakukan. Dia pergi ke ruangannya untuk mengambil mantel juga barang-barang yang dia perlukan.
"Mau ke mana kalian," gumam Belle ketika melihat Eil dan Daniel berjalan bersama keluar dari rumah sakit.
Belle mengikuti mereka dari belakang. Setelah berjalan lima menit, akhirnya mereka sampai di depan restoran yang di maksud Daniel tadi.
"Ahhh, jadi kalian mau makan malam bersama ya!" gumam Belle. Perlahan dia ikut masuk dan duduk si meja yang tak jauh dari tempat Eil dan Daniel duduk.
"Mau pesan apa?" tanya Daniel sambil membuka buku menu yang ada di atas meja.
"Hmmm... Aku pesan ini, dan ini saja," ucap Eil.
Setelah memesan makanan mereka, Eil maupun Daniel tidak ada yang berbicara. Entah kenapa suasana di antara keduanya sangat canggung.
"Maafkan aku Eil." Daniel mengangkat tangannya dan berhenti tepat di atas kepala Eil. Eil sedikit terkejut akan hal itu. Dia menatap Daniel penuh tanya.
"Ada nenang di rambutmu." Daniel memperlihatkan sebuah benang yang tadi dia ambil dari rambut Eil.
Eil mengangguk paham. Dia pikir Daniel mau apa. Ternyata dia hanya ingin membantu Eil saja.
"Terimakasih Daniel," ucap Eil sambil tersenyum hangat. Daniel pun mengangguk.
"Binggo. Aku mendapatkan poto kalian berdua. Kalian tidak akan selamat..Nathan pasti akan mengamuk nanti."
Setelah mengucapkan itu, Belle terlihat berkutat dengan ponselnya. Dia mengetikan jari-jari nya di atas ponsel itu.
"Mampus kau Eil. Aku sudah mengirim poto mu kepada Nathan. Dia pasti akan sangat marah.
Drtzzzzz... Drtzzzzz...
Eil melihat layar ponselnya yang ada di atas meja. Nama Nathan jelas terpang-pang di layar ponsel itu. Dengan malas Eil mengambil ponselnya. Entah kenapa dia masih sangat emosi pada Nathan. Eil ingin Lily segera pergi dari kediaman mereka. Tapi entah di sengaja atau tidak, selalu saja ada alasan kenapa wanita itu tidak jadi pulang ke negaranya.
"Halo Nathan!"
"Kau sedang di mana Baby?" Nathan langsung to the point pada apa yang memang ingin dia ketahui.
"Aku sedang makan malam."
"Dengan siapa?"
"Dengan teman ku. Sudah dulu ya! makanan yang aku pesan sudah datang. Nanti kita mengobrol lagi kalau kau sudah pulang."
Tut...
Eil menutup sambungan teleponnya.
Daniel memperhatikan Eil sejak tadi. Dia hanya sedang berpikir, kenapa sikap Eil sangat dingin pada Nathan, Eil terlihat sangat ogah-ogahan. Dan lagi, kenapa dia harus berbohong kepada Nathan. Bahkan makanan mereka pun belum datang.
"Apa kau baik-baik saja Eil?" tanya Daniel.
Eil tersenyum. "Aku baik-baik saja Daniel. Kau tidak perlu khawatir."
Daniel mengangguk. Dia tahu dia bukan siapa-siapa, karena itu juga dia tidak ada hak untuk mengorek susana hati Eil lebih dalam lagi. Kalau Eil bilang dia tidak apa-apa, Daniel akan mempercayainya.
"Dasar wanita bodoh. Dia bahakan berbohong pada Nathan. Lihat saja! setelah ini aku yakin kalau hubungan kalian tidak akan baik-baik saja."
...To Be Continued....